13 Agustus 2011

'Manusia Kanibal' Sumanto Lebih Mulia dari Anda, bila Anda Tak Mau Sedekah

Siapa yang tak kenal Sumanto? Manusia seantero negeri ini pasti mengenal namanya. Beberapa tahun silam, publik digeberkan dengan berita tak lazim, pria warga Purbolinggo ini memiliki kebiasaan memakan mayat.

Di balik kesan angker, sadis dan menjijikkan yang disandangnya, ternyata ‘si manusia kanibal’ Sumanto memiliki akhlak mulia: gemar bersedekah. Jika kita yang manusia normal ini pelit dan enggan bersedekah, maka kesalihan kita tak lebih baik dari Sumanto. Na’udzubillah min dzalik.

Di bulan puasa Ramadhan, Sumanto, selalu kebanjiran rezeki. Ia sering diundang menjadi bintang tamu bersama Haji Supono Mustajab, pemilik Pesantren sekaligus Balai pengobatan: Wisma Rehabilitasi Mental dan Narkoba di Purbalingga.

Meski hanya duduk di panggung mendampingi Ustadz Supono yang memberikan ceramah agama, masyarakat selalu datang karena penasaran dengan Sumanto. “Kalau ada Sumanto, pengajiannya selalu ramai,” kata Supono, Rabu (10/8/2011).

Tak bisa dipungkiri, kehadiran Sumanto dalam pengajian yang diasuh Ustadz Supono, adalah magnet tersendiri bagi jamaah. Mereka sangat antusias dan penasaran ingin melihat secara langsung sosok Sumanto, si manusia pemakan mayat yang kini sudah bertaubat.

....Sumanto rela memberikan rezekinya itu untuk disumbangkan kepada pengemis dan pengamen...

Menurut Ustadz Supono, sekali pengajian infak yang bisa dikumpulkan melejit mencapai Rp 9 juta. Dari infak tersebut, Sumanto tentu mendapatkan bagian berupa honor.

Uniknya Sumanto rela memberikan rezekinya itu untuk disumbangkan kepada pengemis dan pengamen. Namun Supono tidak memerinci berapa banyak sumbangan yang diberikan Sumanto untuk bersedekah itu.

So, jangan kalah sama Sumanto. Melalui momen bulan Ramadhan ini, mari kita suburkan motivasi berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit. Ingatlah akan keutamaan sedekah: penolak bala, penyubur pahala, dan melipatgandakan rezeki; bagai sebutir benih yang ditanam akan menghasilkan tujuh cabang, yang pada tiap-tiap cabang itu terjurai seratus biji. [taz/tin/voai]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar