14 Juni 2010

Hubungan Turki dan Israel yang Takkan Pernah Lagi Sama

Setelah pembantaian brutal yang menewaskan sedikitnya Sembilan orang Turki dan seorang warga Amerika Serikat keturunan Turki, hubungan antara Turki dan Israel menjadi renggang. Turki telah menarik duta besar mereka dari Israel. Turki juga tidak segan untuk membatalkan tiga kontrak militer dengan Israel.

Kedua negara sebelumnya adalah negara yang mempunyai hubungan yang dekat terutama setelah beridirinya Republik Turki yang didirikan oleh seorang Yahudi Dunam Mustafa Kemal. Turki adalah satu-satunya negara muslim dalam anggota NATO kerap menjalani latihan militer dengan Israel.

Kini hubungan kedua negara ini di ambang yang kritis karena ulah Israel yang membajak kapal bantuan Gaza (flotilla Gaza). Sebelumnya PM Turki Recep Tayep Erdogan mengingatkan bahwa upaya Israel yang menghentikan kapal tersebut akan berdampak buruk pada hubungan kedua negara. Nasi sudah menjadi bubur. Israel tetap menghentikan kapal tersebut dengan kekerasan.

Statemen keras datang dari presiden Turki Abdullah Gul bahwa hubungan kedua negara tersebut tidak akan sama seperti sedia kala. Israel mungkin harus sadar bahwa sikap keras kepala mereka akan merugikan mereka sendiri.

Hubungan kedua negara

Sebagai negara yang berasaskan sekuler Turki boleh berhubungan dengan negara manapun termasuk Israel. Ada satu ikatan bathin antara pendiri Republik Turki bentukan Kemal Pasha dengan negara Yahudi tersebut. Republik Turki adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim pertama yang mengakui adanya negara Israel. Aib inilah yang sulit untuk dihapuskan oleh pemimpin Turki yang pro-Islam.

Sayangnya angin perubahan politik di negara bekas kehilafaan Islam terkahir tersebut tidak menguntungkan bagi kedudukan Israel. Kemenangan aktivis Islam semenjak Adnan Mandaris, Najmuddin Erbarkan hingga Erdogan membuat Israel was-was dengan negara tersebut.

Ada upaya Israel untuk menjatuhkan kepemimpinan partai berbasis massa Islam di negeri tersebut. Israel terlibat dalam upaya kudeta terakhir yang bersandikan palu godam. Aparat keamanan Turki menemukan beberapa senjata yang berasal dari negara Israel. Mereka memanfaatkan anasir-anasir Turki seperti militer, akademisi, sastrawan dan wartawan. Bahkan mereka juga bersukutu dengan satu jamaah Islam yang tidak suka dengan kebijakan Perdana Menteri Recep Tayyep Erdogan.

Meski demikian ada ketegangan hubungan Turki-Israel, beberapa pihak yang menilai bahwa Turki adalah sekutu Israel. Ada beberapa kutipan dari hizbut-tahrir.or.id (9/2/2009) tentang kemesraan antara kedua Negara ini, seperti :

  • Turki adalah partner terbesar kedelapan dalam hubungan dengan ekonomi dengan Israel
  • Kedua negara mengadakan latihan militer bersama.
  • Pemerintahan Turki menunjuk Jenderal Buykanit yang pro-Israel sebagai panglima Angkatan Bersenjata Turki
  • Israel dan Turki merundingkan pembuatan proyek energi dan air yang akan mengangkut air, listrik, gas alam dan minyak bumi ke Israel melalui pipa.

Sementara itu Deputi Perdana Mentri Turki, Bullent Arinc, menyebutkan bahwa Turki akan mengurangi hubungan kedua Negara (nonblok.con, 5/6/2010). Hubungan kedua perekonomian kedua negara hampir sama sekali tidak ada. Yang ada adalah hubungan antara perusahaan Turki dengan perusahaan Israel. Jadi meski Turki menduduki urutan ke delapan sebagai negara yang berdagang dengan Israel namun pemerintahnnya tidak memiliki perdagangan dengan Israel.

Deputi perdana menteri Turki juga menyebutkan akan mengurangi kerjasaman militer dengan Israel. Contoh, Turki sudah membatalkan perjanjian latihan militer dengan Israel.
Meski hubungan kedua negara ini tidak akan pernah sama namun pemutusan hubungan diplomatik akan sulit bagi Turki.

Karena dewan negara akan melarang pemerintahan Turki untuk melakukan hal tersebut. Kejaksaan Turki bisa saja menggunakan alasan ini untuk membredel partai pemerintahan karena dianggap melangar garis besar Negara sekuler.

Para pengkritik Erdogan tidak menyadari hal ini. Mereka menginginkan Erdogan bersikap ekstrim terhadap Israel dengan memutuskan hubungan diplomatik. Padahal keputusan itu sangat sulit dilaksanakan karena baik Presiden dan Perdana Menteri harus mengikuti garis dewan negara. Untuk memperjuangkan hak memakai hijab saja, Pemerintahan Erdogan sangat sulit sekali karena terhalang oleh dewan negara.

Seharusnya pengkritikpun harus sadar bahwa adanya Gaza flotilla karena peran Recep Tayyep Erdogan. Yayasan yang dipimpin oleh Erdogan menggalang dana dari belahan dunia dan mengorganisasikan Gaza flotilla yang berhasil mengumpulkan 10,000 ton bantuan dengan 750 aktivis.

Tidak mungkin akan ada Gaza flotilla jika Turki dipimpin seorang Kemalis (pengikut sekuler Kemal Pasha) atau pemimpin yang sama sekali tidak memihak perjuangan bangsa Palestina. Selama ini yang bersikap keras terhadap Israel hanyalah Turki. Pemimpin Arab lainnya diam seribu bahasa terhadap pengepungan Gaza dan pembantaian Gaza.

Penulis yakin pada akhirnya Turki akan memutuskan hubungan dengan Israel bahkan tidak tertutup kemungkinan Turki menyerang Israel jika saatnya tepat. Turki pernah menyerang tetangganya sendiri yakni Yunani yang juga anggota NATO karena konflik Siprus tentu dengan restu dari dewan negara Turki. Jika dewan negara setuju, Turki bisa saja menyerang Israel.

(Andri Faisal, Pengamat dunia Islam)

(em)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar