23 Oktober 2010

Sang Master

Di sebuah desa, ada seorang yang punya keahlian unik. Orang ini mampu memasukkan benang ke dalam lubang jarum dengan cara dilempar dari sebuah tempat yang berjarak sekitar duapuluh lima meter. Dengan cara yang berbeda-beda. Mulai dari posisi berdiri, berbalik, menyamping bahkan sambil tidur. Tingkat akurasinya mengagumkan.

Kabar itu, akhirnya sampai di telinga sang raja. Ia pun bertitah untuk memanggil orang unik ini. Sebut saja dengan sang master. Raja mengutus seorang punggawa istana untuk mengundang ahli pelempar benang ini untuk mendemonstrasikan keahliannya di istana raja.

Singkat cerita, sang master pun datang ke istana. Ia hadir di hadapan sang raja dan berkenan mempertunjukkan keahliannya.

Dan sang rajapun kembali bertitah. Ia memerintahkan beberapa prajurit untuk mengumumkan pertunjukan unik itu kepada seluruh rakyat di seluruh wilayah kerajaan.

Dan hari yang telah ditentukan pun tiba. Di sebuah lapangan yang luas, di hadapan ribuan pasang mata penonton ternasuk sang raja, sang master mempertunjukkan keahliannya memasukkan benang ke dalam jarum.

Seperti berita yang sudah beredar, ia mampu melakukannya dengan berbagai cara. Nyaris sempurna. Ia melakukannya dalam posisi berdiri, jongkok, membelakangi, menyamping bahkan tidur.

Tepuk tangan membahana setiap kali sang master selesai melaksanakan tugasnya. Dan di akhir pertunjukan, sang raja turun dari podium dan menyalami sang master. Ia memberi hadiah sebesar 5 keping uang emas untuk keahliannya.

Dan terjadilah hal yang tidak disangka-sangka. Sang raja memerintahkan sang master duduk di sebuah kursi, dan mengeluarkan cambuk.

'Mengapa aku dicambuk?' Kat sang master.

'Lima keping uang emas adalah hadiah atas keterampilanmu. Dan hukuman cambuk ini adalah upah karena bertahun-tahun engkau membuang waktu untuk melakukan sesuatu yang sia-sia.'

'Bertahun-tahun kau pelajari keterampilanmu. Dan bertahun-tahun pula kau kuasai keterampilan itu. Tapi dari dulu hingga kini, hidupmu tidak berubah. Kau jadi beban bagi orang lain. Kau pelajari ilmu yang tidak ada gunanya, bagimu dan juga bagi orang lain!'

Pertanyaannya buat kita semua : Sedang belajar apa kita sekarang, dan akankah ilmu itu akan aga gunanya bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain?

(Terima kasih buat pak Eri Sudewo, yang menceritakan kisah ini).

(Sudah dimuat di Harian Semarang, rubrik Inspirasi, hari Sabtu 16 Oktober 2010/saqy)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar