06 Oktober 2010

Pemimpi Besar

Sore itu, ada sesuatu yang berbeda pada diri suaminya. Sang suami tetap pulang di sore hari, menjelang Maghrib. Tetap dengan mengayuh sepeda kesayangannya. Tetap dengan oleh-oleh bahan makanan untuk esok hari. Bedanya, sang suami membawa standar sepeda motor. Motor tidak punya, kok bawa suku cadang sepeda motor?

Seperti biasa, disongsongnya kehadiran sang suami. Sambil memasuki rumah, ia menanyakan, untuk apa standar sepeda motor dibawa ke rumah padahal mereka tidak punya sepeda motor?

Sambil menikmati pisang goreng dan kopi hangat, sang suami menjawab pertanyaan istrinya. Seorang tukang loak membawa barang itu, dan langsung dibelinya dengan harga murah. ‘Sekarang kita hanya punya standar sepeda motor. Suatu saat, insya Allah kita bisa beli sepeda motornya!’ Sang istri hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban suaminya.

Dua tahun berselang dari pembicaraan itu. Di sore hari, sang suami pulang lebih cepat. Kali ini ada perubahan besar. Ia tidak lagi mengayuh sepeda kesayangannya. Sang suami pulang dengan sebuah sepeda motor. Suara knalpotnya sudah agak bocor, walau tidak sampai memekakkan telinga orang yang mendengarnya.

Tidak ada yang perlu ditanyakan. Sang suami telah membuktikan impiannya dua tahun lalu. Waktu yang relatif singkat mengingat pekerjaannya adalah pedagang kambing di pasar hewan Tanah Abang. Standar sepeda motor, adalah pancingan untuk impian ‘besar’ nya memiliki sepeda motor.

Kejadian seperti ini bukan hanya sekali. Kejadian seperti ini terjadi berulang-ulang dalam kehidupan rumah tangga mereka. Mulai dari membeli kaca spion sebelum memiliki mobil. Menyimpan toga sebelum anak-anaknya diwisuda jadi sarjana.

Tokoh suami yang saya ceritakan di atas, adalah ayah saya. Saya mendengar cerita itu dari sang istri, sekaligus ibu saya, lebih dari empat puluh tahun kemudian. Dan saya belajar soal mimpi, soal dream dan visualisasi, dari orang lain. Segala sesuatu tercipta dua kali. Pertama dalam alam pikiran. Kedua dalam kenyataan.

Kalau saja saya tahu cerita ini sejak kecil ...

(Sudah dimuat di harian Semarang, hari Sabtu 2 Desember 2010, Rubrik Inspirasi/wi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar