24 Agustus 2010

Buah Manis Terlahir Dari Ide Gila Mantan Direktur Sebuah Bank

Darul Mahbar, Direktur Utama sebuah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) nekat berhenti kerja untuk membangun usaha barunya di Jakarta. Kini, tindakan gila itu mulai berbuah manis.

"Saya bersyukur telah memilih resign dari posisi Dirut (Direktur Utama) sebuah BPR di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Sebab, sekarang dengan berbisnis, saya bisa memiliki kebebasan waktu bersama keluarga," ujar Darul Mahbar, pemilik usaha Tri Agro Sukses, memulai percakapannya dengan Kantor Berita Warta Kota di rukonya di Semanan Indah, Kalideres, Jakarta Barat, belum lama ini.

Bisnis yang dibangun Darul Mahbar bersama teman akrabnya, Sanusi, saat ini fokus pada usaha gula aren batok linggau dan minuman kesehatan herbal. Persisnya jahe merah instan, kunyit, dan temu lawak instan.

Darul mengaku, saat ini dia bersama keluarganya masih tinggal di rumah kontrakan. Tapi, katanya, dia sekarang merasa lebih sukses dibandingkan sebelumnya saat masih menjadi Dirut BPR.

"Bagi saya, waktu bersama keluarga merupakan sesuatu yang berharga. Sekarang, saya bisa nganter anak sekolah. Bisa jalan sama anak-istri, itu enggak perlu nunggu hari libur,” ujar Darul yang memiliki 10 karyawan.

Pria kelahiran Musi Rawas, 23 Desember 1970, ini bersyukur dalam waktu dua tahun dia berhasil mendapatkan penghasilan dari bisnisnya melebihi gaji dan fasilitas Dirut BPR. "Dulu gaji saya sekitar Rp 7 juta per bulan. Gaji segitu di kampung kan besar. Tapi, gaji besar, pengeluaran juga besar. Begitulah gaya hidup karyawan. Ujung-ujungnya, utang banyak," ujarnya.

Menurut Darul, langkah resign itu dianggap banyak temannya sebagai tindakan tidak rasional dan nekat. Apalagi saat membuat keputusan itu dia belum memiliki rencana apa-apa. Yang terpikirkan, pokoknya ke Jakarta mau bisnis.

Tidak heran, banyak orang yang berpikiran negatif terhadap keputusan Darul. Beruntung, istrinya bisa memahami dan mendukung tindakannya. Itulah yang membuat pendirian Darul semakin kokoh.

"Saya akui, modal saya ketika itu, hanya keyakinan dan nekat. Bukan uang. Saya juga percaya Sanusi yang ngajak saya berbisnis di Jakarta. Saya yakin, kalau niat kita baik, Allah pasti akan memberi kita jalan," ujar Darul mengemukakan prinsip hidupnya.

Darul mengakui, tidak semua orang mau mengambil tindakan nekat dan penuh resiko seperti yang dilakukannya. "Saya akui, nggak semua orang berani, berhenti kerja tanpa persiapan seperti saya. Tapi kan karakter manusia beda-beda. Jadi, ini bukan masalah benar atau salah,"tambahnya.

Dicurangi teman

Datang merantau ke Jakarta tanggal 23 Februari 2008, Darul Mahbar seperti memulai hidup baru.

Sekitar tahun 1995, dia mulai karir di BPR Sindang Binaharta sebagai account officer. Berkat kerja keras, kariernya terus menanjak hingga tahun 2005 menjadi Dirut BPR. Tiga tahun kemudian, dia berhenti kerja. Saat itu, dia berusia 37 tahun dan punya tiga anak.

"Untuk saya tak ada istilah tua untuk memulai bisnis. Itu pilihan saya. Keyakinan saya. Sebab, saya yakin kalau kita kerja keras dan ikhlas, kita bisa berhasil," kata Darul.

Sebelum merantau ke Ibukota, Darul sudah beberapa kali mencoba membangun bisnis di kampungnya, tapi usahanya bangkrut. Penyebabnya adalah tidak fokus 100 persen mengurus bisnis.

Awal tiba di Jakarta, Darul menumpang di rumah orangtua Sanusi yang keturunan Tionghoa. Dia sempat nganggur satu bulan, sambil mencari peluang usaha. Dengan modal Rp 10 juta dari Sanusi, mereka mulai berdagang gula aren batok linggau. "Tiap hari kerjaan saya keliling Jakarta, mencari warung pempek menawari gula aren. Usaha itu sampai sekarang masih berjalan," ujarnya.

Semuanya dilakukan dengan ikhlas, tanpa berpikir gengsi sebagai mantan Dirut BPR. Sebab, dia yakin proses itu harus dilaluinya untuk mencapai sukses.

Dari pemasok gula aren itu pula, Darul berkenalan dengan pengusaha jahe merah. Awalnya, Darul hanya memesan 25 kg jahe merah. "Tapi, niat dagang jahe itu tidak terlaksanakan karena jahe merah yang dikirim berkualitas rendah. Saya merasa dicurangin teman (pemasok—Red) saya," ujar Darul.

Dari pengalaman itu ternyata memunculkan bisnis baru. Semua tanpa direncanakan. Ceritanya, jahe merah itu mau dibuang karena disimpan terlalu lama. Namun, oleh seorang juru masak di restorannya, jahe merah itu masih diolah menjadi minuman kesehatan.

Ternyata, hasil olahannya bagus dan enak rasanya. Dari situlah muncul gagasan untuk memasarkan jahe merah kemasan lewat milis. Tidak diduga, tanggapannya positif. Bahkan, ada seseorang yang pesan jahe merah instan itu sebanyak 20 kg.

"Itulah awal dari bisnis jahe merah ini. Modalnya hanya ratusan ribu rupiah dengan menggunakan peralatan seadanya. Syukur, sekarang dengan kerja keras, kreativitas dan keikhlasan bisa berkembang besar seperti saat ini. Makanya, saya bersyukur sudah dicurangin pemasok jahe itu. Mungkin kalau dia kirim jahe merah yang bagus, ceritanya akan lain. Barangkali, saya tidak akan punya bisnis minuman jahe merah instan seperti sekarang," ujar Darul.
BIODATA
Nama lengkap: Darul Mahbar
Tempat/tgl lahir: Musi Rawas, 23 Desember 1970
Nama istri: Endang Susilowati
Nama anak:
1. Miftah Ussakdiah
2. Naufal Adzmi
3. Rifdah
Pendidikan: S1 jurusan manajemen Universitas Muhammadiyah Malang, lulus 1994
Bidang usaha: Minuman kesehatan herbal seperti jahe merah instan, kunyit, dan temulawak instan
Merek: Cangkir Mas
Alamat: Ruko Taman Semanan Indah Blok A 1 No 1 Kalideres, Jakarta Barat, telp (021) 33086966 dan 0813 8231 1989

Urusan penyembuhan penyakit tidak melulu mengandalkan obat-obatan kimia medis semata. Apalagi kalau memikirkan biaya berobat di Rumah Sakit yang bagi sebagian orang masih sangat tinggi dan bahkan cenderung semakin mahal dari tahun ke tahun.

Setelah mempertimbangkan peluang tersebut, seperti Dahrul Mahbar, Syaeroji, salah seorang enterpreneur yang tertarik mengembangkan produk ini, kemudian meluncurkan Labeur Jahe, jahe merah instant hasil racikannya sendiri, ke pasar tahun 2005 silam. Istimewanya, jahe merah instan racikan Syaeroji terdiri dari bahan rempah tumbuhan seperti jahe merah, mahkota dewa, dan gula aren, serta tanpa bahan kimia dan pengawet. "Produk ini memakai bahan dasar dari rempah yang dipercaya sebagai obat, jadi aman dan tanpa efek samping," kata Syaeroji yang akrab dipanggil Oji ini.

Oji mengatakan Labeur jahe berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit, seperti rematik, asam urat, persendian, sesak nafas, flu, melancarkan peredaran darah, serta dapat menambah stamina dan gairah.

Sejatinya, Oji telah memulai usahanya tahun 1996 lalu. Namun, saat itu dia belum mencoba peruntungan di usaha racikan jahe merah ini. Awalnya, Oji hanya menjual gula aren, gula semut, gula merah, madu, dan emping melinjo saja.

Sejalan dengan berjalannya waktu, menurut Oji, semakin banyak konsumen yang menanyakan tentang jahe merah instan. Oji lantas mencoba meracik sendiri jahe merah dengan ditambah mahkota dewa yang berkhasiat sebagai obat. Tak dinyana, baru sebentar diluncurkan ke pasar peminatnya hingga ke pelosok negeri dan mancanegara. Dalam sekejap, Labeur jahe menjadi primadona diantara produk Oji yang lainnya.

Pada awalnya Oji melakukan pemasaran dengan cara tradisional, yaitu dengan cara menyebarkan informasi dari mulut ke mulut. Kini, Oji memiliki kantor pusat pemasaran di tempat asalnya, di Banten. Dia juga memiliki 32 reseller atau agen di beberapa kota seluruh Indonesia, seperti di Jakarta, Tangerang, Ciledug, Palembang, Bandung, Bekasi, Lampung, Bandung, Bogor, Serang, Padang, Ambon, Cilegon, Bali, Pandeglang, Lampung. "Dengan adanya agen, konsumen menjadi lebih mudah untuk melakukan pemesanan. Kita juga melayani pesanan antar untuk pesanan lebih dari 50 unit," kata Oji.

Sedangkan untuk menggaet pasar mancanegara, Oji memanfaatkan dunia maya dengan membuat website Labeur Jahe (www.labeurjahe.com). Sekarang Oji dapat menuai hasilnya. Pesanan mengalir setiap bulannya dari Belanda dan Malaysia. Tidak kurang dari 3.000 toples jahe merah dikirim ke kedua negara tersebut.

Adapun usaha ini tidak terlalu membutuhkan banyak modal/investasi. Awalnya, Oji hanya membutuhkan Rp 5 juta untuk produksi awal jahe merah instan ini. Hanya dalam waktu kurang dari sebulan modal tersebut telah balik. Dan bulan berikutnya, Oji telah dapat menikmati untung. Kini, dalam satu bulan Oji mengaku bisa meraih pendapatan Rp 350 juta. Sekarang, Oji mengatakan membutuhkan modal Rp 50 juta untuk produksi jahe merah. Modal itu selain untuk memenuhi pesanan dari pelanggan tetap, juga sebagai cadangan produk.

Untuk pemesanan kurang dari 5 toples isi 350 gram, Oji mematok harga Labeur jahe Rp 25.000 per toples. Sedangkan untuk pemesanan lebih dari 5 toples, pelanggan hanya perlu membayar Rp 20.000 per toples. Labeur jahe juga diproduksi secara sachet. Satu renceng berisi 5 sachet dijual dengan harga Rp 15.000 per renceng.

Selama ini, Oji tidak pernah menggunakan dana pinjaman dari bank untuk kepentingan investasinya. Modal usaha didapatnya dari kas internal usahanya. Pasalnya, menurut Oji, suku bunga bank terlalu tinggi bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah sepertinya. Dia menilai jauh lebih efektif menggunakan kas hasil keuntungan usaha sebelumnya dibanding harus meminjam dari bank yang harus dikembalikan dengan tambahan bunga berlipat. "Lebih baik pakai apa yang ada saja untuk modal. Kalau pinjam bank berat, harus mengembalikan tiap bulan plus bunga," kata Oji. (fn/wk/km) www.suaramedia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar