05 April 2010

Zionis Israel Tidak Ingin Damai, Ada Apa ?

Sebelum berdirinya negara Entitas Zionis di Palestina tahun 1948,bahkan jauh sebelum itu, tidak ada dalam agenda bangsa Israel untuk berdamai dengan bangsa lain. Sebaliknya, sudah menjadi tabiat bangsa ini selalu iri, dengki serta dendam kepada yang lainya. Disamping merasa paling tinggi dibanding bangsa lain.

Kalau kita membuka sejarah panjang konflik antara Arab – Israel, kita akan mendapatkan, bahwa yang selalu memulai agresi dan menyerang adalah Israel. Terutama bagi mereka yang kadung tinggal bertetanggaan dengannya.

Dalam setiap kesempatan mereka selalu memanfaatkan kekuatan militer untuk mendukung kepentinganya. Dalam setiap pertempuran, mereka selalu menghadirkan kekuatan. Semuanya tahu, Israel terkenal dengan maker dan tipu dayanya. Bahkan di saat mereka menanda tangani perjanjian gencatan senjata ataupun perdamaiannya sekalipun. Merekalah yang pertama kali melanggar perjanjian kesepakatan.

Sejumlah pihak yang dikenal sebagai penengah perdamaian dari luar kawasan, mayoritas sudah dibentuk untuk selalu tunduk atau condong pada Israel. Biasanya mereka muncul setelah terjadinya perang atau krisis yang menyababkan hak-hak bangsa Palestina semakin terkuras.

Sejumlah mediator biasanya berasal dari organisasi internasional semisal PBB. Atau dari pihak yang netral di kalangan barat. Tetapi biasanya semuanya condong pada kebijakan-kebijakan Israel.

Para mediator ini biasanya berperan aktif dalam peneguhan Entitas Zionis yang muncul bersamaan dengan agresi Israel. Seperti halnya yang terjadi pada tahun 1948. Dan pada paska perang Juni 1967 atau setelah perang umum Oktober 1973, setelah Israel menyerang Libanon serta perlawanan Palestina dalam beberapa decade pertempuran antara keduanya.

Dari sini tampak bahwa Israel selalu menolak mentah-mentah perdamaian. Sebelum, ketika atau setelah dilangsungkanya kesepakatan. Seperti terjadi pada kesepakatan Oslo yang ditanda tangani di Washington tahun 1993. Agar ia menerima perdamaian, walau hanya formalitas dengan prinsip-prinsip perdamaian, maka harus dilakukan berabagai penyerahan yang sangat menyiksa dan menyesakkan dada.

Ditengah hal itu, harus ada jaminan untuk mengakui secara resmi atas eksistensi Israel di Palestina yang dijajahnya antara tahun 1917. Jauh sebelum adanya perjanjian Belfour hingga deklarasi berdirinya Negara Israel secara resmi tahun 1948. Dan semua itu menghasilkan trnsaksi politik neraka buat bangsa Palestina dan kemenangan di atas angin untuk Israel.

Kemudian pemerintahan Palestina yang dihasilkan dari perjanjian Oslo sangat-sangat terbatas dari berbagai segi. Pemerintahan tersebut diperlukan seolah hanya untuk memberikan cap jempol cek kosong bagi Israel. Ia harus menerima apa saja yang diinginkan Israel termasuk siasat pemerasan, baik secara paksa, lemah lembut, konspiratif, penipuan atau kebodohan politis.

Dalam setiap langkahnya, baik besar maupun kecil dalam menuju terbangunya perdamaian, Israel selalu membuat batu sandungan, kerikil ataupun rintangan. Maka perundingan damai dengan Israel ibarat judi politik. Israel senantiasa melakukan berbagaimacam pembunuhan politik, perampasan tanah dan memprovokasi perasaan bangsa Arab dan kaum muslimin, secara agama maupun kemanusiaan.

Tujuan akhri dari tindakan mereka adalah menghapuskan semua upaya damai. Karena perdamaian menurut Israel adalah tunduk pada persyaratan-persayaratan perdamaian. Hal ini jelas menantang obsesi Israel sebagaimana terdapat dalam kitab Talmud maupun Taurat.

Ditengah penolakannya terhadap perdamaian, berarti Israel telah melecehkan perasaan ratusan juta manusia. Mengubah peninggalan bersejarah Al-Quds, bukan hanya terjadi saat ini saja. Jauh sebelumnya yaitu sebelum pendirian Negara Israel mereka telah melakukannya. Akan tetapi langkah mereka masih tersendat menunggu saat yang tepat.

Saat ini, proses yahudisasi Al-Quds telah memasuki pase terakhri, dengan cara arogan dan biadab. Mereka telah melanggara semua prinsip nilai, pengakuan nasional, agama dan kemanusiaan. Mereka melakukanya atas hawa napsu, obsesi, penafsiran dan bisikan rasialisnya. Mereka mau mengembalikan sejarah pada ribuan tahun sebelumnya. Mimpi ini mereka terapkan pada rakyat Arab dan Islam yang telah dikerdilkan dan dilemahkan atas ketidak mampuan mereka dalam bidang militer, akibat undang-undang persenjataan yang sangat tidak adil, bila dibanding Israel yang kemampuanya berlipat-lipat dan dilengkapi peralatan canggih dan modern.

Orang-orang yang masih menggantungkan harapanya terhadap perdamaian Israel, kini dilanda kebimbangan dan kegalauan. Mereka hamper-hampir putus asa dalam setiap transaksinya.

Oleh karena itu, Israel membangun kerja sama dengan sekutunya secara setrategis untuk mempersiapkan segala sesuatunya tanpa batas, baik pendanaan, dukungan maupun opininya.

Dari sisi nasionalisme, Israel tidak menginginkan bangsa Palestina menguasai satu jengkalpun tanah di wilayah jajahan. Baik yang dijajah sejak tahun 1948 atapun pada wilayah jajahan tahun 1967.

Atas dasar agama dan kelompok radikal Israel menodai semua situs tempat yang sensitive dalam sejarah agama Islam maupun Nashrani. Seperti yang terjadi di Betlehem, Al-Quds dan Hebron. Dan dari sisi kemanusiaan, mereka senantias melakukan penganiayaan terhadap rakyat Palestina setiap harinya. Disamping penghinaan dan pelecehan yang menyakitkan sejak puluhan tahun yang lalu. (pic) www.suaramedia.com

Dr. Nasrin Murad

Universitas UEA

Nasrin@uaeu.au.ae

Tidak ada komentar:

Posting Komentar