31 Maret 2010

Di Balik Keberanian Kongres Gay di Surabaya

Sebuah fenomena menarik terjadi akhir pekan ini di Indonesia. Sebuah organisasi gay dan penyimpangan seksual lain yang bernaung dalam ILGA (International Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender dan Intersex Association) bisa begitu vulgar dan ngotot akan mengadakan kongres keempatnya di negeri muslim seperti Indonesia. Tepatnya, di Surabaya.

Pertanyaan menarik, kenapa mereka bisa begitu vulgar dan berani mempromosikan sebuah acara besar seperti kongres di Indonesia? Padahal, sudah jelas-jelas, rencana kongres mereka tanggal 26 hingga 28 Maret ini ditentang hampir seluruh kalangan. Tidak kurang dari 20 ormas Islam di Surabaya menolak keras kongres gay ini. Begitu pun dengan walikota dan polwiltabes Surabaya.


Setidaknya, apa yang diucapkan ketua pelaksana kongres ILGA, Rafael Decosta, memberikan keterkejutan tersendiri. Menurutnya, pembatalan acara bukan karena adanya penolakan dan ancaman dari ormas Islam. Tapi, karena polwiltabes Surabaya tidak memberi izin.

Decosta yakin, bahwa penolakan terhadap kongres ILGA se-Asia ini lebih disebabkan karena ketidaktahuan masyarakat terhadap kegiatan organisasi yang mereka lakukan. Dengan kata lain, kongres sebenarnya bukan dibatalkan, tapi ditunda. Butuh waktu untuk menjelaskan ke masyarakat Indonesia, yang menurut mereka belum memahami soal tindak tanduk ILGA.

Kaum Gay LaknatullahKaum Gay Laknatullah

Dari pernyataan Decosta itu, ada beberapa hal yang bisa dicermati soal gerakan ILGA di Indonesia.

Pertama, gerakan mereka di Indonesia bukan gerakan baru. Tapi sudah dimulai sejak lama. Pada tahun 1969, di Jakarta berdiri organisasi wadam (baca: gay) pertama, Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD). Organisasi ini berdiri difasilitasi oleh Gubernur DKI Jakarta Raya, Ali Sadikin. Pada tanggal 1 Maret 1982, organisasi gay terbuka pertama di Indonesia dan Asia, Lambda Indonesia, berdiri, dengan sekretariat di Solo.

Dalam waktu singkat, terbentuklah cabang-cabangnya di Yogyakarta, Surabaya, Jakarta dan tempat tempat lain. Terbit juga buletin G: gaya hidup ceria (1982-1984). Akibat dari munculnya organisasi Lambda Indonesia, di tahun1992, terjadi ledakan berdirinya organisasi-organisasi gay di Jakarta, Pekanbaru, Bandung dan Denpasar. Juga di tahun 1993 Malang dan Ujungpandang menyusul.

Pada tahun-tahun selanjutnya, kaum gay makin banyak mendirikan organisasi dan komunitas, hanya saja belum berani unjuk diri secara terang-terangan ke masyarakat Indonesia.

Namun, akhir-akhir ini fakta itu bergeser. Pasalnya, acara-acara TV yang menampilkan sosok gay semakin banyak. Kebanyakan dari mereka muncul untuk “menginformasikan” kehidupan kaum gay kepada masyarakat. Dan, karena tampilan yang bombastis dan sering itu, masyarakat pun menjadi terbiasa, bahkan terhibur oleh penampilan para gay di layar televisi.

Salah satunya acara Empat Mata yang dibintangi oleh komedian Tukul Arwana. Pada tanggal 16 Mei 2007, Empat Mata menghadirkan seorang gay yang bernama Dede. Dede hadir menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar dunia gay.

Pemunculan Dede ini dinilai oleh sebagian pihak sebagai tanda-tanda bahwa masyarakat Indonesia mulai menerima kehadiran kaum gay, atau setidaknya mulai tumbuh rasa ingin tahu tentang kehidupan kaum gay.

Berapa sebenarnya jumlah dan perkembangan kaum gay di Indonesia? Menurut sebuah situs gay, jumlah gay yang terdaftar di web tersebut untuk kota Jakarta saja mencapai 3000 orang. Sedangkan hasil survey YPKN (Yayasan Pelangi Kasih Nusantara) menunjukkan, ada 4.000 hingga 5.000 penyuka sesama jenis di Jakarta.

Menurut Ridho Triawan, pengurus LSM Arus Pelangi, sebuah yayasan yang menaungi lesbian, gay, waria dan transjender, setidaknya ada 5000 gay serta lesbian yang hidup di Jakarta. Secara kalkulasi, pakar seksualitas Dr Boyke Dian Nugraha sempat mencatat bahwa frekuensi kaum gay yang murni adalah satu dari 10 pria.

Sedangkan LSM gay yang lain, Gaya Nusantara, memperkirakan sekitar 260.000 dari enam juta penduduk Jawa Timur adalah homo. Angka-angka itu belum termasuk kaum homo di kota-kota besar. Dr. Dede Oetomo memperkirakan, secara nasional jumlahnya mencapai sekitar 1 persen dari total penduduk Indonesia. Kalau asumsi Dr Dede Oetomo benar, tentunya itu sebuah angka yang membelalakkan mata.

Kedua, adanya dukungan dari pejabat. Inilah yang membuat mereka yakin bisa melalui penolakan dari berbagai ormas Islam. Sebuah media massa nasional memberitakan bahwa sebelum ILGA mengajukan izin ke kepolisian Surabaya, mereka sudah mendapat izin dari Mabes Polri.

Dukungan lain juga datang dari Komnas HAM. Dengan dalih hak azazi manusia, seorang ketua Komnas HAM, Ifdal Kasim, mendukung diselenggarakannya kongres ILGA Asia di Surabaya. Menurutnya, kelompok marginal yang rentan mengalami diskriminasi ini harus tetap mendapatkan perlindungan dan hak-haknya.

Bagi Komnas HAM, pemerintah seharusnya mendukung dan memberikan hak-hak yang sama terhadap kaum marginal. Karena mereka juga merupakan bagian warga negara. “Kaum marginal juga mempunyai hak-hak berkumpul menggelar seminar atau kongres,” papar Ifdal yang mengaku sudah dihubungi pihak panitia. (inilah)

Selain itu, dukungan juga datang dari wakil ketua DPRD Jawa Timur, Sirmadji. Anggota FPDIP yang juga ketua DPC PDIP Jatim ini mendukung pelaksanaan kongres ILGA digelar di Surabaya. Menurutnya, persoalan hak azazi harus dihormati sebagaimana yang sudah diatur dalam UUD 1945.

Ketiga, pemilihan Surabaya sebagai tempat kongres di Indonesia tentu bukan asal tunjuk. Tidak tertutup kemungkinan, Jawa Timur khususnya Surabaya merupakan daerah yang mempunyai populasi gay terbesar di Indonesia. Selain itu, letak Surabaya yang berdekatan dengan lokasi wisata internasional seperti Bali mempunyai letak yang lumayan strategis.

Jika dilihat dari tempat-tempat kongres sebelumnya, lingkungan sekitar Surabaya memang mempunyai kesamaan dengan lokasi kongres kesatu hingga tiga. Kongres ILGA pertama diselenggarakan di sebuah kota wisata yang padat dengan komunitas Yahudi, yaitu Mumbai, India (2002). Kongres kedua di kota yang tidak begitu berbeda dengan yang pertama, di Cebu, Filipina (2005). Dan ketiga, di Chiang Mai, Thailand (2008).
Selain berdekatan dengan Bali, Surabaya mempunyai kompleksitas penduduk yang lebih heterogen dibanding Jakarta. Satu-satunya rumah ibadah Yahudi di Indonesia juga berada di Surabaya.

Tentunya, fenomena ini menjadi pekerjaan rumah yang berat untuk para aktivis Islam di kota-kota besar di Indonesia, khususnya Surabaya. Mnh/berbagai sumber/em

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar