12 September 2010

Rahasia Pohon Pinus

By: Widuri

Andrian membuka kaca mata hitamnya. Dari kaca spion dilihatnya rambutnya yang sedikit acak-acakan. Dengan jari tangannya yang putih dan kokoh karena rajin fitness dan angkat barbell, dirapihkannya anak rambut di depan matanya. Sambil tangan kirinya tetap memegang helm arai hitamnya. Dia tidak turun dari motor, dia nampak menunggu seseorang di depan sebuah gedung ruko bertingkat lima. Dilihatnya jam tangan di pergelangan tangan kanannya, tak lama ia bergumam pelan.

“Masih lama.”

Dia mengeluarkan handphone Blackberry dari saku celananya. Mulai asik ber-facebook ria. Dilihatnya setiap status dari teman-temannya, tidak ada yang menarik untuk dikomentari. Gumamnya lagi. Kemudian ia masuk ke profil seorang gadis berjilbab lebar, sahabatnya waktu di kampus dulu. Sahabat yang sama-sama bergabung di Rohis juga.

Dilihatnya sebuah status yang terakhir di update-nya. Sekitar dua minggu yang lalu. Pelan-pelan dibacanya setiap Komen yang ada di bawahnya. Taklama jari tangannya berhenti pada sederet status yang bertuliskan curhatan hati gadis itu.

“Aku mencintaimu, tapi aku lebih mencintai Tuhanku. Ketika segala doa Istikhorohku kupanjatkan, aku harus kecewa ketika bayangan yang hadir semakin jelas, bukan bayanganmu.”

Dibawahnya terdapat 15 komen yang menanyakan maksud dari kata-katanya, tapi tidak ada satupun jawaban darinya yang menjelaskan maksud tulisannya.

Dasar gunung es, batin Andrian. Dia tersenyum sedikit. Gunung es adalah panggilan Andrian untuk gadis itu. Seperti tampilan gunung es, ia seolah dingin dan teguh, sementara jauh di dalam jiwanya, ia adalah wanita yang rapuh.

Tiba-tiba hadir pertanyaan yang hampir sama dengan beberapa koment yang bertanya pada statusnya.

“Maksudnya apa yah? Apa mungkin, ah gak mungkin ah..” Hatinya bertanya. Mata Andrian menerawang pada kemacetan lalu lintas di jalan raya, sementara hatinya menjadi tidak jelas. Sepertinya ada sesuatu yang diharapkannya.

Tiba-tiba suara lembut seorang gadis mengejutkannya. Membuyarkan lamunannya.

“Dor…!” Tepukan keras di bahunya hampir menghilangkan keseimbangan kakinya.

Sedikit kesal ia mengomel kearah gadis manis itu.

“Rese.” Andrian cemberut kearahnya. Sementara Chaira, si gadis manis itu hanya membalas dengan senyuman.

“Mikirin apa sih, Mas…?” Chaira mendekatkan wajahnya ke depan wajah Andrian. Andrian sedikit terkejut. Dia menarik wajahnya beberapa senti dari wajah Chaira. Chaira kembali tertawa renyah.

“Kayaknya lagi mikirin yang lain neh. Bikin jelous aja.” Chaira cemberut.

“ga mikirin apa-apa kok. Udah, Mau pulang gak?” Andrian langsung memberikan helm kearah Chaira. Chaira langsung menerimanya, masih dengan ekspresi kesal karena tidak mendapatkan jawaban apapun dari pertanyaannya. Chaira langsung duduk di belakang Andrian, dan memegang pinggang Andrian erat.

Andrian langsung memakai helmnya dan langsung kembali tancap gas menikmati kemacetan daerah Ciputat. Semenjak reunian SMA 2 Mei tahun lalu, tak sengaja mempertemukan Andrian dengan sahabat sekelasnya dulu, Chaira. Sejak itulah kedekatan itu mulai berubah menjadi hubungan yang istimewa antara keduanya. Mestinya Andrian telah wisuda tahun lalu, tapi karena kesalahannya dulu akhirnya ia harus rela menunda setahun masa kuliahnya. Andrian tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum di sebuah Universitas di Pamulang setiap hari selalu menjemput Chaira ke Kantornya yang kebetulan dekat dengan kampusnya di daerah Ciputat, baik dengan motornya atau dengan Honda civic milik kakaknya.

Selama perjalanan, Andrian hanya diam. Chaira pun menjadi tidak semangat untuk menggodanya. Taklama motor Ninja Hitam itu memasuki komplek perumahan elit di Pamulang. Setelah gang kedua, Andrian langsung membelokkan motornya ke kiri dan taklama ia pun berhenti di sebuah rumah minimalis bercat hitam abu-abu.

Tanpa mematikan mesin motor, Chaira langsung turun dari motor Andrian. Baru ia akan mempersilahkan Andrian mampir, Andrian malah langsung pamit pulang. Chaira semakin kesal dan bingung dibuatnya. Dengan mulut yang agak maju lima senti, ia langsung menghambur masuk ke kamar.

Andrian kembali menikmati kemacetan lalu lintas menuju rumahnya. Di bundaran Pamulang depan Kampusnya, ia sedikit ragu. Ada sedikit keinginan untuk mengulang masa lalunya beberapa tahun yang lalu. Saat ia dan gadis itu sama-sama masih berkuliah dan aktif di Organisasi yang sama.

Ia langsung memasuki gerbang kampus, satpam jaga yang baru satu jam yang lalu memberikan kartu parkir padanya sedikit heran. Kesal tepatnya, karena ia harus kembali mencatat nomor motor Andrian di catatan kendaraan masuk.

Setelah memarkir motornya, ia langsung berjalan ke basement mengamati setiap sudutnya. Ia terhenti di depan sekertariat Rohis. Sekarang, hanya UKM ini yang tidak ada penghuninya. Hanya tumpukan debu dan deretan buku-buku agama Islam yang menjadi saksi bisu ketika Ia dan rekan-rekannya membangun Rohis kala itu.

Sekarang Rohis sepi. Semenjak beredarnya isu kalau Rohis di kampusnya beraliran sesat, yang mengharuskan setiap anggotanya membayar infaq yang besar, bahkan tak jarang setiap anggotanya harus berbohong kepada orang tuanya. Bahkan yang lebih parah, Andrian mulai sering meninggalkan sholat. Padahal sholatlah kekuatan seorang muslim dalam berda’wah. Dulu juga ia melakukan itu semua, sebagai bentuk pengorbanan kepada Islam, tapi yang melakukan sebenarnya hanya dia, bukan rohisnya, bukan teman-temannya. Ia yang jahat, karena Ia lah yang menggunakan jabatannya sebagai ketua Rohis untuk mengajak adik kelasnya masuk ke aliran yang dianggap sesat itu. Ada sedikit sesal dalam hatinya. Ia merasa bersalah atas semuanya. Terlebih, kepada Deriska.

Hanya Deriska lah yang tahu semua yang dilakukannya. Karena saat itu, Deriska lah orang yang ingin diajaknya untuk sama-sama masuk ke aliran itu. Tapi Deriska tidak pernah mau, bahkan saat itu dia sendirilah yang mulai menjauhi Deriska, karena menurutnya mengajak orang yang tidak diberikan hidayah oleh Allah hanya akan membuang waktu saja.

Sejak itu Andrian semakin hanyut dalam berbagai pengorbanannya di organisasi itu, ia semakin sering bolos dan membuat semua nilai-nilai kuliahnya anjlok. Bahkan, untuk hitungan mahasiswa yang terbilang cerdas, ia harus menerima IPK 1,7 saat semester enam. Air matanya sedikit menggenang ketika mengingat semua kejadian itu. Ketika hampir membentuk anak sungai di pipinya, tiba-tiba ada sebuah tangan kokoh yang memegang bahunya.

“Belum pulang?” Tanya suara tegas di belakangnya.

Andrian langsung membalikkan badannya memandangi orang yang mengajaknya berbicara.

“Belum, Pak. Masih pengen di Kampus.” Jawabnya dengan sedikit malu.

“Kenapa, ada yang ingin diceritain?” Tanya laki-laki berbadan tegap itu selanjutnya.

Andrian hanya membalasnya dengan sebuah anggukan, dan langkah kaki menuju sebuah kursi panjang. Ia melepas tasnya dan mempersilahkan laki-laki itu duduk di sebelahnya. Laki-laki yang bernama Pak Kuncoro langsung duduk di sebelahnya. Dulu mereka begitu dekat, sebagai ketua dan Pambina Rohis. Selain sebagai pembina Rohis, Pak Kuncoro juga dosen Hukum Bisnis, mata kuliah favoritnya di kampus. Tapi itu dulu sekali, sebelum Andrian memilih pada pilihan yang salah.

“Kadang, saya merasa sangat bersalah Pak, melihat Rohis berhenti tanpa ada kegiatan apa-apa. Mereka takut kalau Rohis itu sesat kan, Pak.” Andrian memulai pembicaraan.

“Yan, terjadi atau tidak terjadinya segala sesuatu itu sudah ada yang mengatur. Mungkin ini juga ujian dari Allah, bahwa jalan da’wah itu memang sulit. Jalan da’wah itu ibarat sebuah jalan raya pada awalnya, yang ikut pun berbondong-bondong. Tapi kemudian semakin lama akan semakin sempit, bahkan mungkin hanya mampu dilewati oleh satu orang saja. Karena di situlah saringan Allah, yan.” Pak Kuncoro memberikan penjelasan.

Andrian menatapnya dalam. Sorot matanya seolah menggambarkan kesedihan yang dalam. Mungkin ia pula penyebabnya. Dulu, dulu sekali Pembinanya ini pernah sangat berharap kalau Andrian akan menjadi orang yang akan meneruskan langkah Da’wahnya di kampus ini, tapi ternyata, justru ialah yang menghacurkan da’wah di kampusnya sendiri.

“Bapak marah sama saya?” Tanya Andrian kemudian.

“Kenapa saya harus marah sama kamu?” Pak Kuncoro balik bertanya.

Andrian kehilangan jawaban.

“Karena saya sudah menghancurkan harapan bapak ke saya.” Jawabnya pelan.

“Saya tidak pernah merasa seperti itu. Saya bukan Tuhan yang berhak menentukan, bahkan Allah saja memberikan pilihan kepada setiap makhluknya untuk memilih.” Tatapan Pak Kuncoro tajam.

“Saya…” Andrian tak mampu melanjutkan kata-katanya.

“Yan, kalau saya lihat terkadang kamu yang selalu menyalahkan dirimu sendiri.”

“Saya kehilangan banyak, Pak. Kehilangan saudara-saudara saya, kehilangan masa depan saya. Saya…” Andrian memeluk Pak Kuncoro erat. Rasa penyesalannya terlalu dalam.

Pak Kuncoro menepuk-nepuk punggung Andrian berusaha menguatkan. Ia terisak cukup lama. Pak Kuncoro pun menarik nafas berat. Ia pun merasakan kekecewaan yang dalam atas semua yang telah terjadi, tapi inilah yang harus dijalani.

“Sudah, Yan. Semua sudah terjadi. udah bukan waktunya lagi menangisi yang sudah terjadi. sekarang tinggal bagaimana bisa bangkit dan memulai semuanya dari awal lagi.” Pak Kuncoro mendorong pelan bahu Andrian, berusaha menegakkan dan menegarkan Andrian.

“Pak, boleh Tanya sesuatu?” Andrian bertanya dengan suara parau.

Pak Kuncoro menjawabnya dengan sebuah anggukan.

“Kabar Deriska gimana, Pak.”

“Deriska, Alhamdulillah baik. Emangnya kamu ngga pernah ada kontak lagi sama dia?” Pak Kuncoro tersenyum menggodanya. Ia teringat sesuatu.

“Saya cuma mau minta maaf sama Dia, Pak. Saya dulu hampir menjerumuskan dia dalam keyakinan saya. Untungnya dia punya iman yang lebih kuat dari saya.” Andrian tersenyum kecil.

“Yan, ada amanah dari Deriska. Sepertinya saya memang harus menyampaikannya ke kamu. Sebentar.” Pak Kuncoro mengambil sebuah map biru dari dalam tasnya.

Dipandanginya sejenak map itu, ia Nampak berpikir sejenak. Dan langsung memberikan map itu ke Andrian.

“Apa ini, Pak?” Tanya Andrian penasaran.

“Baca saja sendiri. Saya sekalian pamit yah, sudah malam.” Pak Kuncoro sedikit tersenyum dan langsung berjalan meninggalkan Andrian dan rasa penasarannya.

Andrian membolak-balik map biru ditangannya. Dengan sedikit ragu ia membuka map itu. Rupanya berisi sepucuk surat dari Deriska.

Andrian mulai membacanya.

“Assalamu’alaikum Wr.Wb. Apa kabar An? Sehat selalu kan? Mudah-mudahan Allah selalu menjagamu untukku.” Andrian tersenyum membaca suratnya. Dia kembali melanjutkan membaca surat itu.

“An, jangan telat makan yah. Kamu makin kurus sekarang, (kamu pasti kaget kenapa aku bisa tahu). Beberapa hari yang lalu aku ke kampus An, aku ada urusan sedikit dengan Pak Kuncoro dan beberapa orang dosen di kampus, dan ga sengaja aku lihat kamu di parkiran. Sayang, sekarang aku sudah gak bisa lagi membawakanmu sari roti, roti favoritmu untuk sarapan.” Andrian tersentak. Rupanya Deriska masih mengingat roti kesukaannya, tepatnya makanan yang sering dikonsumsinya ketika tidak sempat makan siang atau sarapan karena harus langsung mengikuti berbagai kegiatan di Rohis Gadungannya.

“An, kamu inget dulu aku pernah minta apa sama kamu, dan kamu inget dulu terakhir kali sebelum kamu memutuskan komunikasimu sama aku kamu bilang apa ke aku? Dulu kamu pernah bilang, kalau aku gak mau ikut kamu ke komunitasmu, maka aku harus siap kehilanganmu. Padahal sejujurnya aku gak pernah siap kehilangan kamu. Dan kamu ingat waktu itu aku pernah minta apa sama kamu, aku bilang, kembalinya kamu kepada Islam, kepada Sholatmu adalah hadiah terindah untukku. Tapi sepertinya itu semua gak akan pernah bisa aku lihat lagi, An. Aku dengar sekarang kamu punya pacar, padahal dulu aku tahu kamu tidak akan pacaran.”

Dada Andrian sedikit sesak. Ia merasakan ada sesuatu yang akan membuat jiwanya meledak.

“Maafkan aku, An. Maafkan cintaku yang salah. Kamu pikir, untuk apa aku mengikuti setiap aktivitasmu? Apa kamu pikir aku akan mengikuti keislamanmu? Aku akan meninggalkan sholatku? Tidak An, dan berharap tidak akan pernah. Apa kau tahu mengapa aku melakukan itu semua? Karena aku mencintaimu, An. (Maafkan aku ya Allah, karena aku telah mengotori cintaku Pada-Mu).

Tulisan tinta pada paragraf itu nampak luntur. Sepertinya ada air mata yang menitik disana. Dada Andrian sesak tiba-tiba. Mungkinkah? Apakah orang yang dimaksud dalam status terakhir di facebook-nya Deriska adalah dia?

“Aku mencintaimu selama 4 tahun kita sama-sama di Rohis, An. Aku gak pernah ngerasain perhatian seorang ikhwan yang bergitu besar padaku, sampai dia rela meminjamkan jaketnya untuk aku pakai padahal dia sendiri kedinginan, dan kamu mampu melakukan itu waktu kita tafakur alam. Cuma kamu yang ada waktu aku bingung. Dulu…dulu sekali An, dalam solat istikhorohku ada kamu. Makanya disitu aku yakin, kamu adalah jawaban dari Allah untukku. Hingga semua berubah. Hingga mereka semua mengambilmu dari aku, dari Rohis kita dan dari Sholat-mu. Aku benci mereka, An. Aku benci mereka yang merusakmu. Hingga aku harus berani menerima kenyataan bahwa Andrian yang aku kenal sudah mati!”

Airmata Andrian meleleh. Ia begitu cengeng, bahkan begitu bodoh. Dia tak kuasa menahan semua beban di dadanya. Hanya tumpukan debu dan buku-buku Islami yang mampu menggambarkan semua kenangannya bersama Rohis yang dulu.

Dengan berat Andrian melanjutkan mambaca surat Deriska.

“Hatiku kotor sekarang, An. Dadaku sesak menyimpan semua perasaan ini, sendiri dan selama 4 tahun, An. Hingga kemudian Allah berikan sebuah jalan untuk pembersihan hatiku. Pak Kuncoro menawarkan seorang ikhwan yang ingin ta’aruf denganku. Awalnya aku ragu karena aku ingin selalu menunggumu, tapi aku sadar, cinta ini Cuma aku yang punya. Cinta ini hanya aku yang rasa, sementara kamu tidak. Hingga akhirnya aku terima proses ta’aruf itu. Aku hanya ingin membersihkan hatiku, An. Hingga suatu malam, dalam istikhorohku, Allah berikan jawaban yang selalu aku tunggu, sakit memang tapi aku yakin inilah yang terbaik. Bayangan kamu dalam istikhorohku tiba-tiba berkabut, dan wajah lain yang berganti menghiasi mimpiku. Disitu aku yakin, kau memang yang ku inginkan, tapi ternyata bukan kau yang ku butuhkan. Maafkan aku, An. Aku mencintaimu tapi aku lebih mencintai Tuhan-ku. Wassalam’alaikum.wr.wb.

Dengan sisa kekuatan aku menyimpanmu dalam kotak masa laluku.

Deriska.

Kali ini semua beban dan sesak dalam hati Andrian berubah menjadi sebuah penyesalan yang tergambar dari aliran sungai di pipinya. Ia benar-benar menangis. ia menyesali semuanya. Tapi entah apa yang disesalinya. Ia berjalan gontai melewati kerumunan anak-anak yang sedang berkumpul di depan mading. Dari bisik-bisik mereka, Andrian mendengar bahwa Deriska akan menikah minggu depan.

Andrian berlari cepat meninggalkan basement menuju parkiran dan langsung memacu Ninjanya menuju arah gerbang kampus. Ia tancap gas setelah mengembalikan kartu parkir ke petugas satpam yang baru berganti tugas. Tatapan heran mereka mengiringi laju motor Andrian.

Andrian tidak pulang ke rumah. Dia bermalam di cibodas – Puncak. Perjalanan Pamulang–Cibodas membuatnya semakin sesak. Beberapa kali ia hamper menabrak kendaraan di depannya, atau diteriaki “gila” oleh pengguna jalan lainnya karena ia sering menyalip kendaraan yang lain, atau meng-gas motornya dengan kencang.

Sesampainya di bumi perkemahan Cibodas, ia langsung memarkir motornya. Setelah membeli tiket kepada petugas bumi perkemahan ia langsung berlari menembus gelapnya malam rimbunan pepohonan. Dengan perasaan yang tak menentu. Setelah lelah berlari, ia berhenti di tengah-tengah rimbunan pepohonan.

Dulu, ia pernah memberikan jaketnya untuk seorang gadis. Untuk deriska. Kali ini ia benar-benar menyesal. Airmatanya mengair semakin deras. Ia menangis dalam kegelapan malam Cibodas, menyatu dengan desiran angin malam yang menyapu wajahnya.

“Aku mencintaimu, De…lebih mencintaimu dari apa yang kau bayangkan. Aku selalu menyimpanmu disini, De. Disini…tapi kenapa ga pernah ada kesempatan kedua untukku, De? Semua yang aku lakuin ke kamu karena aku sayang kamu de…”. Andrian berteriak keras sambil menepuk dadanya.

Dulu.dulu sekali, persahabatan diantara keduanya telah melahirkan rasa yang tidak seharusnya ada diantara mereka. Hingga sulit sekali mengartikan apakah cinta yang hadir diantara mereka telah menjadi anugerah atau ujian bagi mereka sebagai aktivis Da’wah. Hanya Allah yang tahu seberapa besar Cinta seorang hamba kepada-Nya.[]

Aku mencintaimu, tapi aku lebih mencintai Tuhanku.

Dalam kelelahanku berlari, juli 2010 (gi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar