03 Desember 2010

Taman kehidupan

Seorang kawan, sebut saja A, memiliki sebidang tanah yang tidak terlalu luas. Dia mengolah tanah itu sebaik-baiknya. Tanahnya digemburkan dengan cangkul. Kemudian, pada lahan itu ditebarkan pupuk kandang. Tanah dicangkuli kembali dan disirami air.

Di atas tanah itu, ditanami berbagai tanaman bunga. Dengan perawatan yang rutin, hampir semua tanaman tumbuh baik. Rumput-rumput liar dicabuti sebelum jadi tanaman pengganggu. Pupuk pun diberikan sesuai takaran. Jika dibutuhkan, lahan itu pun disirami. Dalam waktu beberapa bulan, taman itu pun dipenuhi oleh aneka bunga yang indah. Sebagian bunga menebarkan bau harum.

Kumbang dan kupu-kupu yang indah menambah nilai keindahan taman itu. Banyak orang betah dan menghibur diri di taman itu. Anak-anak aman bermain-main di situ.

Seorang teman lain, sebut saja B, juga memiliki sebidang tanah. Ia memperlakukan tanahnya sembarangan, tidak sebaik A. Tanah itu tidak pernah diurus dan bahkan cenderung diterlantarkan.

Akibat terlalu lama tidak diurus, tempat itu dianggap tidak bertuan. Banyak orang menganggapnya sebagai lokasi pembuangan sampah. Awalnya dalam jumlah sedikit. Tapi karena tidak ada orang yang menjaga dan menegur kekeliruan itu, lama-lama hal itu dianggap lumrah. Bukan hanya sampah, banyak orang juga memanfaatkan lokasi itu sebagai tempat buang hajat darurat.

Bisa ditebak akibatnya. Tidak ada keindahan di sana. Timbunan kotoran tampak di banyak titik. Lokasi itu menebarkan bau yang tidak enak. Yang hadir di sana adalah lalat dan nyamuk, yang dikenal sebagai hewan penyebar kuman penyakit. Tidak ada anak-anak bermain dengan riang. Tidak ada orang yang suka berlama-lama menikmati suasana.

Kalau boleh beranalogi, kehidupan setiap manusia itu awalnya seperti tanah kosong. Kalau kita mengisinya dengan sampah, maka yang hadir adalah segerombolan musuh yang kerjanya membuat kehancuran dan menebar bau busuk. Kalau kita mengisinya dengan bunga, maka yang hadir adalah para sahabat yang saling mendukung dan menularkan bau harum.

(Sudah dimuat di Harian Semarang edisi Sabtu, 27 November 2010, Rubrik Inspirasi/wi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar