11 April 2010

Diktator Rusia dan Rezim Asia Tengah Berkumpul di Tashkent untuk Memerangi Hizbut Tahrir

Struktur Anti Teroris Regional Shanghai Cooperation Organisastion (SCO) menggelar pertemuan di ibukota Uzbek, Tashkent, pada hari Jumat, membahas upaya peningkatan dalam memerangi terorisme, demikian kepala delegasi Rusia mengatakan. Namun, mereka mengaku pertemuan itu ditujukan untuk memerangi gerakan Islam tanpa kekerasan yang gencar menyerukan penegakkan Khilafah, Hizbut Tahrir. Padahal gerakan ini telah dikenal luas sebagai partai Islam intelektual dan tanpa kekerasan dalam setiap metode perjuangannya.

Pertemuan ini akan berlangsung hanya beberapa hari saja setelah serangan yang menghantam kereta bawah tanah di Moskow dan kota Kizlyar di Kaukasus Utara Rusia republik Dagestan.

Pada hari Senin, ledakan kembar di stasiun Park Kultury dan Lubyanka pada pagi hari yang menewaskan 39 orang dan puluhan luka-luka. Dua ledakan di Kizlyar pada Rabu mengklaim 12 jiwa. Aksi kekerasan ini akhirnya menjadi dalih dan ‘alasan empuk’ bagi rezim setempat untuk memberangus gerakan-gerakan Islam, termasuk para pejuang Khilafah tanpa kekerasan.

Sergei Smirnov mengatakan peserta dalam pertemuan itu akan membicarakan pembentukan kelompok kerja ahli permanen, yang akan mengkoordinasikan upaya bersama oleh anggota SCO ditujukan untuk memerangi organisasi internasional Hizbut Tahrir.

Dia mengatakan, SCO akan membahas bantuan bersama ke Rusia dalam menjamin keamanan selama perayaan hari kemenangan pada tanggal 9 Mei. Kerjasama dengan regional lainnya dan organisasi internasional bertanggungjawab untuk memerangi terorisme dan ekstrimisme juga diharapkan akan dibahas, kata Smirnov.

Organisasi Kerjasama Shanghai terdiri dari Rusia, Cina, dan republik-republik bekas-Soviet Uzbekistan, Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Tadzhikistan.

Uzbekistan tempat berlangsung pertemuan tersebut telah dikenal rezimnya yang korup dan sangat aktif memerangi kaum Muslim. Di bawah kepemimpinan Yahudi Karimov, mereka tak segan-segan melakukan aksi teror terhadap kaum Muslim bahkan membunuhnya.

Tragedi Andijan, Mei 2005 lalu tak bisa terlupakan. Saat itu, ribuan kaum Muslim dibantai di bawah moncong senjata Karimov yang dibantu oleh tentara Rusia. Kebanyakan dari para korban itu adalah anggota dan para pendukung Khilafah dan Hizbut Tahrir.

Negara-negara di Asia Tengah benar-benar tak mampu menghadapi debat intelektual yang senantiasa diserukan oleh kelompok Hizbut Tahrir. Rezim korup negara-negara bekas Soviet tersebut di bawah baju “perang melawan terorisme” terus menerus melakukan penangkapan terhadap para pengemban dakwah yang ikhlas bekerja untuk memberikan solusi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Hal itu terus menerus terjadi hingga hari ini.

Bila kaum Muslim di Asia Tengah terus menerus diuji keimanannya dengan adanya perlawanan atas dakwah berupa penganiayaan, propaganda busuk dan pemboikotan, lalu atas alasan apa kaum Muslim di negeri Muslim terbesar di dunia ini malah berdiam diri bahkan mengkhianati perjuangan mereka dengan berjabat tangan dengan ide-ide demokrasi, ham dan kebebasan.

Sudah saatnya, kaum Muslim bersatu padu kembali mengambil Islam dan bersegera mewujudkan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah Rasyidah yang sesuai dengan metode kenabian yang pada saatnya tiba akan mengadili Rusia dan rezim negara-negara pecahan Uni Soviet atas tindakan brutalnya terhadap kaum Muslim. Insya Allah, Khilafah tersebut di depan mata. Allahu Akbar!! (syabab.com, 3/4/2010/ hti)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar