02 April 2010

Suami Tidak Mempercayai Nabi Muhammad Dan Tak Mau Merubah Diri

Asslmkm..

saya adalah seorang wanita berumur 23 tahun. sudah 2 tahun menikah dan memiliki 1 anak.saya bekerja sebagai PNS departemen keuangan yang notabene memiliki penghasilan yang lumayan.Suami saya seringkali memukul dan mencela saya.hal kecilpun bisa membuatnya memukul saya jika dia sedang tidak mood.beribadahpun tidak pernah dia lakukan.saya sudah berulangkali mengingatkan dia namun yang dikatakannya adalah "buat apa beribadah, toh saya juga tidak percaya nabi Muhammad. Siapa sih dia Kenapa orang2 begitu agungin dia".saya sudah berusaha membuka pikiran dan wawasan dia tentang nabi Muhammad dan Islam, saya juga mengatakan, kasihan anak kalau dia terus bersikap seperti ini.Namun dia bilang," mau gimana lagi, emang di takdirin kayak gini". Setiap hari kerjaannya hanya tidur2an dan menonton TV. Ketika saya Pulang sore hari, bukan sambutan yang saya dapatkan tapi selalu saja keluhan2 dia yang mengatakan bahwa dia sangat capek. Bukankah seharusnya saya yang merasa capek. Saya harus bekerja seharian, pulang kerja harus mengurus anak juga ( kalo siang anak diasuh pembantu) dan dia selalu mengeluh capek kepada saya. Saya sudah tidak tahu apa yang harus saya lakukan terhadap suami saya...selama ini saya sudah berusaha untuk menerima dia apa adanya, namun dia sepertinya dia tidak menghargai saya.ditambah lagi mertua perempuan saya, selalu menyalahkan saya apabila terjadi hal2 kecil,misalnya suami menjadi sedikit kurus, saya selalu disalahkan.ketika suami memukul saya, mertua juga mengatakan saya yang tidak bisa menjaga suami saya. bahkan beberapa waktu yang lalu, mertua meminta uang pada saya untuk menguliahkan suami saya..saya tidak tau lagi apa yang harus saya lakukan..apa dengan keadaan suami yang seperti itu saya memang harus berpisah dengan dia, mengingat dia sendiri tidak mau mengubah diri dan latar belakang keluarga yang ternyata tidak paham dan tidak mau tau tentang agama?.mohon bantuannya ya bu...sukron...

hamba Allah


Jawaban


Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh
Ibu Hamba Allah yang sedang mengalami ujian dari Allah... Sesungguhnya kesabaran, kelapangdadaan anda, ibadah yang anda lakukan, sudah dicatat oleh malaikat dan dilaporkan kepada Allah. Maka jangan sampai sakit hati yang anda miliki membuat amal anda rusak dan menjadi sia-sia ibarat debu yang beterbangan. Apapun yang sudah anda berikan untuk suami sudah tercatat dan semoga memperberat timbangan kebaikan anda.
Ibu hamba Allah yang mulia, sayangnya anda tak bercerita, sebab apa anda mau menikahinya? Saat dia melamar anda, mengapa anda menerimanya? Apakah anda benar-benar tak tahu latar belakangnya keagamaannya, sampai-sampai hal yang prinsip dan termasuk rukun iman, yaitu iman kepada Rasulullah saw tak sampai ke hatinya? Bukankah menilik usia anda, yaitu 23 tahun, berarti anda menikah saat berusia 21 tahun, anda belum terlalu terlambat untuk ukuran pernikahan? Anda pun memiliki pekerjaan yang prospektif dan layak? Apakah anda terpaksa menikahinya atau dijodohkan oleh orang tua?
Anda pun tak bercerita, mengapa mertua anda masih sangat menyetir kondisi putranya? Apakah kalian tinggal serumah?
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi penting untuk dijawab agar anda lebih mampu menata pijakan ke depan untuk hidup anda. Memang semua itu sudah berlalu, tetapi anda layak untuk mendapatkan kebahagiaan anda juga.
Ibu hamba Allah, hal yang sangat prinsip untuk mencapai keberkahan dalam pernikahan adalah agama. Seberapa jauh seseorang faham dengan agamanya dan kemudian berinteraksi secara nyata dengan amal-amal sholih yang mendatangkan ridhoNya untuk mencapai kebaikan dirinya. Sayangnya, anda tak dapatkan itu di diri suami. Sebagai orang yang lebih mengerti agama, fungsi anda adalah dai atau pendakwah bagi suami anda. Tetapi karena ia didominasi oleh sifat cuek dan tak mau mengubah diri, dakwah itu seperti bertepuk sebelah tangan. Tampaknya pula, ia adalah laki-laki yang tidak mandiri karena hampir seluruh kebutuhannya ditopang oleh ibunya, ini menjadi sangat tidak menguntungkan untuk anda.
Maka pertimbangkan lagi pernikahan anda ini. Anda akan dapat pahala luar biasa bila bisa mengajak suami untuk berada di jalan Allah dan tidak mengingkari kerasulan nabi Muhammad saw termasuk seluruh ayat Allah. Syaratnya tentu saja, membuat situasi yang mendukung hal ini, mendekatkannya ke komunitas orang sholih, mengundang pengajian di rumah anda agar mau tak mau ia mendengar ayat Allah di sebut, mengenalkannya kepada mereka juga. Bila ternyata anda serumah dengan mertua, tampaknya anda perlu menjauhkannya, misalnya dengan mengontrak rumah.
Bila ia terpisah dari ibunya, anda akan lebih leluasa membuat program perbaikan. Misalnya saja memberinya pekerjaan yang bisa dikerjakannya, misalnya berwiraswasta atau keterampilan tangan. Anda juga bisa saja tak memberinya uang saku atau menguranginya agar ia tahu, tak mudah mencari uang dan sangat mudah bila menadahkan tangan. Bila perlu anda pun bisa memprogramkan agar ia tak terpaku di depan TV. Masukkan saja TV anda ke lemari sekali-sekali.
Hidup anda masih terbentang luas ibu. Kalau pun semua upaya maksimal perbaikan sudah anda lakukan, jangan tetap terpuruk. Anda perlu mendeadlinenya agar ia mau berubah. Mestinya ia tahu, ia sedang mengumpulkan dosa karena ia tak menafkahi anak istrinya, padahal itu kewajibannya. Tak ada salahnya anda memohon petunjuk kepada Allah dengan sholat istikhoroh, agar IA memberi petunjuk terbaik. Tetap tersenyum ya agar anak anda memiliki energi positif dari raut ibunya...amin.
Wallahu a’lam bish-shawab
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Bu Urba

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar