25 April 2010

Terlalu Lama Nonton TV Perbesar Resiko Kematian

Orang yang menonton televisi 4 jam atau lebih setiap hari kemungkinan meninggal akibat penyakit jantung sebesar 80 persen. Menonton televisi terlalu lama sama dengan banyak duduk yang berarti tidak ada gerakan otot.

David Dunstan, PhD, kepala laboratorium aktivitas fisik dari Baker IDI Heart and Diabetes Institute di Victoria, Australia mengatakan jika otot tidak aktif untuk waktu yang lama, maka hal ini dapat mengganggu metabolisme dari orang tersebut.

Selain itu, kurangnya aktivitas fisik akibat terlalu lama menonton televisi bisa berakibat penimbunan lemak dan kolesterol yang bisa memicu terjadinya serangan jantung di usia muda.



David melakukan studi yang melibatkan 8.800 orang dewasa yang tidak memiliki riwayat penyakit jantung selama lebih dari 6 tahun. Kelompok ini dibandingkan dengan orang yang menonton televisi kurang dari 2 jam per harinya.

Didapatkan orang yang menonton televisi 4 jam atau lebih kemungkinan meninggal akibat penyakit jantung sebesar 80 persen.

Peneliti mengungkapkan setiap tambahan satu jam untuk menonton televisi dapat meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung sebesar 18 persen.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal American Heart Association. Dalam hal ini peneliti tetap memperhatikan faktor-faktor lain seperti apakah partisipan merokok, kadar kolesterol dan tekanan darahnya.

"Masalah sesungguhnya dari menonton televisi ini tampaknya akibat posisi duduk. Menonton televisi yang lama sama dengan banyak duduk, yang berarti tidak ada gerakan otot," ujar David seperti diberitakan dari Health.

Untuk menghindarinya seseorang tetap bisa aktif selama menonton televisi. Lakukan gerakan-gerakan dasar seperti berdiri atau berjalan di sekitar ruangan televisi. "Kegiatan ini bisa memberikan efek kesehatan, meskipun sering diabaikan oleh masyarakat," ungkap David.

Penelitian sebelumnya pernah melaporkan hubungan antara duduk terlalu lama dengan risiko penyakit jantung, tapi penelitian ini lebih terfokus pada kegiatan menonton televisi.

Tidak ada salahnya untuk melakukan aktivitas fisik saat sedang menonton televisi untuk mengurangi risiko terkena penyakit jantung.

Sebuah studi di Swedia mendapati bahwa industri sepakbola ternyata tidak memiliki peralatan yang tepat dan terencana untuk melindungi kehidupan fans yang berisiko terkena serangan jantung. Kajian terhadap 187 stadion di Eropa ditemukan lebih dari seperempatnya tidak memiliki defibrilator atau mesin pengejut jantung, dan banyak juga yang tidak memiliki rencana darurat, terkait penanganan darurat terhadap penonton sepakbola.

Profesor Mats Borjesson, tenaga medis resmi klub sepakbola di Swedia bernama GAIS, mengatakan, setiap stadion seharusnya memiliki akses defibrilator. "Apalagi melihat pertandingan sepakbola yang melibatkan emosi dan bisa meningkatkan kemungkinan risiko orang yang menderita serangan jantung. Sehingga kami berpikir ini harus menjadi persyaratan formal," ujar anggota Asosiasi Pencegahan dan Rehabilitasi Kardiovaskular Eropa itu seperti diberitakan oleh BBC.

Para peneliti mengumpulkan data dari 10 negara, termasuk Inggris, Prancis, dan Spanyol. Mereka mencatat, 77 serangan jantung terjadi setiap musimnya--sebagian besar divisi utama. Artinya, peneliti mengatakan, ada kemungkinan satu banding 589 ribu penonton di stadion bisa terkena serangan jantung.

Dari hasil studi tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa harus ada aturan wajib untuk menutupi masalah ini. Untuk itu dalam beberapa tahun terakhir banyak pemerintah--termasuk pihak berwenang Inggris--melakukan sesuatu untuk meningkatkan ketersediaan peralatan darurat di ruang publik.

Defibrillator sendiri bekerja dengan memberikan kejutan listrik yang terkontrol melalui dinding dada ke jantung untuk mengembalikan detak jantung normal. "Akses dini pada mesin defibrilator meningkatkan kemungkinan bertahan hidup," ujar Ellen Mason, dari British Heart Foundation. (fn/dt/rl) www.suaramedia.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar