14 September 2010

Kaligrafi Kulit Telur, Peluang Usaha Bahan Dasar Cuma-Cuma

Berbekal limbah kulit telur, seorang pria di Jakarta Timur bisa menghasilkan karya seni kaligrafi bernilai tinggi. Adalah Cahyudi Susanto yang membuat kulit telur menjadi barang mahal. "Saya memang suka menggambar kaligrafi dan saya mencoba menggunakan media yang gratis yaitu kulit telur," ujar pria asal Kota Tegal, Jawa Tengah ini.

Menurut Yudi, proses membuat kaligrafi dengan bahan daur ulang ini sangat sederhana. Terlebih dahulu kulit telur dikumpulkan. Untuk urusan yang satu ini Yudi tak memiliki masalah karena tetangga di sekitar rumahnya siap memasok kebutuhan akan kulit telur yang tak terpakai. Bahan ini kemudian dibersihkan dengan deterjen dan diambil kulit arinya untuk kemudian dikeringkan.

Proses pembuatan sendiri dimulai dengan memberi lem pada kulit telur dan ditempelkan sesuai pola yang sudah dibuat. Setelah kering baru ditambahkan warna lain agar nampak bagus. Dan jadilah sebuah kaligrafi yang indah dan sepintas tak membuat orang berpikir terbuat dari kulit telur.

Prospek kaligrafi dengan bahan terbuang ini menurut Yudi lumayan bagus. "Sekarang kan eranya go green dimana orang lebih suka menikmati karya dari bahan daur ulang," jelasnya. Karena itu, tak heran ada empat galeri yang kini menampung karyanya. Yudi juga memasarkan secara online dengan harapan orang luar ikut tertarik dengan karyanya.

Sayang, Yudi masih memiliki kendala dalam meningkatkan produksinya, yaitu kurangnya sumber daya manusia. Saat ini untuk satu produk membutuhkan waktu tiga sampai empat hari. "Padahal, dengan SDM yang kreatif sebenarnya bisa menghasilkan empat produk setiap hari," ujarnya. Nah, ada yang tertarik menggeluti seni kaligrafi dari kulit telur.

Tak hanya Yudi, seniman Doni Setiawan juga sangat kreatif. Sampah kulit telur diubah menjadi kaligrafi yang bernilai. Di rumahnya Jl. KH Hasyim Asyari, Kota Bangkalan, menjadi galeri karya-karya kaligrafinya yang diminati banyak orang untuk hiasan dinding.

Selain kaligrafi, semula dia melukis, mendesain untuk kaos dan menjual kaos oblong. Pekerjaan rutin ini, tidak membuatnya puas. Dia mulai mencari sensasi. Dari sekian banyak sampah yang setiap hari dibuang dari toko mracang ibunya, sampah botol dan kulit telur yang membuat dia tertarik.

Beberapa botol dan kulit telur yang dibuang ke tong sampah diambilnya. Kulit telur dibersihkan dengan sabun dan air, begitu pula botolnya. ”Saya berpikir waktu itu bagaimana kalau botol ditempeli kulit telur sepertinya menarik bila dipajang,’’ katanya.

Dia mulai sibuk dengan kegiatan barunya menempeli botol dengan kulit telur. Kegiatan lamanya melukis untuk sementara ditinggalkan. Begitu pula mendesain kaos, diberikan pada teman-temannya.

Dasar seniman, dia mulai keasyikan dengan kesibukan barunya. Hanya berbekal kulit telur dan lem untuk perekat. Juga kuas dan cat, untuk memberi warna.

Setelah beberapa botol jadi. Dia juga menempeli vas bunga dengan kulit telur. Hasil karyanya rupanya tidak dilirik orang. Semula teman-teman dekat dan kerabatnya yang memesan.

Dia mulai bertanya, kenapa karya seperti ini tidak laku di pasaran. Dia membuka internet. Ternyata sudah banyak orang yang membikin vas bunga dengan ditempeli kulit telur.

Dia pun berubah haluan ke kaligrafi. Dia bikin kaligrafi seperti tulisan iqro dan lafal-lafal tulisan Arab lainnya. Dalam waktu tiga hari sampai satu minggu dia mampu menyelesaikan pekerjaannya membuat tulisan kaligrafi dengan ditempeli kulit telur.

“Ada dua macam untuk menempeli kaligrafi dengan kulit telur. Apa perlu rata dengan ditempeli kulit telur atau pecah-pecah. Bedanya cuma waktu pembuatannya saja. Bila kaligrafi itu rata ditempeli kulit telur, tentunya waktunya lebih lama. Dan tentunya harganya lebih mahal,’’ ungkapnya.

Proses pembuatannya cuku rumit. Kaligrafi ditulis dulu di kertas. Lalu ditempel ke kayu. Lalu kayu itu digergaji sesuai dengan tulisan kaligrafi.

Kemudian kertas dibuang. Kayu yang berbentuk kaligrafi ditempeli dengan kulit telur. Untuk pembuatannya dia mengerjakan sendiri. Karena memerlukan ketelatenan yang tinggi.

Tulisan kaligrafi yang ditempeli kulit telur lalu diratakan dengan semacam lem yang terbuat dari bahan khusus. Gunanya agar lebih lengket.

Lalu ditutupi dengan cat berwarna hitam atau coklat. Soal warna tergantung selera pemesan. Setelah kering lalu diamplas hingga tampak tulisan kaligrafi yang telah ditempeli kulit telur.

Karena pembuatan karya seni ini cukup lama, Doni hanya memenuhi pemesan saja. Meski begitu sudah banyak pemesan baik dari Surabaya dan daerah lain di Jatim, Jogja dan Jakarta. Bukan hanya kaligrafi, juga motif batik, dan lambang suatu perusahaan.

”Saya sekarang mendapat pesanan dari kolega di Jogjakarta, membikin logo perusahannya. Logonya sudah dikirim melalui internet. Sekarang sedang dalam penggarapan,’’ katanya.

Doni tidak mematok terlalu mahal hasil karyanya yang unik ini. Dilempar ke pasaran berkisar Rp 250 ribu hingga satu juta rupiah. ”Semakin rumit pesanan dari seseorang, harga lebih mahal,’’ ujar lajang ini. (fn/lp/vs/sm)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar