07 November 2010

GESTUN

Seorang kawan datang ke saya untuk pinjam sejumlah uang, yang akan ia gunakan untuk membayar hutang ke bank, yang jumlahnya cukup besar. Usahanya gagal total dan meninggalkan sejumlah hutang. Di sisi lain, ia tidak punya sumber penghasilan lain. Saya tambah bingung, karena sepengetahuan saya, dia tidak punya asset sebesar hutangnya.

Akhirnya ia mengaku, ia bisa punya hutang sebesar itu pada 4 bank dengan memanfaatkan 4 kartu kredit dan memperkenalkan istilah GESTUN.

Gestun itu akronim dari Gesek Tunai. Kalau anda punya kartu kredit dari bank manapun, anda punya kesempatan untuk memanfaatkan kartu kredit itu sebagai sumber modal. Nyaris tanpa perlu prosedur yang berbelit.

Cukup datangi beberapa merchant tertentu, yang bersedia melakukan Gestun. Dalam transaksi ini, anda seolah-olah membeli suatu barang dengan menggunakan kartu kredit. Gesek kartu kreditnya, tanda tangani slipnya, dan anda akan terima uangnya. Ya. Anda akan terima sejumlah uang, yang jumlahnya sama dengan jumlah harga barang, yang sudah dipotong biaya administrasi.

Sejumlah dana hasil gestun itulah yang digunakannya untuk modal usaha, yang akhirnya berantakan. Dan sekarang ia sedang bingung, bagaimana membayarnya?

Bagi saya, itu adalah sebuah kesalahan fatal. Mengapa ?

1. Ini kesalahan utama. Dia menggunakan sumber dana kartu kredit, yang memberlakukan sistem bunga. Dan jika terjadi gagal bayar, jumlah yang harus dibayar terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu

2. Untuk mendapatkan sejumlah uang untuk modal usaha, ia harus berbohong. Transaksinya jual-beli barang, tetapi yang diterima bukan barang yang dibeli. Ia menerima uang tunai.

3. Ia berhutang, dengan harapan bisa membayarnya dari hasil usaha produktifnya. Padahal riset membuktikan, hampir tidak ada usaha yang dimodali dengan dana besar, bisa langsung untuk di bulan pertama.

Modal mungkin faktor utama bagi anda, kalau mau mulai usaha. Tapi jangan lakukan segalanya untuk mendapatkan modal. Sedapat mungkin, jangan mulai usaha dari dana yang diperoleh dari berhutang. Apalagi harus berbohong pula!

(Sudah dimuat di majalah Masakini Dompet Dhuafa, Oktober 2010). (wi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar