Tampilkan postingan dengan label Konsultasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konsultasi. Tampilkan semua postingan

13 Agustus 2011

Rumah Petak 2 Blok

Assalamualikum ustadz,

saya punya lahan berukuran 10X36 meter disisi selatan dengan lebar 10meter yang menghadap jalan. disisi barat,timur dan utara sudah ada rumah tinggal. Saya berharap lahan ini bisa dibuat 2 blok sisi barat dan timur (jika itu memungkinkan).

Di dalam rumah tersebut diharapkan ada ruang tamu, ruang tidur, dapur,ruang keluarga, dan kalau memungkinkan ada tempat jemuran.

Kemudian apakah pa ustadz punya solusi mengenai pembuangan air kotor dan tinjanya? yang mana gorong2 jalan belum tersedia di wilayah kami.

Demikian pertanyaan ini mudah-mudahan Bpk ustadz diberri kemudahan oleh Allah SWT. amien.

03 Agustus 2011

Minimalis Modern di Tanah Seluas 6 x 15 m

Assalaamu'alaikum wr. wb.

Saya memiliki tanah 90 m2 (6x15), untuk membangun rumah baru dengan 2 Kamar Tidur, 1 carport, ruang tamu, dan memiliki 2 pintu didepan ?. mohon untuk dijelaskan. terima kasih.

wassalau'alaikum wr. wb.

eddie

eddie

Jawaban

Assalaamu'alaikum wrwb

Netters sekalian, sebenarnya saya ingin mengudara di awal ramadhan. Namun karena tagihan internet tertunda, maka jaringan terputus. Hingga baru bisa on line pada puasa hari kedua. Setelah dapat dana segar untuk menutup operasional kami.

23 Juli 2010

Menuju Pernikahan

Assalamu'alaikum

Saya seorang wanita yang akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat ini. Umur saya sekarang 27 tahun dan calon saya 30 tahun. Namun yang jadi masalah saya mau menerima lamaran dia bukan karena cinta atau sayang kepadanya melainkan karena saya dijodohkan oleh orang tua saya dengannya. Dan untuk menghormati orang tua, saya mau menerima lamarannya. Dan saya melihat juga bahwa calon saya cukup baik untuk dijadikan pendamping hidup (mapan).

Sebenarnya saat ini saya berpacaran dengan seseorang laki-laki berumur 28 tahun dan saya sangat mencintainya. Hampir setahun saya berpacaran dengannya. Namun ketika saya mengajaknya untuk menikah, pacar saya ini selalu mengelak dengan alasan bahwa ia masih belum mapan. Dan setelah mengetahui saya akan menikah dengan orang lain, pacar saya memutuskan saya. Dan sudah tiak mau berhubungan dengan saya lagi. Saya sebenarnya kecewa dengan pacar saya. Namun sebenarnya saya masih berharap sebelum saya menikah dengan calon saya ini, bila pacar saya ini mengajak saya menikah, maka saya akan menerima ajakannya dan memutuskan lamaran dengan calon saya ini.

1. Bagaimana yang harus saya lakukan bila saya melanjutkan ke jenjang pernikahan dengan calon saya, saya takut tidak dapat membahagiakannya. Karena harus saya akui, sampai saat ini saya masih sangat mencintai pacar saya. Dan yang saya takutkan, pada saat saya dan calon berhubungan 'suami istri', saya tidak dapat melakukannya karena sampai saat ini saya tidak ada rasa dengan calon saya?

2. Calon saya ini mengetahui bahwa sebelum saya dilamarnya, saya berpacaran dengan pacar saya. Dan calon saya meminta saya untuk sama sekali tidak berhubungan dengan pacar saya tersebut karena ia khawatir akan mengganggu persiapan kami. Namun saya sangat sulit untuk melakukan hal itu. Karena sampai saat ini pun saya masih terus untuk berhubungan dengan pacar saya, walaupun pacar saya saat ini sudah tidak mau lagi dengan saya. Apa yang harus saya lakukan untuk menghilangkan rasa ini?

Ana

18 Juli 2010

Megharapkan Keluarga Sakinah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Mohon bantuannya agar ustadzah bisa memberikan masukan atas permasalahan saya ini. Tulisan ini merupakan salah satu ikhtiar saya untuk memperoleh jawaban atas do’a - do’a yang sudah saya panjatkan kepada Allah swt.
Saya seorang pemuda berusia 21 tahun. Sudah sejak 4 tahun lalu saya menjalin hubungan dengan seorang wanita muslimah, tepatnya selepas saya lulus SMA sampai sekarang. Atau lebih umum dikenal dengan pacaran. Pada saat kuliah, saya sering mengikuti kajian – kajian tentang pernikahan, dan segala seluk beluk tentangnya, sampai akhirnya saya benar – benar menyadari bahwa apa yang saya lakukan selama ini adalah sebuah kesalahan.
Saya berencana untuk segera menikahinya setelah saya mapan (mendapat pekerjaan), itu sekitar 2 tahun lagi. Saya sudah mengutarakan kepada ibu saya untuk menikahinya tahun ini, tetapi beliau tidak mengizinkan karena saya masih kuliah. Ustadzah, saya benar – benar khawatir jalan yang sudah kami tempuh ini bukanlah jalan yang akan membawa kami kepada keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah jika kami menikah nanti. Pertanyaan saya, masih dapatkah saya memperoleh keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah jika saya menikah dengannya? karena saya tahu jalan yang sudah kami tempuh ini bukanlah jalan yang syar’i sesuai perintah agama. Saya tidak dapat meninggalkannya, yang saya lakukan sekarang adalah menjaga komunikasi dengannya, sudah tidak ada lagi kata – kata mesra diantara kami sampai saya menikahinya, ini juga salah satu usaha saya, berharap keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah tetap bisa saya dapatkan. Perlu untuk diketahui, walaupun saya sudah lama berpacaran dengannya, namun hubungan fisik yang paling parah yang pernah kami lakukan adalah hanya berpegangan tangan, dan sekarang tidak pernah lagi. karena kami terpisah oleh pulau selama 3 tahun dan hanya bertemu setiap 6 bulan 1x atau setahun 1x.
Terimakasih atas jawaban dari ustadzah. Mohon sekali untuk segera dibalas.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

azhar

17 Juni 2010

Antara Suami Dan Ibu

Assalamu alaikum wr wb...

Semoga pertanyaan saya bukan karena amarah atau kekecewaan, tapi untuk menambah keyakinan dan khzanah ilmu.

Istri saya jarang sekali mau menghargai saya dibanding dengan ibunya, ketika saya tanya hal itu dia berkata kalau ibunya lebih berhak karena ibunya yang melahirkan dia walaupun ucapan saya benar. Jika saya menyarankan sesuatu tetapi tidak sesuai dengan kebiasaan ataupun keinginan ibunya, dia terang-terangan mengabaikan saya.

Istri sayapun sering mengungkit sesuatu yang menurutnya buruk pada keluarga saya. Jika keluarga saya minta pertolongan saya maka segala upaya dia lakukan agar saya tidak melakukannya.

Dalam hal keuangan istri saya berprinsip uang suami harus dipegang istri saya semua, dan saat ini saya jarang sedekah harta karena saya jarang memiliki uang, bahkan ketika laparpun terkadang saya harus meminjam uang teman.

Istri saya begitu menghargai ibunya walaupun ibunya jauh dari kehidupan islam dan sering melakukan hal musyrik bahkan tak jarang menyakiti istri saya. Bahkan ketika mereka bertengkar, istri saya langsung sholat dan mengaji.... Tapi hal itu tidak berlaku bagi saya. Jika dia ribut sama saya, sholat pun tak mau dilakukan.

Perlu diketahui perilaku ibu mertuapun sama demikian adanya....

Semoga ini bukan kemarahan saya.

Wassalaam


16 Juni 2010

Single vs Duda

Assalamu'alaikum bu Urba.

Saya wanita berusia 28thn yang insya Allah sudah mempunyai calon pendamping hidup pilihan saya sendiri. Lelaki ini adalah seorang duda yang istrinya meninggal saat melahirkan putri pertama mereka 14 bulan yang lalu. Usia kedekatan kami memang baru 6 bulan, namun dari kami berdua sudah ada niat untuk melanjutkan hubungan kami ke jenjang pernikahan. Alhamdulillah dari kedua keluarga besar kami mendukung niat kami ini, namun dari ibu kandung saya menolak dengan keras jika saya menikah dengan calon pendamping hidup pilihan saya ini.

Saat pertama kali lelaki ini datang ke rumah saya dan bertemu ibu saya, ibu saya bersikap sangat baik kepadanya meski tau dia adalah seorang duda. Bahkan kami sekeluarga sangat heran saat ibu saya memperlakukan calon saya ini dengan sangat baik di hadapan kami semua (dia diundang untuk datang ke acara berbuka puasa di keluarga ibu saya). Selain memperkenalkan dia sebagai teman saya dan menjamu calon saya dengan sangat baik, ibu saya juga meminta calon saya untuk menjadi imam untuk shalat magrib di hadapan semua anggota keluarga (mungkin karena saya dan dia sudah beberapa kali shalat magrib berjamaan dan ibu saya tau bacaan shalatnya memang bagus).

Pertimbangan saya di awal saya memutuskan untuk mulai menjalin hubungan dengan lelaki ini adalah karena agamanya yang jauh lebih baik dari saya dan kebiasaannya untuk melakukan shalat berjamaah (hal yang hampir tidak pernah saya rasakan bersama kedua orang tua saya sendiri). Background pendidikan, pekerjaan, dan keluarga calon saya ini pun juga baik, kalau kata orang-orang tua, bebet bibit bobotnya baik.

Namun setelah saya menyampaikan bahwa hubungan saya dan dia bukan hanya sebatas teman kerja, melainkan hubungan serius dengan tujuan pernikahan (insya Allah), sikap ibu saya langsung berubah drastis. Ibu saya menyampaikan berbagai macam alasan untuk menolak menerima lelaki ini sebagai calon pendamping hidup saya. Mulai dari tidak ada biaya untuk pernikahan sampai kepada ketakutan ibu saya jika anak dari calon saya nantinya memperlakukan saya dengan tidak baik seperti yang ada di cerita sinetron. Saya sudah menjelaskan kepada ibu saya bahwa saya tidak ada masalah jika harus membiayai pernikahan/resepsi kami tanpa bantuan dana dari kedua orang tua karena resepsi itu tidak harus diadakan secara mewah. Saya juga menjelaskan bahwa status duda yang disandangnya karena dipisahkan oleh maut, yang mana ini adalah kehendak Allah, bukan cerai dunia. Dan mengenai permasalahan bagaimana anak itu akan memperlakukan saya kelak, itu bergantung dari cara kami berdua mendidiknya. Namun ibu saya tetap keukeh menolak jika saya dengan lelaki ini karena statusnya yang duda dan punya anak.

Saudara2 ibu dan saudara2 ayah saya sudah membantu untuk melunakkan hati ibu saya, tapi ibu saya tetap tidak bergeming. Bahkan ayah saya yang notabene adalah kepala keluarga pun tak dapat melunakkan hati ibu saya. Sebagai informasi buat ibu, ini bukan kejadian pertama kalinya ibu saya berubah menjadi defensif setelah mengetahui bahwa kedekatan saya dengan seseorang adalah untuk niat menikah. Saya merasa ibu saya belum siap jika saya menikah, apalagi dengan seorang duda.

Yang ingin saya tanyakan, apakah salah jika kesesuaian lahir batin saya jatuh pada lelaki berstatuskan duda, bukan pada pada orang yang juga sama2 single? Apa yang sebaiknya kami lakukan untuk melunakkan dan meyakinkan ibu saya agar beliau mau menerima lelaki ini sebagai calon pendamping hidup saya? Terimakasih atas masukan dari bu Urba.


12 Juni 2010

Suamiku mau nikah lagi

Ibu, saya seorang isteri berusia 37 tahun, punya 2 anak, 9 thn & 4 thn sudah berkahwin selama 11 dan sudah mengenali suami selama 18 tahun. Suami saya punya hubungan dng perempuan Filipina hampir setahun. Mrk berkenalan di bar - dia bekas pelayan di bar. Sekarang suami sudah carikan perkerjaan baru untuknya - sbg administrasi. Dia sudah memeluk Islam. Saya coba menyuruh perempuan itu hentikan hubungan dgn suami dia ngak mau. Suami jugak ngak mau lepaskan dia. Saya minta dilepaskan sebab saya ngak boleh berpoligami. Dia tidak setuju juga kerna katanya dia masih sayang sama saya. Suami minta izin nikah sama perempuan itu saya tidak beri izin.

Suami berkata dia boleh berlaku adil. malah sekarang dia menunjukkan lebih kasih sayang dan perhatian pada saya. tapi saya rasa seperti pura-pura kerna dia ingin memenangi hati saya supaya terima di poligami. Saya amat sayangkan suami saya, tapi bagaimana hati ini boleh terima?

Dia sudah tinggalkan solat dan saya baru diberitahu yg dia juga minum. Tiap malam saya bermunajat pada Allah (semenjak saya tahu bulan Januari 2010). Hampir semua permintaan saya di makbul kecuali supaya hati suami berubah untuk melupakan perempuan itu. Adakah saya masih berharap dan terus berdoa untuk tidak melalui poligami? Atau sekarang redha yg ini ketentuan Allah? Saya amat sedih (depresi) sekarang ini. Bagaimana saya boleh percaya suami tidak akan melebihi perempuan itu dari saya?

02 Mei 2010

Kiat Menabung Bagi yang Berpenghasilan Pas-Pasan

Kiat Menabung Bagi Penghasilan Pas-Pasan

Sudah lazim bagi kita yang selalu merasa heran kenapa selalu saja susah menyisihkan sebagian dari penghasilan/gaji kita untuk ditabung. Selalu saja uang hasil gaji/penghasilan ludes di tengah jalan, hilang tanpa bekas di dompet atau rekening bank.

Sudah maklum bahwa para penasehat keuangan pribadi selalu menyarankan agar kita selalu rutin menyisihkan paling tidak 10% dari penghasilan untuk ditabung. Begitu pula buku klasik The Richest Man in The Babylon telah memberikan contoh yang sungguh jelas tentang penting dan bermanfaatnya untuk selalu disiplin dalam menabung sebanyak 10% tersebut.

25 April 2010

Usaha Sampingan Seorang Guru

Assalamu 'alaikum ww.

salam sukses

saya (35 Th) seorang kasek sebuah sd swasta yang aktifitas dari 06.30 s.d 15.00 wib. kecuali jum'at dan sabtu setengah hari. sehubungan kebutuhan hidup dengan anak mulai besar (3 anak). saya tinggal diperumahan yang dekat pasar kecil..kira2 usaha sampingan apa yang bisa saya lakukan agar tidak mengganggu aktifitas pokok saya. mohon jawabaannya. terima kasih..

wassalamu'alaikum ww.

abu najwa

Antara Ana, Antum dan Pilihan Ibunya

Antara Aku, Dia dan Pilihan Ibunya



Assalamualaikum, Wr.Wb

Ibu Siti yang terhormat,

Saat ini saya (22 tahun, anak ke-2 dari 4 bersaudara), dan saya yakin sedang diuji oleh Allah SWT dengan tantangan dan pilihan hidup yang cukup membuat saya bimbang serta gelisah.

Singkat cerita 3 bulan lalu saya berkenalan dengan seorang akhwat (23 tahun, anak bungsu) dan selama itu pula saya suka berkomunikasi dengannya dan kamipun akhirnya bertemu dengan maksud agar saling kenal satu sama lain. Selama itu pula kami merasakan sikap saling perhatian satu sama lain, dan kamipun menaruh hati satu sama lain hingga saya meyakini bahwa akhwat ini adalah calon pendamping yang Allah ciptakan untuk saya, dan akhirnya pun saya berkomitmen ingin menjadikan dia sebagai pendamping hidup tuk yang pertama dan terakhir saya, tentunya setelah kami siap segalanya dengan meningkatkan iman dan takwa kepada Allah lebih dahulu agar pondasi rumahtangga kami kokoh.

Akan tetapi dia ragu menerima komitmen dari saya karena sebelumnya dia pernah proses dengan seorang ikhwan tetapi entah kenapa sampai sekarang status hubungannya digantung seakan-akan ikhwan itu menunda-nunda, dia sebenarnya sudah melupakan ikhwan itu tetapi ikhwan ini sudah sangat dekat dengan ibunya, sehingga ibunya melarang dia untuk menentukan pilihan sendiri calon pendampingnya.

Ibunya pun suka melarangnya jika dia bicara menyinggung bahwa dia bermaksud untuk mencari ikhwan pilihan dia sendiri, singkat cerita akhirnya hubungan kamipun diketahui oleh ibunya lewat SMS yang saya kirim ke akhwat tersebut, ibunya pun (interogasi) menelpon saya untuk mengetahui nama dan domisili serta kerja saya dimana. Setelah kejadian itu dia memutuskan hubungan itu dengan alasan bahwa dia sudah tidak sanggup lagi jika dia mendapat tekanan oleh ibunya, dan dia pun memilih untuk melepas saya daripada hubungan dengan ibunya menjadi renggang.

1. Menurut pendapat ibu apa yang saya lakukan untuk saat ini? (Jujur saya belum bisa melepas dan melupakan dia, dan saya sudah bertekad tuk memilih dia sebagai calon pendamping suatu saat nanti, tetapi prinsip yang saya pegang apapun yang terjadi saya serahkan pada Allah sang pemilik segalanya dengan shalat istikharah, sholat QL, dan berdoa tuk mendapatkan petunjuk-Nya).
2. Apa yang harus saya lakukan agar ibunya dapat membuka pintu hatinya untuk merestui hubungan kami? (selama 3 bulan itu hubungan kami pun sembunyi-sembunyi tidak ada keluarga kami yang tahu)

Jazakallah khairan katsiraan,

wassalam,

11 April 2010

Konflik Ibu dengan Saudara Kandung Bapak

Assalamu'alaikum wr wb ustadzah

Dulu hubungan kami dengan kluarga bapak (paman, bibi, sepupu saya) aman dan harmonis waktu bapak kena tipu, adik-adik bapak pada menjauhi bapak. Ini salah satu penyebab ibu merasa terluka waktu bapak karir bagus dan alhamdulillah bisa dibilang sukses, adik-adik bapak pada mendekati lantaran dipandang bapak punya banyak uang tiap bertemu dengan bapak bicaranya tentang uang, dan ujungnya minta uang tanpa rasa malu di depan kami skluarga. Ini penyebab ibu sakit hati.

Dulu saat kami berkunjung kerumah om dan tante (adik bapak), mereka selalu menyambut dengan ramah. Sekarang mereka fokus mendekati dan bicara hanya ke bapak saja, ini juga penyebab sakit hati ibu.

08 April 2010

Istri dan Orang Tua Tidak Bisa Akur

Assalamualaikum wr wb

Saya Iwan (24),

Yth Ibu Siti Urbayatun

Saya punya masalah keluarga bu, ini biografi nya

Istri saya: Seorang periang, manja, moody, suka ngambek, kadang angkuh egois dan emosinya kelihatan. tetapi dia baik sekali kalo dengan anak kecil

Mertua saya: Orangnya perhatia banget, sabar banget, kadang di suruh anak2 nya nurut aja. Utung istriku tidak suka nyuruh2 ibuya

Ortu saya: Orangnya disiplin, berprinsip tapi penyabar, sayang kepada anak dan ingin anaknya bergelar semua dan ingin dapat menantu yang juga berpendidikan dan tidak mempermasalahkan latar belakang sosial

Masalah I :

Saya dulu perpacaran dengan istri saya selama 3 tahun dan selama saya berpacaran, saya salah cara gaya berpacaran. Pacaran kami terlalu bebas, samapai dulu pacar saya pernah hamil 2 bulan dan akhirnya digugurkan istri saya tanpa sepengetahuan saya. Padahal saya sudah mau bertanggung jawab.

Masalah I.2 :

Ortu saya tidak melarang saya berpacaran dengan siapa saja asal merrid harus lulus kuliah dulu, sedangkan pacar saya belum kuliah. Dan hubungan kami terlalu intim dan saya sudah berjanji untuk bertanggung jawab dan menikahinya 1 tahun lagi.

Masalah I.3 :

Istriku mau menerima tawaranku untuk kuliah dulu. tetapi dia tetap ingin menikah 1 tahun lagi. Kebetulan ayahku menjadi salah satu pegurus kampus dan istriku masuk kuliah di situ. Kampung halamanku jauh sekitar 120 kilo dari rumah. Jadi istriku harus bolak balik setiap minggu bersama saya kebetulan saya kurang 1 tahun lagi lulus di kampus ayah saya.

Masalah I.4 :

Setelah 1 tahun berjalan damai, istri saya ingin merrid karena gak enak juga sama tetangga istriku masak sudah wira wiri ke rumah samai istriku nginep di rumahku kok belum ada kejelasan sama sekali dari keluragaku tentang hubungan kami. Orang tuaku tetap tidak mau silaturrohim kerumah pacar saya sebelum dua duanya selesai kuliah dulu. Karena desakan terus menerus juga dan pacarku juga memaksa gitu, sebenarnya istriku sudah gak kuat dan iklas klo ortuku gak nerima ya udah cukup sampai di sini saja tidak apa2. Tetapi dari hatiku yang paling dalam aku tidak bisa membiarkan semua ini terjadi. Aku yang sudah merusak kesucian pacarku samapai pernah hamil masa harus aku tinggalin begitu saja, rasanya tidak adil, harusnya aku yang menanggung beban semua ini. Lalu aku bicara ke ortu ku baik baik tentang hubungan dengan pacarku sudah terlalu jauh, dan akhirnya ortuku mau silaturrohim ke rumah pacarku

Masalah I.5 :

Setelah sampai di rumah keluarga pacarku, ortu qu tetap ngotot ingin selesai kuliah dulu. kalo memang kami ingin cepat nikah, kedua ortuku mengancam tidak mau mendengar urusan kami selanjutnya lagi baik itu susah atau senang. Tetapi kalo kami nurut mereka mau membantu kalo ada apa2 da untuk biaya kuliah mau menanggung semua. Aku hanya diam dan tidak berani memutuskan karena pasti akan menyakiti salah satu pihak. Seharusnya untuk usrusan seperti ini tidak boleh memberikan piliha menurutku tetapi sebaiknya harus dicari jalan keluarnya. Dalam lubuk hatiku aku merasa kurang pas dengan keputusan ayahku waktu itu.tetapi aku diam saja.

Masalah I.6 :

Setelah Ortuku pulang kampung, Keluarga pacarku setengah mendesak, mungkin juga jengkel dengan sikap ayahku, wong anaknya perempua udah diajak kesana ke sini kok nggak cepet2 di iket (ada ikatan).

Pacarqu marah banget dan ngambek, ingin kabur dari rumah. Akhirya aku putus kan untuk menikahi pacarku tanpa sepengatahuan ortuku, karena aku tidak mau ortuku sakit hati dan terjadi apa2 dg kesehatannya. Pertimbanganku, aku kasihan terhadap pacarku, akan jadi apa kalo kami sampai putus, kalo dia depresi trus malah sesat jalannya harus gimana aku menanggug dosanya.... benar2 dilema saat itu aku. Aku berharap dengan menikah, emosi istriku jadi stabil dan mau menerima kberadaan ortuku apa adanya.

Masalah I.7 :

Setelah menikah, teryata sifat istriku bener2 sulit dirubah, kami sering bertengkar dengan urusan yang tak semestinya harus di ributkan. Saya selalu menunggui saat dia marah dan saya larang keluar kamar sebelum selesai permasalahannya. Benar2 kayak masih kecil. tetapi saya tetap mecoba bersabar dan selalu menasehatinya. Lambat hari istriku sudah mau mulai berubah, tetapi tetap ngambek jika mendengar kata kata ortuku. Menurutku seharusya Istriku mau berusaha mengambil hati ortuku juga dan bila sudah tiba waktuya kami pun siap bicara jujur. Tetapi istriku tidak, dia memang baik diluar selai berhubungan denga ortuku, kayak sudah terpatri dendamya. Gmana menurut Ibu siti saya menyikapinya? Gimana saya menyadarka istri saya bu?

Masalah I.8 :

Otomatis komuikasi antara saya dan Ortu saya pun jadi berkurang. 8 bulan istriku tidak masuk kuliah dan aku tetap menutupiya, da aku jadi jarang masuk kuliah karena alasan sibuk kerja. Ortuku selalu menanyakan kabar pacarku (belum tahu kalo sudah jadi istri). da aku selalu menutupinya dengan masih sibuk dan sekarang sudah bekerja jadi masih repot. Mugkin lama lama bosan juga dengan sifat istriku kedua orang tuaku. Sedangkan mertuaku juga tidak berani banyak bicara ke Istriku, karena tau banget sifat istriku kalo sudah mangkel pasti tidak bisa dibendung. Ya mertua ku kadang mengigatkan aku supaya tetap sabar.

Masalah I.9 :

Kemarin aku telepon kerumah da jawaban ortuku suruh menjauh saja kalo memang tidak bisa diatur.

Harus gimana aku harus menyikapi semua ini Bu?aku tidak ingi keluarga ini pecah belah. Aku sebenarnya ingin jujur, tetapi aku takut jika terjadi dengan ortuku. Andai saja istriku sudah siap menjalai apapu resikonya dan mau menjadi baik juga bagi keluarga besarku, aku pasti tidak akan menunda unda untuk jujur ke ortuku, sudah 8 bulan kami menikah. dan semakin lama, terasa semakin berat atas kebohonganku ke ortu ku. Ya Alloh, bimbinglah aku ke jalan yg engkau ridhoi.

Ibu Siti yth, mungkin ibu bisa memberikan saran yang lebih bagus untuk jalan hidup keluarga kami, saya bener2 mengharap solusi yg sesuai denga ajara agama bu?saya bener2 tidak ingin memilih dan tidak ingin keluarga yang sudah saya bentuk pecah dan tidak ingin menjadi anak durhaka bu..

Dan saya mengharap solusi untuk membuat istri saya lebih sabar dan mengerti bu?

Terima kasih atas perhatiaannnya sebelumnya bu

wassalamualaikum wr wb

02 April 2010

Suami Tidak Mempercayai Nabi Muhammad Dan Tak Mau Merubah Diri

Asslmkm..

saya adalah seorang wanita berumur 23 tahun. sudah 2 tahun menikah dan memiliki 1 anak.saya bekerja sebagai PNS departemen keuangan yang notabene memiliki penghasilan yang lumayan.Suami saya seringkali memukul dan mencela saya.hal kecilpun bisa membuatnya memukul saya jika dia sedang tidak mood.beribadahpun tidak pernah dia lakukan.saya sudah berulangkali mengingatkan dia namun yang dikatakannya adalah "buat apa beribadah, toh saya juga tidak percaya nabi Muhammad. Siapa sih dia Kenapa orang2 begitu agungin dia".saya sudah berusaha membuka pikiran dan wawasan dia tentang nabi Muhammad dan Islam, saya juga mengatakan, kasihan anak kalau dia terus bersikap seperti ini.Namun dia bilang," mau gimana lagi, emang di takdirin kayak gini". Setiap hari kerjaannya hanya tidur2an dan menonton TV. Ketika saya Pulang sore hari, bukan sambutan yang saya dapatkan tapi selalu saja keluhan2 dia yang mengatakan bahwa dia sangat capek. Bukankah seharusnya saya yang merasa capek. Saya harus bekerja seharian, pulang kerja harus mengurus anak juga ( kalo siang anak diasuh pembantu) dan dia selalu mengeluh capek kepada saya. Saya sudah tidak tahu apa yang harus saya lakukan terhadap suami saya...selama ini saya sudah berusaha untuk menerima dia apa adanya, namun dia sepertinya dia tidak menghargai saya.ditambah lagi mertua perempuan saya, selalu menyalahkan saya apabila terjadi hal2 kecil,misalnya suami menjadi sedikit kurus, saya selalu disalahkan.ketika suami memukul saya, mertua juga mengatakan saya yang tidak bisa menjaga suami saya. bahkan beberapa waktu yang lalu, mertua meminta uang pada saya untuk menguliahkan suami saya..saya tidak tau lagi apa yang harus saya lakukan..apa dengan keadaan suami yang seperti itu saya memang harus berpisah dengan dia, mengingat dia sendiri tidak mau mengubah diri dan latar belakang keluarga yang ternyata tidak paham dan tidak mau tau tentang agama?.mohon bantuannya ya bu...sukron...

hamba Allah


Jawaban


31 Maret 2010

Sawah Digadaikan Mertua

Assalamu'alaikum wr. wb.

Satubulan setelah pernikahan kami orang tua suami saya ingin meminjam uang pada kami dengan menggadaikan sawah beliau dan beliau berjanji selama sawah itu digadaikan kepada kami hasil panennya akan dibagi 2. karena kami baru saja menikah dan belum memiliki tabungan keluarga maka pada saat itu yang dipergunakan adalah uang tabungan saya (kebetulan saya bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri) yang diberikan ke mertua. Hal ini diketahui oleh Orang tua saya.

Pada saat ini pernikahan kami sudah memasuki usia 3 tahun, dan sawah tersebut belum ditebus, dan selama masa gadai kami baru 1 kali mendapatkan pembagian hasil panen (tidak ada transparansi) hal ini membuat Orang tua saya marah dan menyuruh saya untuk mendesak mertuaagar menebus sawah tersebut, karena orang tua saya menganggap mereka telah mempermainkan hak saya. jika saya meminta tolong pada sumi untuk menyampaikan hal ini ke orang tuanya, dia juga merasa tidak enak takut orang tuanya tersinggung.

Mohon pencerahannya bagaimana memecahkan maslah ini, agar saya tidak menyakiti Suami, Orang Tua, dan mertua saya.

Wassalam