03 November 2010

Jakarta, Seoul dan Ternate

Pekan ini adalah salah satu pekan tersibuk bagi saya. Hampir setiap hari diisi dengan perjalanan dari satu bandara ke bandara yang lain. Bukan hanya perjalanan lintas propinsi, tapi juga lintas negara.

Perjalanan dimulai dari Jakarta, yang tengah sibuk menghadapi kemacetan jalan dimana-mana karena air tergenang mencapai tinggi satu meter. Untuk menghindari kemacetan, para pengemudi, sepeda motor ataupun mobil, terkadang harus menerobos lampu merah, melawan arus jalan, menerobos marka atau bahkan tanggul pembatas jalan.

Dan ternyata, tanggul pembatas jalan yang cukup tinggi tidak hanya sering diterobos dalam kondisi macet. Dalam kondisi biasa pun, menerobos tanggul pembatas adalah hal biasa. Di banyak tempat, tanggul pembatas terlihat rusak atau 'ompong' karena terlalu sering dilindas roda kendaraan. Betapa mahalnya biaya yang harus dikeluarkan pemerintah DKI untuk mengatur lalu lintasnya. Penyebabnya adalah ketidak-disiplinan.

Di Seoul, saya melihat hal yang sungguh berbeda. Ruas-ruas jalan yang berlawanan arah, seringkali hanya dibatasi oleh garis berwarna putih atau kuning tanpa putus. Jarang sekali terlihat tanggul pembatas jalan dari beton. Di sini saya harus angkat topi untuk penduduk Seoul. Nyaris tidak ada satu pengemudi pun yang dengan sengaja melintasi garis marka itu. Betapa murahnya biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah Korea untuk mengatur lalu lintasnya, karena satu hal : Disiplin.

Di Ternate, saya melihat fenomena yang berbeda lagi. Di sebuah ruas jalan yang cukup lebar, terlihat jelas ada sebuah makam. Ya, makam.

Jalan itu semula hanya cukup untuk dua mobil lalu lalang. Karena kebutuhan, ruas jalan itu akhirnya dilebarkan. Saat ini, lebar jalan itu cukup untuk 4 atau 5 mobil lewat berbarengan.

Akibat pelebaran jalan itu, makam yang semula ada di luar badan jalan, kemudian jadi bagian dari badan jalan. Saya tidak tahu persis alasan Pemda Ternate, mengapa makam itu tetap ada di tempat itu dan tidak dipindahkan.

Dalam pengamatan saya, kondisi makam itu cukup terawat. Makam itu dibalut keramik berwarna biru telur asin. Tidak ada satu pun keramik yang rusak atau pecah karena terlindas roda kendaraan.

Sebuah pertanyaan nakal : bagaimana jika tanggul pembatas jalan di Jakarta berbentuk seperti kuburan?

(Sudah dimuat di Harian Semarang,hari Sabtu 30 Oktober 2010, Rubrik Inspirasi/wi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar