09 Juni 2010

Behaviour Flexibility (Bagian 2)

Behaviour Flexibility (2)

Sediakan sebuah palu. Sediakan juga satu buah gelas. Kemudian, pukulkan palu pada gelas. Apa yang akan terjadi?

Gelas pasti akan pecah dan hancur berkeping-keping. Hanya dalam sekali pukul. Dan setelah hancur, gelas itu sudah tidak ada gunanya lagi!

Selanjutnya, ambillah sebatang besi. Gunakan kembali palu itu untuk memukul besi sekuat tenaga. Apa yang terjadi?

Besi tidak hancur. Bahkan, nyaris tidak berubah. Para penempa besi, memanaskan besi dengan cara membakarnya hingga merah membara, kemudian memukulkan palu berulang-ulang, sampai akhirnya sepotong besi yang semula nyaris tidak ada gunanya, berubah menjadi barang-barang yang fungsional seperti pisau, golok, arit dan sebagainya.

Para penempa besi itu, telah memberi nilai tambah pada besi. Sepotong besi yang semula relatif murah harganya, berubah menjadi produk yang harganya cukup tinggi dan dibutuhkan manusia.

Dua percobaan sederhana itu menjelaskan sebuah fenomena yang dikenal sebagai kelenturan perilaku (behaviour flexibility) seperti ini :

1. Mengapa ada orang yang sukarela mengakhiri hidup dengan menggantung diri ketika tidak lulus ujian, sedangkan di sisi lain ada orang yang menerima kondisi itu dan mencoba mengulang di tahun berikutnya?

2. Mengapa ada kasus perselisihan gara-gara uang receh, sedangkan di sisi lain ada orang yang tetap tersenyum ketika ditimpa bisnisnya rugi milyaran rupiah?

3. Mengapa ada orang yang kebal kritik, tetapi di sisi lain ada orang yang sedikit tersinggung, golok bicara ...

Respon manusia terhadap suatu kejadian, secara ekstrim bisa digambarkan seperti gelas dan besi. Mereka yang bermental gelas, adalah mereka yang cengeng. Pukulan ringan saja, sanggup menghancurkan mereka berkeping-keping. Kegagalan kecil bisa membuat mereka berhenti mencoba. Tawaran sedikit keuntungan saja bisa membuat mereka berkhianat.

Mereka yang memiliki kekuatan mental mengagumkan, adalah manusia-manusia besi yang tahan banting. Aneka pukulan berat, panas yang membakar plus proses pergesekannya dengan batu asah, menjadikan mereka manusia-manusia yang bernilai tinggi. Seberat apapun pukulannya, tidak mampu menghancur-leburkan mereka. Sepanas apapun apinya, tidak membuat mereka lumer. Pergesekan dengan benda lain justru mempertajam kereka.

Mereka yang bermental besi, sangat yakin bahwa pukulan, pemanasan atau pergesekan, bukanlah cara Tuhan untuk menghancurkan mereka. Itulah ujian yang akan membuat mereka bertambah kuat.

So, pembaca. Mental anda seperti gelas atau besi?

(Sudah dimuat di rubrik Inspirasi, halaman 2 Harian Semarang, 5 Juni 2010/wi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar