03 Agustus 2011

Joki dan Kudanya

Pekan ini saya dapat pelajaran bagus dari sang Maestro dunia usaha Indonesia, pak Bambang Mustari. Publik Indonesia lebih familiar dengan panggilan popnya, oom Bob Sadino. Bukan soal bagaimana mengembangkan usaha, tetapi lebih pada bagaimana menjadi pemenang dalam kehidupan.

Sore itu, usai menemani beliau berseminar, seperti biasa saya ikut mampir ke kediaman yang besar dan asri di bilangan Lebak Bulus. Di rumah tipe 21 (luasnya dua hektar, rumahnya satu), beliau punya banyak hewan kesayangan. Ada kambing, anjing, kucing dan kuda.

Kuda adalah binatang favorit oom. Ilmu perkudaannya luar biasa lengkap. Buku-buku plus pengalamannya komplit. Kala masih muda, beliau adalah seorang penunggang kuda yang handal. Dan salah satu anak beliau adalah joki dengan ratusan trophy kejuaraan, baik tingkat nasional maupun internasional.

Sore itu, saya tanyakan, apa resepnya untuk bisa jadi juara lomba menunggang kuda? Jawabnya ternyata sederhana. Joki yang menjadi juara adalah joki yang mengenal kudanya. Joki yang menjadi juara adalah joki yang mampu menguasai kudanya.

Untuk mendapatkan kedua hal itu, seorang joki harus sesering mungkin berinteraksi dengan kudanya. Latihan harian seringkali tidak cukup. Tak jarang, sang joki ikut pula memandikan kudanya. Bahkan, ada joki yang secara ekstrim tidur di kandang bersama kudanya.

Mengambil analogi dari lomba menunggang kuda, ternyata pola sukses manusia pun demikian. Bedanya, kalau dalam menunggang kuda, sang joki harus menguasai kudanya, maka dalam kehidupan, manusia harus mampu mengenal dan menguasai hawa nafsunya.

Di semua agama besar di dunia, mengenal ritual berpuasa, dengan metode pelaksanaan yang berbeda-beda. Ada yang sama sekali tidak boleh makan dan minum selama waktu tertentu. Ada yang berpantang jenis makanan atau minuman tertentu. Ketika para pemeluk agama-agama besar itu berpuasa, mereka menahan diri dari keinginan untuk mengkonsumsi makanan atau minuman, yang di hari biasa, boleh mereka nikmati.

Apapun ritual yang dilaksanakan, tujuannya adalah untuk lebih mengenal dan menguasai hawa nafsu. Menjadikan manusia sebagai panglima atau pemimpin bagi hawa nafsunya. Bukan sebaliknya.

Betapa banyak kita temui di antara kita, atau bahkan sifat itu ada di dalam diri kita, dimana hawa nafsu menguasai diri. Ingin cepat kaya, lalu korupsi. Ingin cepat bekerja, 'nyogok'. Ingin dapat nilai bagus, 'nyontek'. Ujung-ujungnya, manusia akan sampai pada titik kegagalan dalam hidupnya. Ritual puasa, setidaknya diharapkan mampu menahan gejolak nafsu serba instan itu.

Ritual puasa hadir kembali di antara kita. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Semoga kita bisa melewati sekolah Ramadhan, dan akan lulus sebagai manusia juara, manusia paripurna. Manusia yang berhasil menjadi pemimpin bagi hawa nafsunya.

Zainal Abidin

Ketua Tim Pendiri Akademi Kemandirian

Www.zainalabidin.net

(Sudah dimuat di Harian Semarang edisi Jumat, 29 Juli 2011, rubrik Inspirasi/wi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar