03 September 2010

Tongue Interconnection

Newsweek dalam salah satu laporannya menggambarkan fenomena yang cukup menarik untuk dicermati. Perusahaan-perusahaan besar kelas dunia, sudah mulai berpaling dalam hal memberikan pelatihan kepada karyawannya. Pelatihan yang semula ditekankan pada kemampuan leadership menjadi peningkatan pengendalian diri.

Mereka tidak lagi mengundang Anthony Robbins, tetapi malah meminta Dalai Lama dan agamawan lainnya untuk mengajarkan self control, yoga atau meditasi. Sebuah metode pelatihan yang titik sentuhnya tidak saja sisi materi, tetapi sudah masuk dunia spiritual.

Mungkin itu juga sebabnya, beberapa perusahaan yang cukup besar di tanah air, tidak lagi jor-joran memberikan bonus dalam bentuk uang tunai atau sejumlah produk tertentu berharga mahal, tetapi hadiah perjalanan haji, umroh, Vatikan atau ziarah ke Lordess. Ketika dunia materi sudah tidak lagi bisa memenuhi hasrat manusia akan kedamaian, manusia akhirnya sampai pada hal-hal yang lebih spiritual. Mereka tidak lagi terlalu bernafsu mengejar materi, dan mulai berlatih mengendalikan diri.

Terkait dengan hal ini, hampir semua agama mengenal tradisi berpuasa, dengan tatacara masing-masing. Inilah cara yang dianggap paling mampu mengerem kecepatan manusia mengejar materi. Dalam puasa, manusia dididik untuk menahan hawa nafsunya. Sesuatu yang di hari-hari biasa diperbolehkan untuk dimakan atau dilakukan, pada waktu berpuasa justru dilarang.

Setiap manusia memiliki panca indera. Setiap anggota tubuh dalam panca indera memiliki satu fungsi kecuali lidah. Telinga untuk mendengar. Mata untuk melihat. Hidung hanya pencium. Kulit sebagai indera peraba. Lidah, selain untuk bicara, juga sebagai indera pengecap.

Dalam keseharian manusia umumnya, dua fungsi lidah itu seringkali bertolak-belakang. Lidah senang mengecap dan merasakan makanan dan minuman yang manis-manis, tetapi ucapan yang keluar dari lidah seringkali yang pahit-pahit. Cibiran, ucapan penghinaan yang merendahkan orang lain, bahkan gosip dan hasutan, seringkali keluar dari lidah, yang nyaris tanpa kontrol.

Bagaimana caranya, agar dua fungsi lidah selaras? Puasa Lidah. Bukan hanya sekedar puasa dari makan dan minum, tetapi sekaligus juga puasa bicara. Inilah sebuah softskill yang tengah saya kembangkan, sekalipun peminatnya belum banyak. Saya meyakini, bahwa kemampuan kita mengerem aktivitas lidah, memiliki konektivitas dengan perilaku.

Puasa bicara, berkorelasi dengan naiknya tingkat kesabaran. Ketika lidah dipaksa tidak bicara, seluruh tubuh seakan-akan satu suara dengan lidah. Diam. Itu yang saya sebut sebagai tongue interconnection. Jaga lidahmu, maka seluruh inderamu akan ikut terjaga. Tertarik untuk mencoba?

(Sudah dimuat di rubrik LHO majalah Khalifah edisi September 2010/wi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar