18 Juli 2010

Catatan Perjalanan Ilmiah ke Syam: Mencetak Da'i Profesional Sejak Dini

Siswa dari berbagai negera menadapatkan pendidikan gratis di sini

Orangnya sangat sederhana. Berpakaian biasa, dengan celana dan baju lengan panjang yang tangannya dikancingkan. Semula kami menduga dia adalah bagian andministrasi sebuah lembaga pendidikan tinggkat SLTA yang didirikan pemerintah Suriyah beberapa tahun lalu itu, tapi muridnya sudah ratusan, bahkan dari manca negara.

Ternyata dialah DR. Farid Al-Khatib yang sebelumnya kami mendapat informasi Beliau sebagai direktur Al-Ma’had Ad-Dauli Lil ‘Ulum As-Syar’iyyah wa Al ‘Arabiyyah (Lembaga Internasional Ilmu Syari’ah dan Arab).

DR. Farid Al-Khatib yang masih berusia sekitar empat puluh tahunan adalah seorang yang berpendidikan tinggi; meraih gelar doktor di bidang Syari’ah. Beliau ditugaskan Wazaratul Awqaf, sebuah departemen khusus menangani masalah keagamaan dan pendidikan agama di Republik Arab Suriyah untuk memimpin lembaga tersebut , lembaga pendidikan khusus syar’i setingkat SLTA di Indonesia.

Dari namanya saja kita sudah bisa memahami bahwa lembaga pendidikan yang dibiayai pemerintah Suriyah 100 % tersebut mengandung tiga makna : Pertama, Lembaganya bertaraf internasional. Kedua, lkhusus mengajarkan ilmu-ilmu syar’i. Ketiga, juga mengajarkan ilmu-ilmu terkait bahasa Arab. Inilah yang membuat kami semakin penasaran sehingga menanyakan langsung kepada DR. Farid Al-Khatib terkait lembaga yang ia pimpin secara detil dan mendalam.

Menurut DR. Farid, Lembaga tersebut dirancang khusus untuk mencetak para da’i profesional. Sebab itu, mereka harus disiapkan sejak dini, yakni sejak tamat sekolah menegah pertama (SLTP).

Siswa yang diterima di sini adalah yang sudah menamatkan pendidikannya setingkat SLTP, kata DR. Farid saat kami berbincang-bincang di kantornya yang menempati lantai 2 dari gedung yang betingkat 8 itu. Kendati belum bisa bahasa Arab sama sekali tidak masalah, kami akan ajarkan kepada mereka dengan baik dan maksimal, ungkap Beliau.

Di sini mereka dididik selama empat tahun untuk mendalami bahasa Arab dan ilmu-ilmu dasar Syari’ah seperti ushul fiqh dan sebagainya. Kemudian persyaratan yang terpenting lainnya, mereka yang diterima di sini adalah generasi terbaik yang siap menjadi da’i profesional.

Lalu Beliau menambahkan : Tidak mungkin seorang da’i itu profesional kalau tidak mendalami bahasa Arab dan ilmu-ilmu syari’ah. Karena yang kita sebarkan ke masyarakat itu bukanlah kebodohan, akan tetapi ilmu-ilmu Islam yang akan menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat.

Kita fokuskan pendidikan bahasa Arab dam ilmu-ilmu dasar syari’ah sebelum mereka masuk kuliah di fakultas Syari’ah yang insya Allah dalam waktu tidak berapa lama akan kami dirikan, ungkapnya lagi.

Bersama DR. Farid Al-Khatib, Direktur Al-Ma’had Ad-Dauli Lil ‘Ulum As-Syar’iyyah wa Al-‘Arabiyyah, menatap masa depan para da’i profesional

Al-Ma’had Ad-Dauli Lil ‘Ulum As-Syar’iyyah wa Al-‘Arabiyyah sebenarnya adalah lembaga kaderisasi para da’i dan ulama sejak dini, yakni sejak tingkat SLTA. Kemudian saat memasuki fakultas Syariah, para alumninya sudah sangat siap baik dari sisi akademis dan keilmuan maupun dari sisi mental dan semangat.

Al-Ma’had Ad-Dauli Lil ‘Ulum As-Syar’iyyah wa Al-‘Arabiyyah adalah sebuah cita-cita besar, karya besar dan strategis yang akan memiliki dampak besar jangka panjang. Lembaga tersebut sangat istimewa dan unik. Para pendirinya, khususnya para ulama yang ada di Wazaratul Awqaf Negara Suriyah berfikir jangka panjang terkait dengan perkembangann dakwah Islam, bukan hanya di Suriyah, akan tetapi di seantero dunia.

Di sebuah gedung berlantai 8 itulah mereka memulai kerja besar tersebut. Lantai dasar digunakan untuk aula serbaguna, untuk shalat jamaah, seminar dan sebagainya. Lantai dua untuk kantor. Lantai tiga sampai empat untuk ruang belajar. Sedangkan lantai lima sampai delapan untuk asrama siswa.

Adapun keunikan lembaga tersebut disebabkan :

1. Memfokuskan pendidikan bahasa Arab dan ilmu syar’I sejak tingkat SLTA.
2. Siswa yang diterima adalah generasi terbaik bukan hanya dari Suriyah, akan tetapi juga dari seluruh dunia Islam, termasuk Indonesia. Tahun ini ada 24 siswa Indonesia yang diterima di sana.
3. Pendidikan dirancang untuk melahirkan para da’i profesional yang menguasai bahasa Arab dan ilmu-ilmu syari’ah sehingga diharapkan dalam berdakwah menyampaikan dan mengajarkan ilmu yang lurus bersumber dari Qur’an, Sunnah, hayatus shohabah dan sebagainya.
4. Memiliki perencanaan yang besar dan jangka panjang mencakup tingkat SLTA bagi siswa siswi, fakultas Syari’af dan fakultas lainnya. Terkait tingkat SLTA untuk siswi dan beberapa fakultas, akan didirikan dalam waktu dekat.
5. Faktor lain yang sangat istimewa ialah, semua biaya ditanggung oleh pemerintah Suriyah, sejak dari biaya pendidikan, asrama dan semua kebutuhan siswanya.

Sungguh sulit kita temukan di sini proyek besar seperti ini, khususnya dari pemerintah. Sekolah-sekolah agama yang dirancang pemerintah yang dijalankan Depatemen Agama RI, sejak dari tingkat sekolah dasar (Ibtidaiyyah) sampai perguruan tinggi dirancang jauh berbeda dengan apa yang dirancang oleh Wazaratul Awqaf pemerintah Suriyah.

Tidak heran jika hasilnya juga seperti yang kita maklumi. Alih-alih melahirkan para da’i dan ulama, malah melahirkan generasi sekular dan tak sedikit yang membenci Islam itu sendiri.

Tidak ada yang tahu berapa puluh tahun, mungkin berapa abad lagi pemerintah Indonesia mampu mewujudkan pendidikan gratis dan bermutu untuk rakyatnya? Apalagi memikirkan generasi Muslim di seluruh dunia?

Selama pemerintah Indonesia masih tidak mau menjadikan Islam sebagai solusi kehidupan negeri ini, selama itu pulalah akan menjadi pemerintahan yang lumpuh dan korup, seperti yang terjadi sejak 60 tahun lalu dan berlanjut sampai saat ini. Allahul Musta’an…(Fathuddin Jakfar, MA/em)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar