25 April 2010

Antara Ana, Antum dan Pilihan Ibunya

Antara Aku, Dia dan Pilihan Ibunya



Assalamualaikum, Wr.Wb

Ibu Siti yang terhormat,

Saat ini saya (22 tahun, anak ke-2 dari 4 bersaudara), dan saya yakin sedang diuji oleh Allah SWT dengan tantangan dan pilihan hidup yang cukup membuat saya bimbang serta gelisah.

Singkat cerita 3 bulan lalu saya berkenalan dengan seorang akhwat (23 tahun, anak bungsu) dan selama itu pula saya suka berkomunikasi dengannya dan kamipun akhirnya bertemu dengan maksud agar saling kenal satu sama lain. Selama itu pula kami merasakan sikap saling perhatian satu sama lain, dan kamipun menaruh hati satu sama lain hingga saya meyakini bahwa akhwat ini adalah calon pendamping yang Allah ciptakan untuk saya, dan akhirnya pun saya berkomitmen ingin menjadikan dia sebagai pendamping hidup tuk yang pertama dan terakhir saya, tentunya setelah kami siap segalanya dengan meningkatkan iman dan takwa kepada Allah lebih dahulu agar pondasi rumahtangga kami kokoh.

Akan tetapi dia ragu menerima komitmen dari saya karena sebelumnya dia pernah proses dengan seorang ikhwan tetapi entah kenapa sampai sekarang status hubungannya digantung seakan-akan ikhwan itu menunda-nunda, dia sebenarnya sudah melupakan ikhwan itu tetapi ikhwan ini sudah sangat dekat dengan ibunya, sehingga ibunya melarang dia untuk menentukan pilihan sendiri calon pendampingnya.

Ibunya pun suka melarangnya jika dia bicara menyinggung bahwa dia bermaksud untuk mencari ikhwan pilihan dia sendiri, singkat cerita akhirnya hubungan kamipun diketahui oleh ibunya lewat SMS yang saya kirim ke akhwat tersebut, ibunya pun (interogasi) menelpon saya untuk mengetahui nama dan domisili serta kerja saya dimana. Setelah kejadian itu dia memutuskan hubungan itu dengan alasan bahwa dia sudah tidak sanggup lagi jika dia mendapat tekanan oleh ibunya, dan dia pun memilih untuk melepas saya daripada hubungan dengan ibunya menjadi renggang.

1. Menurut pendapat ibu apa yang saya lakukan untuk saat ini? (Jujur saya belum bisa melepas dan melupakan dia, dan saya sudah bertekad tuk memilih dia sebagai calon pendamping suatu saat nanti, tetapi prinsip yang saya pegang apapun yang terjadi saya serahkan pada Allah sang pemilik segalanya dengan shalat istikharah, sholat QL, dan berdoa tuk mendapatkan petunjuk-Nya).
2. Apa yang harus saya lakukan agar ibunya dapat membuka pintu hatinya untuk merestui hubungan kami? (selama 3 bulan itu hubungan kami pun sembunyi-sembunyi tidak ada keluarga kami yang tahu)

Jazakallah khairan katsiraan,

wassalam,

AI
Jawaban

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh

Saudara AI yang semoga disayangi Allah,

Saya memahami bahwa masalah ini perlu segera diselesaikan karena tentu telah mengganggu kekhusyukan ibadah Anda pada Allah, karena pada usia seperti Anda problem yang utama memang terkait pemilihan pasangan hidup. Anda perlu melihat permasalahan ini dari sudut kepentingan Anda maupun orang lain yang terkait, seperti wanita yang Anda cenderung padanya,keluarganya maupun pihak laki-laki yang pernah meminang gadis tersebut. Hal ini untuk kebaikan dan kemaslahatan semua berlandaskan pada hukum dan ketentuan syariat; bukankah solusi yang berlandaskan syariat akan membawa barokah, Sdr AI? Insya Allah.

Saudara AI yang dirahmati Allah,

Kalau melihat permasalahan ini dari sudut gadis tersebut, tentu apa yang dilakukan beralasan. Islam mengajarkan agar seorang anak birrul walidain atau berbakti kepada orang tua selama orang tua tidak mengajaknya untuk bermaksiat atau menyekutukan Allah. Meskipun mereka menyekutukan Allah, kita pun tak boleh berbuat buruk, tetap harus berbuat baik. Apalagi untuk masalah perjodohan, tentu tidak ahsan jika diawali dengan menghilangkan keberkahan karena orang tua tidak ridho. Patut direnungkan hadits berikut:

Dari Abu Darda’ ra., ia berkata: Ada seseorang mendatanginya dan berkata: “Wahai Abu Darda’ saya mempunyai istri, dan ibu menyuruhku untuk menceraikannya.” Kemudian Abu Darda’ berkata: “Saya mendengar Rasulullah saw., bersabda: “Orang tua itu bagaikan pintu surga yang paling tengah. Terserah kamu apakah akan menyia-nyiakan ataukah menjaganya.” (HR. Tirmidzi)

Dari Abu Bakrah Nufai’ bin Al-Harits ra., ia berkata: Rasulullah saw., bertanya: “Tidakkah kalian ingin tahu tentang tiga dosa terbesar diantara dosa-dosa besar?” Kami menjawab: “Tentu, kami ingin mengetahuinya.” Rasulullah menjelaskan: “Yaitu menyekutukan Allah dan mendurhakai kedua orang tua.” Semula Rasulullah bersandar, lalu beliau duduk tegak, seraya meneruskan sabdanya: “Ingatlah, Juga perkataan bohong dan persaksian palsu.” Rasulullah mengulang-ulang perkataan itu, sampai-sampai kami berkata dalam hati: “Semoga beliau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Namun tentu hadits ini tidak menjadi pembenaran akan sikap otoriter orangtua dalam perjodohan anaknya, karena seorang anak gais juga mempunyai hak atas pilihan calon suaminya. Sehingga, masalah ini perlu dilihat dengan bijaksana... jodoh adalah rahasia Allah. Ia yang memilihkan yang terbaik. Ia juga yang telah mentakdirkan. Sebagai manusia, karena belum tahu apa takdirnya, memang harus berusaha. Begitu pun anda dan calon anda. Anda harus berjuang bila memang anda yakin dia yang terbaik untuk anda. Tetapi perjuangan itu tak boleh menabrak rambu syariat.

Sdr. AI sekarang kita melihat permasalahan ini dari sisi laki-laki yang telah pernah meminang gadis itu. Jika benar dia pernah datang baik-baik ke keluarga gadis itu dan menyatakan hendak memperistrinya, maka gadis itu telah dipinang. Syariat mengatur bahwa seorang muslim dilarang untuk melamar muslimah yang sudah dilamar oleh saudaranya. kecuali yang meminang itu telah mengundurkan diri atau memberikan izin kepada muslim lain itu.

”Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang sebagian kita membeli atas sesuatu yang telah menjadi pesan sebagian yang lain, dan melarang laki-laki meminang pinangan suadaranya ( muslim ) sehingga saudaranya yang meminang terlebih dahulu meninggalkan pinangannya atau mengizinkannya untuk meminang. HR. Bukhari.

Oleh karena itu, ada baiknya Anda menanyakan tentang status akhwat tersebut; Sebuah pinangan tak baik dibiarkan menggantung, sarankan agar dia bersikap lebih tegas dengan memberi ikhwan tersebut batas waktu untuk maju atau mundur. Nah, jika proses mundur memang berasal dari pihak pelamar, tentu keluarga akhwat tersebut akan lebih berlapang dada menerima Anda.

Oleh karena itu saudara IA, yakinlah, di usia anda yang masih muda, dalam perjalanan hidup anda ke depan, anda akan menemui banyak wanita sholihah, jadikan semua sebagai sahabat terlebih dahulu, jangan terjadi hubungan yang berlebihan yang akan mengganggu Anda. Pasrahkan urusan anda ke Allah, akan banyak bunga yang lebih harum yang siap untuk anda petik tanpa harus menyakiti orang-orang yang menyayanginya.

Teiring do’a dari saya Anda tetap tegar.

Wallahu a’lam bish-shawab
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
bu Urba.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar