22 September 2010

GONG

Pekan ini, saya sempatkan menemui seorang kawan penulis, yang namanya sudah saya kenal ketika masih duduk di SMA. Cerita-cerita petualangannya, yang secara rutin terbit di sebuah majalah remaja, sering kali mengilhami perjalanan saya ke berbagai tempat di tanah air. Namanya Heri Hendrayana Harris. Ia lebih dikenal dengan nama pena Gola Gong.

Bertemu dengan mas Gong, begitu saya memanggilnya, di rumahnya yang sederhana di kawasan Serang, selalu saja semakin menebalkan semangat untuk terus berkarya. Di kediamannya itu, ia banyak menghabiskan hari-harinya untuk terus membesarkan Rumah Dunia. Itu lah sebuah rumah buat semua manusia yang haus belajar untuk menambah ilmu dan keterampilan, melalui aktivitas membaca (perpustakaan), seni panggung (puisi dan drama), seminar maupun pelatihan keterampilan, sekalipun kondisinya sangat terbatas. Beberapa kali saya sempat diminta berbagi ilmu di panggung itu.

Di usia yang sudah tidak muda lagi (usianya sudah hampir menyentuh setengah abad), wajahnya belum menunjukkan kelelahan untuk terus berkreasi. Hanya dengan satu tangan (tangan kirinya putus ketika masih kecil), ditambah dengan deraan penyakit yang semakin lama semakin menggerogoti daya tahan tubuhnya, ia masih terus berkarya. Buku-buku lamanya masih terus dicetak ulang. Buku-buku baru terus muncul. Sebagian besar royalti yang ia terima dari buku-bukunya, tersalur untuk Rumah Dunia. Ia dan keluarganya, hidup sangat-sangat sederhana.

Berkomunikasi dengan mas Gong, selalu saja memunculkan optimisme tentang masa depan. Dengan kondisi yang sudah jauh menurun, ia masih bersemangat bercerita tentang mimpi-mimpinya. Ia ingin membebaskan tanah di sekitar tempat tinggalnya, untuk memperluas Rumah Dunia. Dibantu oleh istri dan beberapa sukarelawan, ia menyuarakan Rumah Dunia ke seantero negeri, lewat berbagai media.

Kadang-kadang, saya menganggapnya tidak bisa mengukur diri. Ia berusaha, bekerja, seolah-olah ia orang yang kelewat percaya diri. Ia seolah tidak memperhitungkan, bahwa ia bekerja hanya dengan satu tangan. Ia seolah juga tidak memperhitungkan, bahwa beberapa penyakit sudah mulai menghambat aktivitasnya.

Di akhir pertemuan, saya berpesan untuk menjaga kesehatannya. Mengingatkannya, untuk tidak terlalu memforsir kekuatan jauh di luar batas kemampuannya. Tetapi justru di ujung jumpa itu, ia seolah menampar saya.

“Jay. Tanganku sudah buntung puluhan tahun yang lalu. Dan itu tidak membuatku menyerah. Buntung, itu kenyataan. Tapi menyerah begitu saja, itu kebangetan …!”

Terima kasih, mas Gong. Saya suka tamparannya …



(Sudah dimuat di Harian Semarang, Rubrik Inspirasi, Sabtu, 18 September 2010)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar