11 April 2010

Konflik Ibu dengan Saudara Kandung Bapak

Assalamu'alaikum wr wb ustadzah

Dulu hubungan kami dengan kluarga bapak (paman, bibi, sepupu saya) aman dan harmonis waktu bapak kena tipu, adik-adik bapak pada menjauhi bapak. Ini salah satu penyebab ibu merasa terluka waktu bapak karir bagus dan alhamdulillah bisa dibilang sukses, adik-adik bapak pada mendekati lantaran dipandang bapak punya banyak uang tiap bertemu dengan bapak bicaranya tentang uang, dan ujungnya minta uang tanpa rasa malu di depan kami skluarga. Ini penyebab ibu sakit hati.

Dulu saat kami berkunjung kerumah om dan tante (adik bapak), mereka selalu menyambut dengan ramah. Sekarang mereka fokus mendekati dan bicara hanya ke bapak saja, ini juga penyebab sakit hati ibu.

Ada om yang minta uang dengan sdikit mngancam tiap bulannya (om pngangguran), mengancam akan melanggar hukum dan membuat malu keluarga. Karena bapak tidak mau ada problem yang membuat nama keluarganya tercoreng dan menghambat karirnya maka tiap bulan om/adik bapak ditransfer uang dan dibayarin kontrakannya.

Akhirnya hubungan keluarga kami dengan kluarga bapak jadi sangat renggang, mungkin ustadzah ada solusi?

Saya sebagai anak ingin supaya hubungan keluarga kami dan kluarga bapak harmonis lagi seperti dulu. dan supaya ibu saya tidak memendam sakit hatinya berlarut-larut sehingga membuat beliau sakit-sakitan.

jazakumullah khoir

ibu sakit hati
Jawaban

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh

Saudara IAS yang semoga dicintai Allah,

Anda sebagai anak ingin membantu Ibu yang merasa sakit hati dengan sikap keluarga bapak; Anda juga ingin agar terjadi kerukunan dalam keluarga besar Anda, terutama menghadapi tuntutan dari om yang di luar batas. Memang menghadapi problem yang rumit dapat menjadikan individu menjadi sakit-sakitan, wajar jika Anda khawatir terhadap kesehatan Ibu. Ikhtiar Anda sungguh mulia, yakni ingin menjadi anak yang berusaha untuk menenteramkan keluarga, semoga melalui Anda secara bertahap keluarga akan memperoleh kerukunan.

Saudara IAS yang semoga dicintai Allah,

Memang karakter orang bermacam-macam, ya Sdr IAS... ada sementara orang yang bersikap seperti semut yang mau mendekat bila di dekatnya ada gula. Nah.. ketika dalam kecukupan banyak keluarga yang mendekat, untuk dapat mencicipi manisnya gula, namun jika gula sudah habis maka semutpun pergi. Demikianlah kehidupan ini, penuh warna, ada yang baik, ada juga yang sekedar mencari keuntungan...Tetapi sadarilah, saudara Ias, bahwa iman itu selalu berbanding lurus dengan cobaan. Maka keluarga anda sedang dipilih Allah agar keimananya menjadi lebih baik sebab ujian ini.

Saudara IAS yang semoga dicintai Allah,

Adalah manusiawi pula jika ibu anda mengalami tekanan psikologis, apalagi sekarang kondisi ekonomi keluarga tak sebagus dulu dan keluarga besarpun nampak menjauh. Inilah saatnya keimanan diuji dan ini tantangan Anda sebagai anak turut berperan menjadikan keluarga sebagai obyek dakwah, sarana mencari amal sholih. Pertama sekali, lakukan komunikasi pada segenap pihak karena sarana terjadinya ukhuwwah adalah melalui jalinan hubungan yang kondusif. Nah dalam masalah ini, Anda bisa mulai dari Bapak Anda, maka cobalah bicara dari hati ke hati dengan bapak anda, karena ia adalah tokoh sentral dalam masalah ini. Ajaklah agar bapak mau membuat program perbaikan dengan keluarga besarnya. Apa yang dilakukan Bapak selama ini kepada om sungguh mulia, semoga ini menjadi perniagaan yang baik dan simpanan amal Bapak. Insya allah kebaikan Bapak tidak akan lenyap.

Bukankah sedekah yang dianjurkan oleh Rasulullah saw adalah sedekah yang diberikan kepada keluarga terdekat,? Insya Allah sedekah pada keluarga punya nilai lebih dibanding dengan orang lain sehingga akan mendapatkan dua pahala, yaitu pahala sedekah dan pahala menyambung silaturahmi. Namun yang lebih utama adalah agar tidak memberi ikan tapi memberi kail pada keluarganya, dan juga memanfaatkan kesenioran Bapak untuk mengarahkan adik-adiknya, mendekatkan pada nilai-nilai keimanan; dari sanalah perbaikan akhlak dimulai.

Saudara IAS yang semoga dicintai Allah,

Sebagai anak, dekatilah ibu agar menjadi figur yang dapat mendukung kebaikan langkah Bapak dan mengingatkan jika telah menyimpang. Harapannya Ibu dapat mencoba mengikhlaskan apa yang sudah diberikan Bapak kepada keluarga besar; Janganlah Ibu terbiasa memendam perasaannya agar tidak melemahkan fisiknya. Bapak Anda sangat membutuhkan dukungan istri; karena dengan dukungan istri maka akan sangat menentukan perencanaan keluarga ke depan. Hiburlah hati Ibu, agar berjiwa lapang menghadapi sikap yang tidak mengenakkan dari keluarga besar. Bapak pun harus lebih aktif untuk melibatkan ibu dalam mengambil keputusan tentang sedekah ini.

Karena keluarga anda pernah dianggap terpandang oleh mereka, cobalah untuk menjadi pemrakarsa untuk mengadakan kajian keislaman pada pertemuan-pertemuan keluarga..
Sdr IAS, tetaplah menjadi cahaya bagi keluarga anda....dan tetaplah menjadi anak yang sholih yang mendampingi Ibu dan Bapak dalam suka dan duka.
Wallahu a’lam bish-shawab
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Bu Urba

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar