04 Agustus 2011

Ribuan Pejuang Patani di Doktrin Musuhi Thailand Semenjak Anak-anak

Seorang pejabat Intelijen Thailand mengatakan bahwa banyak pejuang Muslim di pedalaman Thailand Selatan direkrut ketika masih anak-anak oleh pejuang Patani setelah kehilangan orang tua mereka akibat serangan kekerasan di wilayah itu.

Sekitar 10.000 pemuda telah kehilangan salah satu atau kedua orangtua mereka karena kekerasan sejak perjuangan pemisahan diri meletus di pedalaman Selatan pada tahun 2004. Sekitar 80% anak yatim di Yala, Patani dan Narathiwat, apakah Muslim atau Buddha, telah kehilangan orang tua mereka karena kekerasan.

Banyak dari pemuda-pemuda Muslim yang berduka tersebut diperkirakan di doktrin dan kemudian ikut bergabung kedalam gerakan pemisahan diri. "Salah satu pemuda yang kemudian menjadi pejuang Islam yang setia, karena ia telah kehilangan ibunya yang meninggal dicekik dengan tali sepatu oleh orang-orang berpakaian hitam (skuad kematian Thailand-Red)," kata seorang perwira intelijen.

"Anak ini mengembangkan kebencian terhadap pihak Thailand dan berkelompok dengan orang-orang yang bernasib sama. Mereka bertemu di perkebunan karet dan kebun-kebun serta saling membantu satu sama lain.

..Banyak dari pemuda-pemuda Muslim yang berduka tersebut diperkirakan di doktrin dan kemudian ikut bergabung kedalam gerakan pemisahan diri..

"Sebagian besar serangan, termasuk penyergapan dan pengeboman merupakan aksi dari anak-anak muda yang kemudian menjadi pejuang Islam Patani yang loyal tersebut.

"Mereka membentuk kelompok yang paling menakutkan dan jumlah mereka ribuan."

Pejabat tersebut, yang meminta tidak disebutkan namanya, mengatakan para pejuang muda Patani sekarang tinggal di seluruh pelosok daerah perkotaan dan pedesaan, serta di hutan baik di dalam maupun di luar tiga provinsi perbatasan selatan, Patani, Yala, dan Narathiwat.

Provinsi Yala, Patani dan Narathiwat di bagian selatan dulunya merupakan wilayah kesultanan Melayu hingga di aneksasi oleh kerajaan Buddha Thailand pada tahun 1902. Mayoritas masyarakat disana menganut ajaran Islam dan bicara dengan dialek Melayu, yang sangat berbeda dengan kebanyakan penganut Buddha Thailand di negeri itu.

Menurut kelompok hak asasi manusia pemerintah pusat Thailand gagal menghukum para pejabat dan pasukan keamanan yang menganiaya dan membunuhi warga sipil Muslim setempat, membuat dendam di hati para pemuda yang keluarganya di bunuh itu hingga kini tetap membara. (up/bp/voai)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar