20 Juli 2010

Catatan Perjalanan Ilmiah Ke Negeri Syam

Catatan Perjalanan Ilmiyah ke Nengri Syam (Tamat)
Keutamaan Negri Syam

Oleh Fathuddin Ja’far

Bagi yang membaca sejarah Islam, Damaskus tidaklah asing baginya. Sebab, sejak Islam masuk ke sana di tangan para Sahabat Rasul Saw. khususnya Khalid Ibnul Walid dan Abu Ubaidah Ibnul Jarrah, negeri yang menjadi tempat kelahiran para Nabi tersebut berubah total menjadi negeri Islam.

Bahkan tidak lama sepeninggalan Nabi Muhammad Saw. , yakni di zaman Khilafah Bani Umayyah pusat pemerintahan Islam pindah ke sana dari yang sebelumnya di Madinah. Hal tersebut membuktikan bahwa negeri Syam adalah negeri yang memiliki kelebihan dan keberkahan seperti yang dijelaskan beberapa hadits Rasul Saw.

Abu Daud dalam Sunannya meriwayatkan dari Abdullah Bin Amr, ia berkata : Bersabda Rasul Saw. : Nanti akan ada hijrah setelah hijrah (setelah hijrah ke Madinah akan ada lagi hijrah ke Syam). Sebab itu, sebaik-baik penduduk bumi ialah yang menetap di tempat hijrahnya Ibrahim (Syam). Dalam hadits lain, Abu Daud meriwayatkan dari Abdullah Bin Hawalah, dari bda : Sesungguhnya kamu akan menemukan beberapa pasukan; ada yang di Syam, ada yang di Yaman dan ada yang di Irak.

Ibnu Hawalah berkata : Wahai Rasulullah, pilihkan untuk saya. Maka Rasul berkata : Hendaklah kamu di Syam, karena Syam itu bumi pilihan Allah, manusia yang baik digiring kesana. Maka siapa yang tidak mau ke sana, hendaklah ia bergabung dengan pasukan di Yaman, maka hendaklah ia meminum dari sumber mata airnya. Sesungguhnya Allah menjamin bagi saya Syam dan penduduknya.

Tidak dipungkiri bahwa Syam adalah negeri yang bersejarah, khususnya Damaskus. Masih nampak dengan jelas berbagai peninggalan sejarah masa lalu. Di antaranya adalah Al-Jami’ Al-Umawi (Masjid Agung Umawi). Terletak di tengah kota Damaskus dan dikelilingi oleh pasar tua, namun bersih dan rapih. Penduduk Damaskus menyebutnya dengan Suq Al-Hamidiyyah.

Al-jami’ Al-Umawi adalah masjid termegah pertama di dunia. Dibangun sejak Abu Ubaidah Ibnul Jarrah menguasai Damaskus dan sekitarnya dengan cara damai. Kemudian dipugar dan dibangun kembali dengan megah oleh Khalifah Umayyah, Al-Walid Bin Abdul Malik pada tahun 95 H, atau bertepatan dengan 705 M, sehingga menjadi masjid termegah dan terbesar pertama dalam sejarah Islam. Sejak berdiri, sampai hari ini, Al-Jami’ Al-Umawi.
Al-Jami’ Al-Umawi tampak di malam hari menjadi pusat pengajaran dan penyebaran Islam. Di masjid ini pulalah Syekh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi, seorang ulama terkemuka saat ini mengadakan pengajian rutin bagi murid-muridnya yang berdatangan dari berbagai penjuru negeri Islam.

Negeri Yang Memiliki Banyak Kelebihan Keutamaan dan kelebihan negeri Syam, khususnya Damaskus masih dapat dirasakan sampai saat ini. Kelebihan dan keutamaan tersebut tak lain adalah seperti yang dijelaskan Rasu Saw. dalam berbagai hadits Beliau.

Saat menginjakkan kaki pertama kali di kota Damaskus, kita dengan mudah menyaksikan kelebihan-kelebihan tersebut. Apalagi saat mengunjungi berbagai peninggalan peradaban Islam yang sangat luar biasa yang sudah berdiri tegak sejak 13 abad yang lalu. Ketika berkeliling di pasar yang mengitari Al-Jami’ AL-Umawi (Suq Al-Hamidiyyah) yang berumur ratusan tahun itu, namun bangunannya masih kokoh, rapih dan bersih, kemudian memasuki Al- Penulis di Suq Al-Hamidiyyah Jami’ Al-Umawi yang setiap saat dipenuhi pengunjung dari berbagai penjuru dunia, baik Muslim maupun non Muslim, kita akan berdecak kagum.

Yang tergambar dalam benak kita adalah : Dalam kondisi umat Islam ketinggalan jauh dalam berbagai lapangan hidup, Al-Jami’ Al-Umawi dan sekitarnya masih menyisakan kemajuan peradaban Islam yang kalau dikiaskan jauh lebih maju dari kondisi di negeri kita yang sudah dimasuki Islam sejak 7 abad lalu. Bagaimana Damaskus saat umat Islam berada dalam era keemasannya? Sungguh sulit kita bayangkan.

Kelebihan lain yang nampak jelas adalah masyarakatnya yang sangat unik. Di wajah mereka terukir kecerdasan, terdidik, rendah hati, ramah, pemurah, rapih dan menghormati setiap tamu yang datang ke negeri mereka. Apalagi jika tamu tersebut sebagai thulab ulum syar’iyyah (pelajar ilmu syar’i), mereka akan memberikan apa yang mereka miliki, sejak dari uang sampai kue dan Penulis bersama pemilik toko kue makanan lainnya.

Hampir setiap siswa yang belajar ilmu syar’i di Damaskus bercerita bahwa mereka sering menerima uang dari masyarakat di sana, khususnya saat mereka sering terlihat shalat berjamaah di masjid. Yang menarik ialah, mereka yang meyumbang itu tidak pernah bertanya, siapa, nama, dari mana, apa pekerjaan dan sebagainya. Seakan feeling masyarakat Syam memahami dengan baik mereka adalah para pelajar yang menekuni ilmu syar’i di negeri mereka yang penuh berkah itu, dan merupakan kewajiban mereka memberikan dukungan sesuai yang mereka mampu.

Salah satu bentuk kebaikan dan kemurahan hati masyarakat Damaskus adalah perlakuan mereka terhadap para pengungsi (Muhajirin) Palestina akibat pengusiran Yahudi 1948. Di pingiran kota Damaskus terdapat sebuah kawasan khusus penampungan Muhajirin Palestina yang berjumlah sekitar 600 ribu orang. Namanya Mukhayyam Yarmuk.

Dalam bayangan kita saat mendengar kata Mukhayyam (tempat berkemah) itu
adalah kemah-kemah besar yang dijadikan tempat tinggal Muhajirin Palestina tersebut. Namun, saat kami berkunjung kesana, tak ada satupun kemah itu terlihat. Yang terlihat adalah komplek pertokoan tiga tingkat (ruko) besar dan dengan bangunan moderen. Di situlah Muhajirin Palestina tinggal sejak tahun 1948, 1867 dan terus saja mengalir sampai saat ini. Bahkan beberapa tokoh besar Hamas pun diberikan kemudahan dan perlindungan tinggal di sana seperti Khalid Misy’al.

Kami sangat tercengang melihat fakta kebaikan masyarakat Damaskus tersebut terhadap kaum Muslim yang datang dari berbagai penjuru dunia, khususnya terhadap kaum Muslimin Palestina. Ternyata, pemerintahan Suriyah sejak tahun 1948 telah memberikan hak istimewa kepada para Muhajirin Palestina tersebut, bahkan mereka diperbolehkan memiliki asset seperti tanah, bangunan, usaha, menikah dengan warga setempat, menjadi pegawai negeri sipil, militer dan sebagainya. Kepada mereka diberikan hak penuh seperti hak pribumi, kecuali warga negara.

Dan hal tersebut tertulis secara konstitusi. Saat kami tanyakan kenapa demikian, ternyata alasannya adalah, jika pemerintah Suriyah memberikan kewarganegaraan bagi para Muhajirin Palestina, maka mereka tidak akan berniat lagi kembali ke Palestina yang menjadi kampung halaman mereka. Hal seperti itulah yang diinginkan Yahudi yang menduduki Palestina.

Penulis sendiri pernah mengalaminnya saat berada dalam masjid sehabis shalat berjamaah, tiba-tiba datang seseorang mendekati sambil menyalami dan membisikkan, tolong sampaikan amanah ini kepada temanmu yang duduk di sana, untuk kamu separuhnya. Secepat apa ia datang, secepat itu pula ia berpaling tanpa ada kesempatan untuk mengucapkan terima kasih.

Tradisi baik seperti ini masih terjaga sejak zaman keemasan Damaskus lebih dari
seribu tahun lalu, saat ulama-ulama besar seperti Imam Bukhari, imam Syafi’i, Ibnu Rajab Al-Hambali, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim dan beribu-ribu ulama besar lainnya yang pernah menjadikan Damaskus sebagai tempat menimba dan mengajarkan ilmu kepada generasi Islam dari berbagai penjuru dunia. Sungguh mengagumkan.

Hal lain yang membuktikan Syam, khususnya Damaskus adalah negeri penuh berkah ialah perhatian masyarakatnya terhadap masjid. Ciri-ciri masjidnya ialah besar, jarak antara satu masjid dengan masjid yang lain tidak jauh. Setiap masjid yang kami singgahi selalu dalam kondisi yang sangat bersih, nyaman dan selalu saja ada yang belajar ilmu syar’i di dalamnya, sejak dari metode salaf (talaqqi), sampai dengan konsep belajar moderen seperti yang ada di masjid Syekh Rifa’i. (lihat tulisan kami sebelumnya
bersama Syekh Rifa’i).

Bicara soal keberkahan dan kelebihan negeri Syam tidak akan pernah habisnya. Dalam kondisi umat Islam seperti sekarang saja, negeri Syam nampak berbeda jauh dari negeri-negeri Islam lainnya, khususnya karakter
masyarakatnya. Hal tersebut tak terlepas dari doa dan kabar yang disampaikan baginda Rasul Muhammad Saw.

Dalam hadits lain dijelaskan : Dari Abdullah Bin Umar radhiyallahu anhuma, ia berkata : Rasul Saw shalat fajar (subuh) kemudian ia menghadap jamaah sambil berkata: Ya Allah, berkahilah bagi kami dalam kota kami, dan berkahilah kota-kota kami dan berkahilah timbangan kami. Ya Allah, berkahi tanah Haram kami dan berkahilah negeri Syam kami. Maka tiba-tiba di antara hadirin ada yang berkata : di Irak? Maka Rasul diam. Lalu orang tersebut berkata lagi : dan di Irak kami? Maka Rasul tetap diam.

Kemudian Rasul berkata lagi : Kota kami dan kota-kota kami serta sukatan kami. Ya Allah, berkahilah Syam kami. Ya Allah, jadikanlah bersama keberkahan itu keberkahan. Demi Dzat yang nyawaku di tangan-Nya. Tidak ada suatu jalan atau gang di Madinah itu kecuali ada dua malaikat yang menjaganya sehingga kamu bisa datang kepadanya. (Hadist shaheh tercantum dalam fadhailusy Syam.

Semoga Allah tetap menjaga keberkahan dan kelebihan negeri Syam tersebut dan semoga kita diberikan-Nya kesempatan merasakan keberkahannya, khususnya di akhir zaman yang penuh fitnah ini. Amin… (em)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar