11 April 2010

Omzet Puluhan Juta "Bermekaran" Lewat Bisnis Tanaman Hias

Sinar matahari mulai menyengat, saat menyambangi sentra perdagangan tanaman hias di Gang Rotan, Kelurahan Bojongsari Baru, Sawangan, Depok, Jawa Barat. Sentra ini terlihat sepi, namun saat menapaki jalan berbatu di gang ini, terlihat beberapa pekerja di sela-sela rimbun tanaman. Mereka sibuk menyiram dan memindahkan polybag.

Kawasan seluas 3 hektare ini dipenuhi aneka tanaman. Ukurannya beragam, mulai dari sejengkal hingga setinggi orang dewasa. Kerimbunan tanaman ini tak terlihat langsung dari jalan raya.

Untuk mencapai lokasi ini dari jalan raya harus memasuki Gang Rotan dan menyusuri jalanan sepanjang lebih kurang 500 meter. Tiba di ujung gang, baru terlihat deretan hijau tanaman yang sekelilingnya terlindung pagar kawat. Di bagian muka kavling, tercantum nama Koperasi Agribisnis Maju Bersama.

Sentra ini memang ada dalam naungan koperasi milik komunitas pedagang dan petani tanaman hias di seputar Sawangan dan Bekasi, Jawa Barat. Koperasi ini berdiri empat tahun silam dan beranggotakan sekitar 300 orang. Namun, tak semua anggotanya menempati kawasan ini. Hanya 27 petani berada di sentra ini.

Setiap kavling nursery menempati lahan paling kecil 15x20 meter. Tiap kavling terpisah pagar bambu atau kawat. Setiap nursery rata-rata menyediakan dua tipe tanaman hias, yaitu tanaman indoor dan outdoor.

Tanaman indoor adalah tanaman hias yang berada di ruangan, semacam aglaonema, bromelia, anthurium, dan dracaena. Sedangkan tanaman adalah tanaman untuk proyek taman di perumahan atau perkantoran. Misalnya, pucuk merah, costus, philo williamcy, aneka palem, dan cycads.

Umumnya tanaman indoor ditempatkan di bawah jaring paranet. Sedangkan tanaman outdoor tetap terkena sinar matahari langsung.

Hadi Sumarna, salah satu pemilik sekaligus Bendahara Koperasi Agribisnis Maju Bersama menuturkan, dia menyewa lahan seluas 20x30 meter Rp 2,5 juta per tahun. Ini sama dengan tarif sewa nursery lainnya.

Untuk mendirikan Florida Nursery, Hadi menggelontorkan modal puluhan juta. Dana itu, antara lain dia pakai membeli besi penyangga, paranet, dan polybag. Di sini, Ade menanam lebih dari 100 jenis tanaman.

Tetangganya, Warnen menanamkan modal awal Rp 25 juta untuk membuka nursery bernama Pramudia Flora. Nursery yang berdiri tiga tahun lalu ini kini menjual sekitar 20 jenis tanaman.

Setiap nursery memasang harga berbeda, tergantung jenis tanaman, ukuran, keunikan, dan jumlah pembelian. Konsumen bisa membeli dalam jumlah besar maupun per polibag. Kebanyakan pembeli di kawasan ini adalah pedagang tanaman hias.

Umumnya, harga tanaman indoor berkisar Rp 10.000 hingga Rp 30 juta per pohon. Harga tanaman outdoor Rp 5.000-Rp 75 juta per pohon. "Kalau tanaman yang unik, atau memiliki kelainan gen, nilai jualnya bisa 10 kali lipat dari harga tanaman normalnya," kata Hadi.

Selain menjual tanaman, nursery biasanya menerima pembuatan proyek taman untuk skala individu maupun perumahan. Tarif pengerjaan taman tergantung jenis tanaman dan luas taman.

Laba Lebih Mekar Berkat Budidaya Sendiri

Sembari berbincang, tiga mahasiswi terlihat cekatan memotong puluhan lembar gabus padat menjadi bentuk kubus kecil di salah satu sudut Florida Nursery. Ketiganya adalah mahasiswi Institut Pertanian Bogor yang sedang melakukan Praktek Kerja Lapangan di sentra Gang Rotan.

Adapun gabus yang mereka potong akan dipergunakan sebagai media tanam pada proses perbanyakan sistem stek. Nursery milik Hadi Sumarna alias Ade adalah satu dari sekian banyak nursery di sentra budidaya tanaman hias, Gang Rotan, Sawangan.

Melalui Koperasi Agribisnis Maju Bersama, sentra pembudidayaan tanaman hias itu memang terbuka bagi pihak yang ingin belajar membudidayakan tanaman.

Cara ini, ujar Ade, secara tidak langsung bisa memperkenalkan Kavling Rotan kepada masyarakat. Sebab, selain terbilang baru, lokasi sentra yang tidak berada di pinggir jalan membuatnya belum dikenal luas. "Lokasi yang belum tenar menjadi kendala kami," ujar Ade.

Agar lebih dikenal masyarakat, kata Ade, pihak koperasi rajin mengajak para tamu yang berkunjung ke Sawangan mampir ke sentra ini. Para tamu itu mulai dari petani dari luar kota hingga pejabat pemerintahan.

Iwan Kurniawan, pemilik gerai Dwi Flora menambahkan, sejauh ini pemasaran lebih banyak dilakukan dari mulut ke mulut dan jaringan sesama petani dan pedagang tanaman hias di Sawangan. Cara lain, pengusaha mengikuti pameran tanaman.

Warnen, pemilik Pramudia Flora, misalnya, beberapa kali mengikuti pameran di Taman Mini dan Lapangan Banteng dengan dukungan koperasi. Berbagai upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Dua tahun terakhir, pembeli di sentra ini mulai tumbuh.

Konsumen tidak lagi terbatas dari sekitar Jabodetabek, tapi juga dari daerah lain, bahkan luar negeri. Iwan, misalnya, pernah didatangi konsumen dari Yogya, Padang, Medan, dan Lampung. Sementara, konsumen Ade, ada yang dari Filipina dan Thailand.

Alhasil, penjualan mereka pun semakin bagus dan terbilang stabil setiap bulan. Iwan mengaku bisa meraup omzet Rp 10 juta-Rp 15 juta per bulan. Pendapatan Ade lebih besar lagi, sekitar Rp 10 juta-Rp 40 juta saban bulan. Bahkan, saat mengikuti pameran di Lapangan Banteng, Ade meraup omzet Rp 100 juta dalam 3 pekan.

Margin mereka lumayan mekar. Maklum, kebanyakan tanaman adalah hasil budidaya mereka sendiri. Iwan dan Warnen, misalnya, bisa untung 40%-50%. Sementara Ade mengantongi margin 30%-50%. Bahkan, keuntungan dari menjual tanaman unik yang didatangkan dari daerah lain bisa menembus 80%.

Nah, inilah keunggulan berdagang bibit tanaman di Kavling Rotan. Lahan yang luas membuat para pengusaha nursery leluasa memperbanyak tanaman, baik dengan sistem penyemaian, stek, ataupun okulasi. Bahkan di kawasan ini tersedia semacam ruang stek semimodern yang disebut moist room.

Ruang ini dipenuhi kabut sehingga lebih steril dan terjaga kelembapannya. Jika batang stek yang dimasukkan dalam media gabus diletakkan di sini, akarnya bisa tumbuh lebih cepat. Tapi, pemakaiannya dikenakan biaya Rp 250 per satu stek.

Harga Murah dan Kualitas Terjaga

Deretan tanaman Bromelia tersusun rapi dalam polybag kecil di Pramudia Flora milik Warnen. Tanaman hias ini diletakkan di lahan yang beratapkan paranet. Berbeda lagi perlakuan untuk tanaman Pucuk Merah, yang sengaja diletakkan di luar paranet agar bisa tumbuh sempurna. "Pemeliharaan tanaman indoor lebih rumit karena tidak boleh terkena matahari langsung, penyiraman juga ada waktunya," ujar pria asal Cirebon ini.

Berkat pemeliharaan yang hati-hati itu, kualitas tanaman hias di Kavling Rotan terjaga. Inilah keunggulan tanaman yang ada di sentra ini. Keunggulan lain, sebagian besar tanaman di sini hasil budidaya para nursery sendiri sehingga konsumen bisa mendapatkan tanaman dengan harga cukup murah. Asyiknya, pembeli masih bisa menawar meski cuma membeli satu tanaman.

Iwan Kurniawan, pemilik Dwi Flora, mengatakan, negosiasi harga tergantung jumlah pembelian, jenis tanaman, juga kepribadian konsumen. Dia masih bisa mengurangi 10%-20% dari harga penawaran pertama untuk pembelian satuan. Sementara, pembelian dalam jumlah banyak bisa memperoleh potongan hingga 40%.

Senada, Hadi Sumarna alias Ade, pemilik Florida Nursery, bersedia mendiskon 10%-20% dari harga penawaran pertama untuk pembelian ritel dan sampai 30% jika pembelinya dari kalangan pedagang tanaman hias. Hampir 75% pembeli di tempat Ade adalah pedagang tanaman. Adapun Warnen dan Iwan mengaku, sekitar 85% konsumennya adalah pedagang.

Sementara, untuk proyek pengerjaan taman, para pemilik nursery di sentra Kavling Rotan bersedia menyesuaikan tarif dengan budget konsumen. Kata Warnen, tarif termurah pengerjaan taman sederhana ukuran 2 x 3 meter dengan jenis rumput dan tanaman pelindung palem sekitar Rp 200.000 hingga Rp 300.000.

Umumnya untuk proyek taman yang diutamakan adalah kemolekan warna dan kerimbunan tanaman. Jenis yang biasa dipakai seperti Staberna, palem, dan Pucuk Merah. Para petani di sentra Kavling Rotan memperoleh bibit tanaman dan indukan dari sesama petani di sekitar Sawangan, Bogor, Sukabumi dan Puncak. Ade bahkan berburu sampai ke Sumatera dan Bangkok.

Berkat kejelian berburu itu, beberapa nursery menjual tanaman yang tidak bisa ditemukan di kios pinggir jalan. Ade, misalnya, menjual tanaman indoor jenis Palm Djohannes Tasmania setinggi 1,25 meter. Tanaman ini hasil perburuannya di Leuser, Aceh. Palem ini memiliki daun yang bisa tumbuh hingga 15 meter dan sulit didapat. Tak heran, ia berani pasang harga Rp 30 juta.

Tanaman yang juga banyak diburu kolektor adalah hasil mutasi gen. Mutasi gen ini menyebabkan kelainan bentuk dan warna tanaman yang membuatnya unik. Para pemilik nursery di Kavling Rotan ini memang harus pandai menjaga kualitas tanaman dan rajin mencari tanaman yang belum banyak dimiliki pedagang. Mereka juga harus lihai memproduksi tanaman yang gampang diserap pasar.

Soalnya, mereka punya pesaing di wilayah Pengasinan dan Curug, Sawangan. Yang menarik, kendati saling bersaing, para petani di sini pun saling membantu. Misalnya, bila pembeli tidak menemukan tanaman yang mereka cari di nursery miliknya, petani tersebut akan merekomendasikan nursery lain yang menjual tanaman itu.

Walau sentra ini belum setenar kios pedagang tanaman di tempat lain, Iwan maupun Warnen optimistis, prospek berjualan tanaman di lokasi ini cukup menjanjikan. "Apalagi, setahun terakhir ini orang sudah semakin kenal lokasi ini," ungkap Iwan. Biasanya, sentra ini ramai pengunjung di hari akhir pekan dan masa liburan, kecuali menjelang lebaran. Dengan bendera Koperasi Agribisnis Maju Bersama, Iwan juga yakin, petani di sini akan lebih cepat maju karena lebih gampang mendapat pinjaman bank. (fn/knt) www.suaramedia.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar