26 Desember 2010

Haji Tomat Membantu Pemuda Terong?

T : Bang Jay, apa yang salah atau keliru dari haji di Indonesia? Kok di negeri kita masih banyak pengangguran dan kaum dhuafa seperti saya, padahal ratusan ribu jamaah haji berangkat ke tanah suci setiap tahunnya? (Andri, 24 tahun, Jakarta)

J : Anda benar ...

Setiap tahun, tak kurang dari dua ratus ribu warga negara Indonesia berangkat menuju Saudi Arabia untuk menunaikan ibadah haji. Mereka bergabung dengan jutaan jamaah dari negara lain, dengan tujuan yang sama. Dengan biaya minimal dua puluh lima juta per orang, tak kurang dari lima puluh triliun rupiah berputar pada ritual tahunan ini, hanya dari jamaah haji Indonesia.

Pertanyaannya, apakah yang bisa diharapkan dari biaya yang sedemikian fantastik itu?

Perjalanan haji adalah perjalanan hijrah. Dalam pemahaman saya, ibadah haji didisain sebagai ibadah yang paripurna. Mereka yang berkesempatan menunaikannya, seyogyanya sudah melaksanakan 4 rukun Islam sebelumnya dengan sebaik-baiknya. Tempaan berpuluh hari di tanah suci, di mana tiada hari tanpa ibadah, diharapkan mampu mendidik para jamaah untuk tetap terkoneksi dengan Yang Maha Kuasa, di manapun mereka berada.

Perjalanan haji adalah perjalanan hijrah. Itulah sebabnya, Harapan para jamaah adalah predikat haji mabrur, yang kemudian tercermin dari perilaku mereka yang semakin membaik setelah kembali ke tanah air masing-masing. Tak ada perbuatan yang dilakukan kecuali untuk kebaikan. Bagi para haji berpredikat mabrur, tidak ada balasan baginya kecuali surga.

Perjalanan haji adalah perjalanan hijrah. Mereka yang berkesempatan ke sana, seperti tengah berpindah menuju tempat yang lebih baik. Tidak saja baik untuk pribadi mereka sendiri, tetapi juga untuk lingkungannya. Dan dalam skala yang lebih besar lagi, mereka mewarnai peradaban bangsanya.

Ibadah haji, seharusnya menjadi sebuah jembatan emas, yang mampu mengubah peradaban sebuah bangsa dari kegelapan menjadi terang-benderang, melalui perilaku individu para haji. Jika demikian keadaannya, maka sangat boleh jadi, masyarakat dengan populasi haji yang semakin bertambah, kondisinya akan semakin baik.

Tapi apa yang kini tengah terjadi di negeri ini? Semakin tahun, jumlah calon jamaah haji terus bertambah. Daftar tunggunya mencapai 2 - 3 tahun. Di sisi lain, kondisi masyarakat sepertinya semakin terpuruk. Jumlah orang miskin cenderung meningkat. Sampah menumpuk di mana saja. Peringkat korupsi di ranking tertinggi. Dan yang menyedihkan, banyak orang yang ditahan karena kasus korupsi, ternyata sudah pernah beribadah haji!

Andri, bisa jadi ada yang salah dalam perjalanan haji, sehingga menghasilkan para haji 'tomat' (pergi tobat pulang kumat). Kita berdoa saja, semoga tidak hanya tobat saat berangkat, tetapi juga terus dipertahankan sampai akhir hayat. Semoga saja mereka juga tergerak hatinya membantu para pengangguran dan kaum dhuafa di lingkungannya.

Dan anda, jangan cuma jadi pemuda 'terong' (terus merongrong). Bangkitlah. Berhijrah lah untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Semoga akan selalu ada jalan yang lebih baik bagi kita semua.

(Telah dimuat di majalah Mabrur edisi 2 November 2010/wi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar