14 Juni 2010

Ukhuwah Islamiyah Lenyap?

Mata dunia terbelalak. Tragedi berdarah 31 Mei yang didalangi zionis Israel terhadap relawan Flotilla to Gaza benar-benar menginjak nilai kemanusiaan. Ramai-ramai dunia mengecam. Menggelar demo hingga menerjunkan relawan lain untuk kembali menembus Gaza.

Di Indonesia masyarakat turut berbondong-bondong melakukan aksi unjuk rasa mengecam zionis. Penggalangan dana tak henti dilakukan. Bahkan sebagian sekolah, pesantren, dan pengajian mengadakan doa bersama bagi warga Palestina. Tapi, aneh bin ajaib.

Masih ada saja di antara kita yang menanyakan, kenapa masyarakat Indonesia harus mendukung dan membantu Palestina? Pertanyaan ini dilontarkan mereka karena menurutnya di dalam negeri masih ada saudara-saudara kita yang memerlukan bantuan. Hemmm, memang benar masih banyak rakyat Indonesia yang perlu bantuan.

Memang benar kondisi rakyat Indonesia masih curat marut. Tapi penderitaan mereka belum seberapa bila dibanding duka warga Palestina, khususnya Gaza. Sejak puluhan tahun lalu, warga Palestina masih terjajah, dipenjara, disiksa, hingga tak sedikit yang meregang nyawa.

Karena itulah sebaiknya kita harus tetap memberi bantuan, minimal perhatian khusus kepada saudara kita di sana. Sekecil apa pun semampu kita. Sedih sekali melihat kaum Muslim masih ada yang protes lantaran ada Muslim lainnya memberri perhatian kepada Palestina.

Bukankah Islam bagai satu tubuh. Bila ada satu anggota disakiti, anggota lain ikut merasakannya. Bila kaki tertancap duri, tak jarang bibir mengaduh, lalu tangan bekerja mengambil durinya. Begitulah idealnya satu Muslim dengan Muslim lainnya. Tak peduli lintas negara, waktu, usia, strata. Semua itu bergerak karena ikatan aqidah, jalinan ukhuwah Islamiyah.

Tapi faktanya, kita masih kerap terjebak pada ego individu, kelompok, suku, atau golonngan tertentu. Membenarkan diri, menyalahkan yang lain. Dalam kehidupan sehari-hari ukhuwah kita mulai tergerus. Perekat kejayaan Islam itu timbul tenggelam, seolah akan menuju pada kerontokan akut. Nyaris lenyap dalam konteks tertentu.

Fenomena ini bisa ditemui di sekitar kita, setiap hari, dalam lingkup kecil atau besar. Lihat saja, saat ini sering terjadi kerusuhan massa di berbagai daerah: dipicu ketegangan pilkada, gap antar kelompok, atau hanya masalah sepele. Emosi kita sering kali lebih cepat tersulut. Akhirnya berselisih dan berujung kekerasan fisik. Kasus Tanjung Priok, Mojokerto, dan di tempat lain sesama Muslim masih gemar adu jotos. Keretakan ukhuwah semakin merosot menuju titik terendah.

Di jalan raya, mudah sekali menemui pengendara yang saling caci maki. Serobot seenaknya tak peduli orang lain. Padahal tak menutup kemungkinan mereka yang berselisih itu sama-sama umat Muslim. Begitu pula dalam situs-situs online. Setiap ada tulisan yang menarik dikomentari, para komentator saling debat, berisi tegang: membenarkan diri atau kelompoknya, menyalahkan yang lain. Tak terkecuali di situs Eramuslim ini. Pada rubrik Pemuda dan Mahasiswa, misalnya.

Saya percaya, mereka tentu mengenal konsep ukhuwah Islamiyah. Bahkan, jauh lebih menguasai dari saya. Tapi, sedih sekali melihat sesama Muslim masih suka ejek, meski hanya terjadi di dunia maya. Berbeda firkah, kelompok, golongan atau partai; itu adalah wajar. Bahkan memang sudah sunatullah.

Rasulullah bersabda: “Sungguh akan datang pada umatku apa yang pernah terjadi pada Bani Israil seperti sandal dengan sandal. Dan sesungguhnya bani Israil telah terpecah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya dalam neraka kecuai satu golongan. Para shahabat bertanya: ‘Siapakah golongan tersebut ya Rasulullah?’ Rasul menjawab: ‘Apa yang aku dan para shahabatku telah jalani.’” (HR. Tirmidzi).

Perbedaan adalah warna kehidupan, ia rahmat dari Sang Maha. Apalagi jika kita masih satu aqidah selayaknya perbedaan bisa dikelola menjadi kekuatan umat hingga kita tak mudah diracuni nafsu, ego, dengki, atau penyakit hati lainnya. Saat ini Islam telah kehilangan jati dirinya, kekuatan terbesarnya terhempas.

Ukhuwah kita telah dirobek-robek nafsu sendiri. Mari kembalikan ukhuwah Islamiyah semampu kita.

Allah berfirman: Orang-orang mukmin itu bersaudara, sebab itu perdamaikanlah antara dua orang bersaudara mu dan takutlah kepada Allah mudah-mudahan kamu mendapat rahmat (QS. 49:10). Seharusnya kita malu kepada musuh-musuh Islam. Konsep ukhuwah Islamiyah yang diajarkan Nabi Muhammad, telah dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari kaum Yahudi dan Nasrani.

Ketika kita memasuki situs atau jejaring sosial mereka, jelas sekali di sana terlihat kebersamaan. Kompak, saling melengkapi, mengisi, saling menguatkan. Begitu pula bila menilik situs kaum murtadin. Persatuan dan kesetiaan mereka untuk menghancurkan Islam sangat erat. Padahal mereka bergerak membelokkan isi Al Quran, menghina Rasulullah, merendahkan Islam, menuju kesesatan.

Konsep ukhuwah milik Islam. Islam jaya karena ukhuwah yang dahsyat. Aqidah yang mantap menciptakan ukhuwah dan melahirkan kejayaan serta kedamaian di bumi. Itu dulu. Lalu, mengapa sekarang kita seolah enggan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak mengherankan bila blokade Gaza berlarut-larut. Pemimpin dan negara Islam asyik dinina bobokan nafsu. Terlena dihipnotis racun dunia. Pada saat yang sama meremehkan kekuatan ukhuwah Islamiyah.

Tak heran di Indonesia terjadi kerusuhan dimana-mana. Sebab pemahaman tentang ukhuwah seolah hanya sebatas teori. Bila dipraktekkan, terkadang hanya berlaku sesama golongannya saja. Mari kembali kepada kejayaan Islam. Selama masih satu aqidah dan ajarannya tak melenceng dari Quran dan Sunnah, biarkanlah mereka bergerak sesuai perjuangannya.

Mari minimalkan caci maki. Sekuat mungkin menjaga hati, tulisan dan lisan. Maksimalkan dukungan sesama Muslim. Bila ada yang salah, usahakan nasehati sesuai yang diajarkan Nabi. Tahan ego untuk mendebat berdasarkan nafsu. Mari memulai hari esok dengan memprioritaskan praktek ukhuwah Islamiyah.

Mari tuangkan ilmu dalam amal. Sedikit demi sedikit semampu kita. Jangan biarkan musuh Islam tertawa. Sementara kita sendiri masih saling cerca, saling sikut, saling membenarkan dan menyalahkan yang lain. Ah, jangan lagi itu terjadi.

“Kenapa kita masih saling caci? Saling berpikir negarif terhadap saudara Muslim sendiri? Apakah ukhuwah Islamiyah sudah lenyap? Jika iya, masih mungkinkah kekuatan itu dikembalikan hingga tercipta kejayaan Islam? Bukankah rindu terhadap masa keemasan Islam itu semakin membuncah?” tanya saya, berdialog dalam hati. Wallahu ‘alammu.

Rudi Agung, Jurnalis di salah satu majalah nasional. Turut mengelola buletin dakwah komunitas di Jakarta Timur. Salah satu penulis buku Titik Balik (Leutika, 2010). (em)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar