12 September 2010

Fahira Idris, Awali Sukses Bisnis Parcel Dari Garasi

Pada usia 20 tahun Fahira Idris bersama 11 temannya semasa kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia memulai usaha pembuatan parsel dari garasi milik nenek. Usaha jasa yang melayani pengiriman parsel selama 24 jam itu tak berjalan lama. ”Kawan-kawanku banyak yang dapat pekerjaan baru setelah lulus kuliah. Tinggallah aku sendiri. Aku bertekad meneruskan usaha itu dengan nama berbeda,” kata Ira.

Ketika menikah, Ira dihadiahi sebuah rumah di Kalibata oleh ayahnya, Fahmi Idris. ”Eh rumah itu ada garasi plus kantor. Aku buka Nabila Parcel and Florist dari garasi lagi. Itu di Jalan Haji Samali, Kalibata,” tutur Ira.

Perempuan yang baru saja dinobatkan sebagai The Most Inspiring Tweeter ”The 10 Top Blog 2010” ini tak menduga sama sekali bahwa usaha dari garasi itu menginspirasi banyak orang di sekitar Jalan Haji Samali. Ruas jalan itu sampai kini dikenal sebagai pusat parsel di Jakarta, selain di kawasan Cikini. Lantaran dianggap sebagai pelopor itulah, Ira didaulat sebagai Ketua Asosiasi Pengusaha Parcel Indonesia sampai kini.

”Kelebihan usahaku karena melayani pengiriman parsel 24 jam. Awal-awal aku sendiri yang terima telepon pemesanan, he-he-he,” kenang Ira.

Ketika ia belajar merangkai bunga di Inggris, kiat jasa pengiriman 24 jam itu tetap ia jalankan. Kini, Ira bisa mengirim bunga ke seluruh dunia selama 24 jam. ”Sejauh ini klien-klienku mengirim bunga ke Amerika, Australia, Inggris, Jepang, China, dan India. Aku bekerja sama dengan jaringan florist FTD yang berpusat di Amerika,” kata Ira.

FTD yang dimaksudkan Ira tak lain dari Flower Trans Delivery, satu jaringan jasa pengiriman bunga internasional. ”FTD memberiku petunjuk florist mana yang terdekat dari alamat klienku di Jakarta untuk pengiriman ke Inggris, misalnya. Demikian juga sebaliknya. Aku menerima pesanan dari luar negeri dan mengantarkan kepada alamatnya di Jakarta atau kota-kota lain di Indonesia,” ujar Ira.

Ketika pertama kali dibuka pada tahun 1995, Nabila praktis menjadi satu-satunya florist yang melayani pengiriman bunga internasional. ”Dan, 24 jam pula, he-he-he,” kata Ira. Ira nyengir ketika menyebut 24 jam karena suatu kali ia ingat seorang kurirnya ditolak ketika ingin mengirim bunga.

”Ada klien yang ingin bunga itu sampai tepat jam 12 malam karena yang menerima sedang berulang tahun. Eh, bapaknya menolak, ya, balik lagi, he-he-he,” ujar Ira.

Tetapi, itulah bunga-bunga dari perjalanan usaha Ira sampai akhirnya ia menjelma menjadi pengusaha, bahkan kini memimpin perkumpulan Saudagar Muda Minangkabau Indonesia.

Bagaimana prospek bisnis parsel sekarang?
Parsel sempat menjadi bisnis yang prospek pada tahun 90-an. Namun semenjak ada larangan KPK mengirim parsel ke instansi dan pejabat pemerintah pada tahun 2005 bisnis ini meredup, omset terus turun, yang paling parah ketika tahun 2005, kenapa saat itu saya waktu itu gigih menolak karena KPK mengeluarkan aturan itu sudah mendekati hari raya tidak jauh hari. Padahal kami semua sudah selesai merampungkan produksi, hampir semua anggota sampai rugi ratusan juta karena pada saat itu pembelian anjlok 40 persen, tahun 2006 juga kondisinya sama. Saya lihat untuk lebaran kali ini dropnya sampai 70 persen. Namun sekarang sudah antisipatif dari stok yang biasanya. Misalnya di toko saya dari stok per event 15 ribu unit kini dikurangi sepertiga jadi 5 ribu unit. Karyawan saya kurangi dari 300 orang per event sekarang saya pangkas tinggal 50 karyawan. Dulu per event bisa untung miliaran tapi sekarang puluhan juta sudah syukur. Kalau di bulan selain hari raya toko saya menjual bunga untuk dekorasi yang penjualannya baik-baik saja.

Apa Langkah asosiasi menyikapi situasi ini?
Sebagai bentuk tanggung jawab saya sebagai ketua, saya roadshow ke daerah untuk menghimbau kepada para anggota untuk segera beralih usaha lain ketimbang terus mengalami kerugian. Saya imbau jangan hanya terpaku menjual parsel pada saat hari raya lebih baik menjual makanan atau pakaian muslim, dan hampir 60 persen bersedia beralih.

Bagaimana menyikapi hipemarket yang juga mulai menjual parsel?
Kuenya otomatis terbagi, khusus untuk parsel makanan sampai terbagi 50 persen. Itu juga menurunkan omset kami. Makanya parsel kami bukan hanya makanan tapi juga keramik, bohemian dan alat shalat.

Apa suka dukanya menjadi pengusaha sekaligus anak menteri ?
Syukurnya saya punya kedua orang tua yang bijaksana, yang tidak pernah mencekoki saya harus begini begitu, dalam berbisnis saya tidak pernah dimanja harus berusaha sendiri. Yang perlu diwaspadai kalau anak pejabat mendapat proyek di instansi pemerintah yang dipimpin ayahnya itu bisa ke arah KKN. (fn/km/dt) www.suaramedia.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar