21 Juli 2010

Menyongsong Ramadhan, Membangun Peradaban dengan Tradisi Keilmuan

Aktivitas keilmuan,sebuah amalan utama

Tidak terasa sudah,saat ini kita sedang berada di Bulan Sya’ban,dimana sebentar lagi kita akan “kedatangan” tamu istimewa,yaitu Bulan Ramadhan. Kurang dari satu Bulan lagi,ramadhan itu lagi-lagi menyapa kita setiap tahunnya.Dan seorang muslim pasti merindukan Bulan Ramadhan,karena mengingat banyak kegiatan yang menyenangkan dan juga mengingat apa-apa yang Allah janjikan pada bulan Ramadhan.

Mungkin saja silaturahminya yang membaut rindu,atau bermain bola saat selesai shalat subuh,atau tadarusan Quran setelah tarawih,atau mabit bersama di masjid, atau juga lebarannya yang di nanti-nanti,terlepas dari itu semua, memang wajar jika kita senang dan rindu bertemu dengan ramadhan karena keutamaan pada bulan ini.

Ramadhan juga dapat kita jadikan ladang untuk beramal baik,karena hadits-hadits keutamaan ramadhan ini sangat banyak. Jika kita mengharap pahala Allah,dan beriman maka dosa kita akan dihapus. Maka perbanyak amal merupakan kesempatan langka yang mungkin hanya ada setahun sekali saja.

Salah satu amal yang sangat tinggi nilainya di hadapan Allah adalah segala aktivitas yang berkaitan dengan urusan keilmuan, mulai dari menuntut ilmu, mengajarkannya, atau segala aktivitas yang terkait dengan pengembangan keilmuan,seperti kajian ilmiah,menulis,diskusi dan lain sebagainya.

Inilah amalan yang paling utama,setelah amalan-amalan wajib terpenuhi. Melalui ilmulah manusia dapat mengenal Allah dan memahami cara beribadah kepada-Nya dengan benar. Hanya dengan ilmu manusia dapat memahami mana yang benar dan mana yang salah, dan dengan ilmulah manusia dapat mengerjakan amalan-amalan lainya dan karenanya dinaikkan beberapa derajat

”Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS Al-Mujadilah:11)

Jika kita lihat hadits dan atsar juga pendapat para ulama ,kita akan mengetahui bahwa menuntut ilmu,membaca,menulis,mengajarkanya merupakan aktivitas yang mereka gemari,dan juga karena mengingat pentingnya masalah ilmu ini.Dalam buku Jalan Menuju Hidayah,Dr. Yusuf Qaradhawi menceritakan bagaimana salafus shalih memaknai aktivitas keilmuan

”Barangsiapa menempuh jalan yang padanya dia menuntut ilmu, maka Allah telah menuntunnya jalan ke surga.” (HR Muslim).

Ibnu Abbas r.a. berkata: ”Mendiskusikan ilmu pada sebagian malam lebih saya sukai daripada menghidupkan malam itu.”

Imam Syafii rahimahullah berkata: ”Menuntut ilmu adalah lebih utama daripada shalat sunnah.”

As -Syafii berkata juga .”Tidak ada suatu amalan setelah melaksanakan hal-hal yang wajib yang lebih utama selain mencari ilmu

Diriwayatkan dari Imam Ahmad : Ia pernah ditanya, “Manakah amalan yang paling engkau sukai? Saya duduk di malam hari sambil mempelajari ilmu atau mengerjakan shalat sunat? Jawab Imam Ahmad ,”Kalian duduk dimalam hari karena untuk belajar perkara-perkara yang berhubungan dengan agama kalian,itu lebih saya sukai…”

Ibnu Wahb berkata .” Saya pernah berada dihadapan Malik bin Anas,lalu saya meletakkan buku tulis –buku tulisku karena saya ingin segera melaksanakan shalat sunat. Melihat apa yang saya perbuat itu,lantas Anas menegur,”Mengapa kalian mengerjakan sesuatu yang tidak lebih utama daripada yang kalian tinggalkan

Seperti itulah salafus shalih menyadari dan bersungguh-sungguh terhadap aktivitas dan tradisi kelimuan

Majelis Ilmiyah Ramadhan

Abu Hurairah berkata ‘Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang pergi ke masjidku ini dengan tujuan mencari ilmu,atau mengajarkan ilmu,maka ia berkedudukan sama seperti seorang mujahid di jalan Allah (jihad fi sabilillah) ( HR Ibnu Majah,Shahihul Jami’ish shagir)

Mengingat keutamaan bulan Ramadhan ,rasulullah setiap ramadhan menghidupkan majelis-majelis ilmu di masjid, setoran hafalan kepada jibril, ceramah dan juga memperbanyak amalan dan setelah rasul wafat estafet kenabian diteruskan kepada generasi emas salafus shalih dan dilanjutkan kepada para ulama.

Kita mungkin pernah mendengar hadits bahwa para nabi tidak meninggalkan dinar dan dirham,tapi mereka meninggalkan ilmu.Ilmu ini yang dilanjutkan untuk kebaikan umat dan hujjah atas amalannya

Para ulama yang mendapat gelar pewaris nabi ini dengan perjuangan yang berat menjaga orisinilitas dengan ilmunya dan juga mereka sangat mengetahui bahwa amalan yang terbaik itu yaitu tentang kelimuan,sehingga warisan sunnah rasul ini sampai sekarang dapat kita rasakan.

Dan tradisi keilmuan ini yang membuat sebuah peradaban.DImana para sahabat berubah dari zaman jahiliah menuju takwa dan ini diraih dengan ilmu.Dan terus berlanjut sampai sekarang,yang tetap menjadikan peradaban yang baik,selama tradisi ilmu terus berlanjut

Dr. Adian Husaini (ketua DDII ) pernah menyatakan saat Prof. Wahbah az-Zuhaili, penulis kitab al-Fiqh al-Islam wa Adillatuhu dan Tafsir al-Munir pernah ditanya, berapa jam beliau membaca dan menulis. Beliau menjawab: “Tidak kurang dari 16 jam sehari”.

Juga beliau menyebutkan bahwa Imam Nawawi Rahimahullah dengan kitab “Syarah Muslimnya”disebutkan bahwa beliau setiap hari belajar 8 cabang ilmu dari subuh sampai larut malam. Imam Ahmad bin hanbal pernah menempuh perjalanan ribuan kilometer untuk mencari satu Hadits, bertani untuk mencari rezeki, dan masih membawa-bawa tempat tinta pada usia 70 tahun.

Imam al-Bukhari menulis kitab Shahih-nya selama 16 tahun dan selalu shalat dua rakaat setiap kali menulis satu Hadis, serta berdoa meminta petunjuk Allah. Ibnu Taimiyah dan Sayyid Qutb rahimahullah yang tetap menulis walau dipenjara,Ibnu Hajar yang menyelesaikan karya agungnya “Fathul Baari” dalam 30 tahun.

Itulah tradisi yang berlanjut sampai sekarang masih berlanjut ,dan ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk giat dalam mebaca,menulis,dan juga mencari ilmu,sesuai hadits bahwa menuntut ilmu dan mengajarkannya adalah jihad,dan dapat dibayangkan jika jihad tersebut dijalankan pada bulan ramadhan??

Mengingat apa yang disabadakan rasul bahwa “jika kalian mengetahui apa yang ada dalam ramadhan,maka kalian akan mendambakan ramadhan sepanjang masa”Maka,sebagai seorang muslim kita seharusnya memanfaatkan keberkahan dan keistimewaan yang terjadi dalam bulan Ramadhan,dan khususnya dalam hal keilmuan.

Momentum ini sangat tepat,dimana syaitan dibelenggu dan juga kondisi ruhiyah kita sedang tinggi ,sehingga kita selalu bersemangat menjalankan aktivitas keilmuan pada bulan Ramadhan.

Aktivitas keilmuan seharusnya tetap menjadi aktivitas paling utama di bulan Ramadhan.

Jika kita tilik perkataan seorang sahabat terdekat nabi Ibnu Abbas r.a , yang berkata “Belajar ilmu pada sebagian malam lebih saya sukai daripada menghidupkan malam itu (dengan beribadah),seharusnya aktivitas kelimuan lebih digiatkan mengingat hadits-hadits keutamaan Ilmu dan juga sikap para sahabat terhadap ilmu berbarengan dengan amalan-amalan lain yang juga utama

Tradisi Keilmuan di Bulan Ramadhan

Tradisi keilmuan yang baik ini perlu ditingkatkan dan dikembangkan dengan metoda yang menarik. Sehingga jika dahulu majlis-majlis taklim dan masjid-masjid hanya mengadakan acara tadarusan Al-Quran, tetapi sekarang sudah mulai banyak kajian -kajian kajian tentang aqidah dan pemikiran Islam,zionisme,kesehatan,pemurtadan,ilmu ,Ushul Fiqh,Ulumul Quran, bahasa arab, dan berbagai kajian bidang keilmuan Islam lainnya.

Di dunia pendidikan,seperti pesantren,sekolah,kampus dimana orang-orang yang menuntut ilmu berada disini,ada baiknya dikembangkan kegiatan-kegiatan yang berafiliasi pada keilmuan.Tidak hanya digencarkan program tilawah,atau tarawih saja,tetapi juga kajian-kajian ilmiah keislaman,dimana manfaatnya sangat besar sekali.Dimana,disaat ini muncul pemikiran-pemikiran yang menginvasi umat Islam seperti liberalisme,pluralisme,dan juga sekulerisme.

Pemikiran-pemikiran yang menyimpang dapat ditangkal dengan ilmu,dan juga kembali kepemahaman yang benar.Dimulai dari majelis-majelis ilmu pada zaman rasul, pemahaman terbentuk dan teruslah tradisi kelimuan dijalankan sehingga terbentuklah dari sebuah pemikiran yaitu sebuah peradaban.Mungkin peradaban Islam kembali jaya,jika dimulai dari tradisi keilmuan.

Saat ini sudah digencarkan di pesantren-pesantren kajian,atau disekolah yang sudah ada mentoring,juga di kampus seperti halaqah dan juga mentoring .Selain itu juga kita harus tetap mencari ilmu dan juga mengajarkannya sehingga tradisi kelimuan ini tetap berlanjut bahkan ilmu ini akan tetap mengalir walaupun kita telah meninggal dunia.Semoga pada bulan Syaban ini kita diberikan kekuatan untuk bertemu dengan ramadhan dan mempersiapkan diri dalam menyambut bulan Ramadhan nanti……

Profil Singkat

Muhammad Rizki Utama

Mahasiswa Arsitektur Institut Teknologi Bandung; Sekjen Keluarga Islam Arsitektur ITB

lesus123@yahoo.com; http://rizkilesus.wordpress.com/

(em)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar