24 Juli 2010

Melirik Sejenak Rahasia Sukses Orang Jepang


Apa sajakah sikap-sikap orang Jepang yang bisa kita contoh biar bisa sukses kayak bangsa mereka ??
Berikut adalah 10 rahasia Sukses orang Jepang:

1. Kerja Keras

Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.

2. Malu

Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dalam pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

3. Hidup Hemat

Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.

4. Loyalitas

Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.

5. Inovasi

Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.

6. Pantang Menyerah

Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia. Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita. Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo. Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen). Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini

7. Budaya Baca

Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.

8. Kerjasama Kelompok

Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok”. Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.

9. Mandiri

Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak saya yang paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.

10. Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua

Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini.

Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki, maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.
Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena “hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang. Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Sementara itu, bermodalkan pinjaman dari sang ayah --miliarder ternama Hong Kong Li Ka-shing-- serta intuisi bisnis yang tajam, Richard Li membangun bisnisnya sendiri yang kemudian mampu menyaingi pamor sang ayah.

Majalah Forbes menilai Li sebagai investor dan pengusaha yang berani mengambil risiko dan cepat dalam memutuskan sebuah transaksi. Dengan nilai kekayaan bersih mencapai USD1,1 miliar, dia pun masuk jajaran orang terkaya di dunia.

Awal terjunnya Li ke dunia bisnis bermodalkan pinjaman ayahnya, Li Ka-shing, pada 1991 senilai USD250 juta. Dana tersebut digunakannya untuk membuat stasiun televisi satelit Kantor Berita Star TV. Ketika itu, dia baru berusia 20 tahunan.

Terlahir sebagai anak miliarder, Li muda tampaknya mewarisi intuisi bisnis serta ketangguhan mental untuk mengambil risiko yang dibutuhkan dalam berbisnis. Li memupuk Star TV medianya hingga dijual kepada Taipan Media Rupert Murdoch senilai USD950 juta. Dana itu kemudian dikembangkannya dengan mendirikan Pacific Century Group yang berbasis di Hong Kong, dan diinvestasikan dalam bidang teknologi, properti, dan pelayanan kesehatan.

Namun, Li lebih memilih mengembangkan kerajaan telekomunikasinya sendiri yakni Pacific Century Cyber Works Ltd (PCCW) yang berbasis di Singapura. PCCW merupakan perusahaan telekomunikasi yang menawarkan aneka macam jasa, mulai dari telepon, siaran TV, dan layanan internet.

Dalam perkembangannya, perusahaan itu kemudian menjadi operator telepon dengan jaringan terbesar di Hong Kong. Pada Agustus 2000, PCCW mengakuisisi Hong Kong Telecom, menjadikannya sebagai perusahaan telekomunikasi terbesar di Hong Kong. Pada 2000, Li membeli Cable & Wireless HKT.

Langkah Li tersebut membuahkan sebutan baru atas dirinya yakni Superbody, yang merujuk pada keberaniannya dalam mengakuisisi perusahaan. Pada Januari 2003, PCCW membentuk anak perusahaan dengan nama Cascade. Perusahaan itu melayani PCCW dalam servis dan operasi jaringan telekomunikasi, serta menyediakan desain jaringan infrastruktur dan dukungan teknikal.

Pada 2006, pendapatan PCCW meningkat 14%. Pertumbuhan ini dikontribusi oleh pertumbuhan TV dan konten yang merupakan dua ladang utama penghasilannya yang baru, dengan pertumbuhan mencapai 71% dibandingkan tahun sebelumnya. Aset PCCW pun tercatat tumbuh mencapai USD28 miliar.

Seperti yang pernah dilakukannya dengan perusahaan televisinya, Li kemudian menjual sahamnya di perusahaan telekomunikasi tersebut kepada seorang investor Hong Kong. Dalam mengembangkan perusahaannya, Li memang tidak pernah malu untuk bermitra dengan pengusaha lainnya. Namun, pertengahan Juli lalu Richard Li kembali meningkatkan kepemilikan sahamnya di PCCW sebesar 28,7% setelah membeli 2,16 juta saham dengan nilai per saham mencapai 1,99 dolar Hong Kong. Ini ketiga kalinya Li meningkatkan kepemilikan sahamnya di perusahaan tersebut.

Channel News Asia melaporkan, peningkatan kepemilikan saham tersebut seiring dengan penolakan pengadilan Hong Kong pada April lalu atas niat Li untuk menjadikan PCCW sebagai perusahaan pribadi. Selain bidang teknologi, Li juga memiliki kepemilikan sebesar 55% pada Gedung Marunouchi yang bernilai USD400 juta di Tokyo. Pada Agustus 2006, Li juga membeli 50% saham Hong Kong Economic Journal senilai USD32,1 juta.

Dalam wawancara dengan Insight, Li mengungkapkan keinginannya untuk mengembangkan sayap bisnisnya di Asia Pasifik. Dia ingin menerapkan bisnisnya seperti Softbank asal Jepang dan CMGI asal Amerika. "Tapi, kita ingin lebih maju dibandingkan perusahaan tersebut," tegasnya.

Li memang luar biasa dan memiliki nilai lebih dibandingkan para pewaris kekayaan lainnya. Dia mampu mengembangkan kekayaan yang dilimpahkan ayahnya dengan berinovasi di bidang lain. Prestasi tersebut membuatnya dijuluki Bill Gates Asia dan Little Superman atau Superboy.

Pada 1990, wajahnya kerapkali menghiasi sampul-sampul majalah. Saat ini di usianya yang memasuki 42 tahun, namanya tetap bersinar. Li yang beberapa tahun lalu hanya dilihat sebagai putra bungsu dalam keluarga Ka-shing, kini menjelma menjadi legenda bisnis tersendiri. Dia juga menjadi salah satu pengusaha muda paling bersinar di Asia. Sudah bukan rahasia lagi bila hubungan Li dengan ayahnya tidak harmonis.

Selama bertahun-tahun, Li selalu mencoba melepaskan diri dari pengaruh sang ayah. Kisah mengenai hubungan ayah-anak itu kerap mengisi media. The Asia Mag melaporkan bahwa hubungan Li dan ayahnya tersendat karena faktor ego masing-masing. BCC menuliskan bahwa kisah hubungan antara Li dan ayahnya mirip opera sabun. Namun, publik Hong Kong memahami keinginan Li untuk melepaskan diri dari pengaruh orangtuanya.

Kini, setelah berhasil lepas dari bayang-bayang sang ayah, sebagai pengusaha Li juga termasuk rajin mengurusi hal-hal yang berbau sosial. Dia terlibat berbagai organisasi nirlaba. Dia menjabat Ketua Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) untuk bidang teknologi informasi dan telekomunikasi. Dia juga aktif sebagai anggota Center for Strategic and International Studies (CSIS), The International Advisory Board of The Center for International Development, The Global Information Infrastructure Commission, dan The United Nations Information and Communication Technology Advisory Group.

Aksi filantropi terbesarnya tercatat pada 2003 ketika ia menyumbang USD1 juta bagi korban serangan virus severe acute respiratory syndrome (SARS) yang melanda 29 negara.

Di sela-sela waktu senggangnya, pria kelahiran 8 November 1966 ini juga sering memuaskan hobinya menyelam di lautan. Dia juga mampu mengendarai pesawat. Ketika kecil, Li juga belajar bermain biola sehingga tak mengherankan jika dia kerap menyumbangkan uangnya untuk upaya pengembangan kesenian.

Walaupun telah menjadi orang superkaya, Li mengaku tidak terlalu nyaman dengan hal itu. Dia bahkan menilai kesenjangan antara orang kaya dan miskin di Hong Kong sangat lebar sehingga Hong Kong pada suatu saat bisa menghadapi instabilitas sosial.

"Jika mimpi Hong Kong menjadi hilang, masyarakat kita akan menderita," ujarnya.

Pada Desember 2006, Richard Li berpartisipasi dalam pemilihan Komite Pemilihan Hong Kong. Komite Pemilihan yang beranggotakan 800 orang memiliki kekuasaan untuk mengangkat Chief Executive untuk Hong Kong di tahun berikutnya. Karena ukurannya yang kecil dan komposisinya yang memang didesain untuk menguntungkan kalangan propengusaha serta sektor kaya, pemilihan Chief Executive Hong Kong itu dijuluki penduduk sebagai sebagai pemilihan lingkaran kecil.

Namun, tak seperti taipan tradisional China yang umumnya mendukung kalangan propengusaha, Richard Li menggunakan slogan "Demokrasi yang Sesungguhnya", yang secara implisit mengejek pemilihan lingkaran kecil yang terjadi.

Dia juga berkampanye secara langsung di jalanan Hong Kong dengan menyampaikan pamfletnya, dan juga menelpon secara pribadi para pemilih. Dia juga melakukan berbagai kegiatan kampanye dengan advokat prodemokrasi Charles Mok yang juga mencalonkan diri dalam komite tersebut.

Berkat sikap prodemokrasi yang diusung keduanya, Richard Li dan Charles Mok akhirnya memang terpilih ke dalam komite tersebut. Namun, gara-gara aksi prodemokrasi yang terang-terangan tersebut, konon Richard Li dan Charles Mok dimasukkan dalam daftar hitam politik oleh pemerintah China. (fn/fj/ok) www.suaramedia.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar