24 Juni 2010

Filosofi Masker Udara

"....... Apabila tekanan udara di dalam kabin berkurang secara tiba-tiba, masker oksigen akan keluar secara otomatis dari tempatnya sehingga terjangkau. Tetaplah duduk dan kenakan sabuk pengaman. Tarik masker ke arah anda untuk mengalirkan oksigen. Pasang masker menutupi mulut dan hidung, kalungkan talinya di kepala dan bernafaslah seperti biasa.

Bagi anda yang bepergian bersama orang tua dan atau anak-anak, pakailah masker anda terlebih dahulu sebelum anda menolong yang lainnya.”

Mereka yang sering bepergian dengan pesawat terbang pasti familiar dengan pesan ini. Ada serentetan pesan lain yang disampaikan oleh para awak pesawat, yang keseluruhannya harus selalu diumumkan sebelum pesawat tinggal landas, sebagai bagian dari aturan keselamatan penerbangan sipil.

Awalnya, ada pertanyaan dalam hati, mengapa ada kalimat : pakai masker anda terlebih dahulu sebelum menolong yang lainnya. Yang saya pikirkan, anjuran itu mengarahkan semua penumpang untuk egois! Para penumpang diminta untuk menyelamatkan dirinya sendiri!

Pertanyaan itu kemudian dijawab oleh seorang kawan yang bekerja sebagai mekanik pesawat. Intinya, dalam kondisi darurat seperti itu, kemungkinan paling buruk adalah kadar oksigen di dalam kabin menurun drastis. Jika itu terjadi, dalam waktu singkat seseorang bisa mengalami kesulitan bernafas. Akibatnya, ia tidak mampu melakukan aktifitas normal.

Bayangkan bila seseorang mendahulukan menolong orang lain yang kondisinya lemah (anak-anak dan atau orang tua). Dikhawatirkan orang yang berniat baik itu justru kehabisan oksigen dan orang yang ditolong tidak mampu menyelamatkannya. Orang yang ditolong mungkin bisa selamat. Tetapi keselamatan dirinya sendiri terancam. Itulah sebabnya, ia harus menolong dirinya sendiri, agar mampu menolong orang lain!

Dalam kehidupan sehari-hari, filosofi masker udara seringkali menjadi panduan saya bertindak. Aktifitas mengentaskan para pengangguran dari kemiskinan sistemik, mengharuskan saya dan juga aktivis lain di Institut Kemandirian, untuk memiliki kekuatan ekonomi mandiri. Jangan sampai ada konflik kepentingan, sehingga dana yang seharusnya digunakan untuk mengentaskan orang lain, justru dipakai untuk kepentingan sendiri.

Banyak jalan menuju Roma, begitu kata pepatah. Tentu saja tidak bisa dibantah. Banyak cara juga untuk menolong orang miskin. Dari sekian banyak cara, langkah awal yang paling efektif untuk kita lakukan adalah tidak menjadi orang miskin. Dengan tidak menjadi orang miskin, setidaknya kita sudah mengurangi jumlah orang miskin. Implikasinya, sejumlah bantuan bisa diberikan pada mereka, minus jatah kita.

(Sudah dimuat di rubrik Inspirasi, harian Semarang tanggal 19 Juni 2010/wi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar