24 Agustus 2010

Sara Phang dan Balqis Elaine: Demi Islam Rela Terusir dari Rumah

Ketika hidayah datang, tak satupun orang yang sanggup merintanginya. Godaan duniawi tak bisa mengeluarkan iman para muallaf yang sudah tertancap iman dan Islam di dadanya. Setelah menemukan hidayah Ilahi, dua gadis Malaysia, Siti Sara Phang Abdullah dan Nur Balqis Elaine teguh dalam Islam. Imannya tak goyah, meski dengan tantangan yang berat hingga terusir dari rumah Di bulan Ramadan ini, kedua muallaf belia ini sangat bersemangat menjalani puasa.

Berpakaian sederhana, kedua gadis belia ini membaur di tengah khalayak di Perkim dalam acara buka puasa untuk para muallaf. Acara itu diselenggarakan oleh sebuah organisasi kesejahteraan Islam yang didirikan untuk membantu para muallaf supaya bisa beradaptasi dengan kehidupan baru mereka sebagai Muslim.

Dibesarkan dalam keluarga Kristen Protestan, awalnya Sara Phang terpesona oleh budaya Islam. Gadis berusia 19 tahun ini terpikat dengan busana muslimah seperti jilbab. Sara juga mengagumi aktivitas teman-temannya yang Muslimah yang sangat relijius, di mana mereka senantiasa melantunkan doa dalam setiap aktivitas, seperti berdoa sebelum dan sesudah makan, berdoa sebelum masuk ke kamar mandi, dll.

Sara mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat pada bulan Mei, tapi baru punya keberanian untuk memberitahukan keislamannya kepada keluarganya sebulan kemudian.

…Bukan teman-temanku yang mengajak aku masuk Islam. Aku jatuh cinta dengan keindahan Islam sendiri, tuturnya…

Meski akrab dengan teman-teman Muslimah, Sara mengaku tertarik Islam bukan karena ajakan teman-temannya, tapi karena dorongan hatinya.

”Bukan teman-temanku yang mengajak aku masuk Islam. Aku memang punya banyak teman Muslimah, tapi mereka tidak pernah berbicara tentang Islam kepadaku. Aku jatuh cinta dengan keindahan Islam sendiri,” tuturnya.

Meski baru masuk Islam, pada bulan suci Ramadhan tahun ini, Elaine memulai menjalankan kewajiban puasa yang dirasakan cukup berat menahan haus di siang hari.

”Ketika saya bangun pada waktu sahur, saya sangat senang bisa berpuasa,” kata Sara. “Kalau tahan, aku teruskan puasanya sampai maghrib. Tetapi kalau aku merasakan sakit di lambung maka saya akan berbuka,” tambahnya.

Sementara Elaine, dibesarkan dalam keluarga Nasrani fanatik. Ibunya adalah seorang penganut Katolik Roma. Ia mulai mengenal Islam selama di sekolah menengah Malaysia.

”Saya punya banyak teman di sekolah Malaysia, dan hatiku telah tertarik kepada Islam. Itu adalah benar-benar perasaan yang baru dan agung, “katanya dalam bahasa Melayu.

Sambil tersenyum, gadis 20 tahun berdarah campuran Cina dan Kenyah dari Sarawak ini menyatakan bahwa dirinya merasa jauh lebih tenang setelah memeluk Islam. Puasa Ramadan tahun ini bukan hal yang asing baginya, karena semenjak masuk Islam, ia telah memulai “latihan puasa” di sebuah sekolah agama di Kedah. Di sekolah ini, Elaine berpuasa sunnah setiap hari Senin dan Kamis selama empat bulan.

”Perut saya yang kosong terasa agak sakit karena kembung,” kisahnya.

Meski demikian, Elaine bangga karena puasa membuatnya sangat bahagia, damai dan meningkatkan sikap kerendahan hati dan kesabaran.

Ujian Berat Setelah Menjadi Muallaf

Meskipun kisah rohani keislaman mereka banyak sukacita, tapi perjalanan hidup mereka tidak berjalan mulus, tapi penuh ujian berat. Sehingga Sara dan Elaine terpaksa harus mengungsi ke rumah penampungan wanita di Perkim, setelah keluarga mereka menolak keislaman mereka.

…Perjalanan hidup Sara dan Elaine penuh dengan ujian berat. Sehingga mereka terpaksa harus mengungsi ke rumah penampungan…

Keluarga Sara tidak setuju dengan keislamannya dan menentang keputusannya yang mengagetkan. Sara yang tidak mau berpolemik dengan keluarganya, hanya menyatakan bahwa dia telah jatuh cinta kepada Islam.

“Tiba-tiba aku jatuh cinta dengan jalan Islam,” katanya singkat.

”Ayahku memperhatikan aku memiliki busana Muslimah yang longgar, buku-buku Islam dan hal-hal keagamaan lainnya, sehingga ia bertanya curiga,” jelas dia.

Saat ini, ibu dan saudara perempuannya telah menerima keputusannya masuk Islam, tetapi ayahnya justru memberikan ultimatum kepadanya untuk memilih antara tinggal di rumah sebagai Kristen atau meninggalkan rumah jika menjadi seorang Muslimah.

Rupanya Allah telah menancapkan iman yang kuat di dadanya. Sara tak gentar, memilih pilihan yang terakhir, sehingga harus terusir dari rumah. Kini ia tinggal di rumah penampungan bersama teman senasibnya, Elaine.

Berbeda dengan tantangan keluarga yang dialami Elaine. Meski ayahnya yang beragama Buddha telah merestui keislaman Elaine, tapi ibunya yang beragama Katolik Roma justru tidak bisa menerima kenyataan ini. Ibunya yang tinggal di Puchong tahu tentang keislamannya dari orang lain. Maka sejak Oktober tahun lalu, mereka tidak pernah melakukan kontak sama sekali.

”Karena sekarang saya adalah seorang muslim, maka gaya hidup saya berbeda dengan ibu saya. Jadi, lebih mudah untuk tinggal di luar saja,” tuturnya.

Elaine mengakui ada peristiwa aneh yang dialaminya ketika mulai tertarik Islam. “Setiap kali saya mendengar azan, hati saya tergetar,” katanya dengan mata berseri-seri.

…ayahnya memberikan ultimatum kepadanya untuk memilih antara tinggal di rumah sebagai Kristen atau meninggalkan rumah jika menjadi seorang Muslimah…

Menurutnya, Islam bukanlah agama asing bagi keluarganya. Adiknya telah masuk Islam melalui perkawinan, sehingga saudara laki-lakinya sudah menjadi Muslim, meski dengan pertimbangan yang berbeda.

“Islam lebih menenangkan. Aku lebih tenang sekarang,” kata Elaine.

Di rumah penampungan, Sara dan Elaine dibebaskan dari segala biaya, tapi hanya perlu membersihkan rumah setiap saat sesuai jadwal. Tempat penampungan ini sebenarnya sebuah rumah teras di Gombak dengan dua kamar, yang masing-masing kamar dihuni dua anak perempuan.

Salah satu teman Sara dan Elaine di rumah penampungan itu adalah mahasiswi pascasarjana di Universiti Sains Malaysia (USM) yang sedang melakukan praktik di Perkim. Dia juga bertanggung jawab terhadap gadis-gadis itu sedangkan teman serumah lainnya berasal dari Filipina dan bekerja di Perkim.

Gadis-gadis tersebut diizinkan untuk tinggal di rumah penampungan selama enam bulan, tetapi jika mereka tidak dapat menemukan tempat tinggal alternatif, mereka tidak akan dipaksa untuk pindah.

Peraturan di rumah penampungan ini cukup ketat. Ada juga peraturan jam malam pukul 11.00. Pukul sebelas malam mereka harus melapor kepada penanggungjawab panti mengenai keberadaan mereka.

Sara dan Elaine bertahan dengan uang saku sebesar RM50 setiap dua pekan. Mereka akan naik bus ke Perkim setiap hari dan perjalanan memakan waktu sekitar 20 menit.

Sampai saat ini Sara dan Elaine belum mendapat kartu identitas Islam dari Departemen Agama Islam (Jawi), sertifikat pensyahadatan, akte kelahiran dan KTP yang baru di Putrajaya. [AA/malaysian insider/voai]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar