28 Agustus 2010

Rahasia Utama Seorang Ustadz Yang Menjadi Pengusaha Brilian

Sosok yang sederhana, bahkan bisa dibilang sangat sederhana atau mungkin untuk sebagian orang terlihat "kampungan" itu adalah Ustadz Lihan. Sangat sederhana, sampai pernah seorang petugas di hotel menegurnya yang mengira dia bukan salah satu tamu hotel mewah tersebut, karena dia hanya menggunakan sandal, kaus oblong dan berpenampilan apa adanya.

Ustadz Lihan lahir di Lianganggang, 9 Juli 1974, sang Entrepreneur Sejati, pengusaha sukses yang hanya dalam waktu 8 tahun bisa mendirikan lebih dari 10 perusahaan di beberapa kota besar di Indonesia dan salah satunya juga ada di Cina. Lebih dari 10 perusahaan yang dia miliki, tapi di sisi lain tidak semua bidang yang perusahaannya jalani dia kuasai. Semua perusahaan yang dimilikinya 100% dijalankan oleh orang lain, orang-orang yang ahli di bidangnya dan juga merupakan orang-orang kepercayaannya.

Ustad pemilik PT Tri Abadi Mandiri ini lulus dari Ponpes Darul Hijrah tahun 1995, sudah banyak mengalami asam garam dalam dunia bisnis. Prinsip bisnis yang selalu menjadi pedomannya adalah "Berbisnis dengan syariah". Membuka peluang kerja bagi orang lain adalah cita-citanya, "Semua saya jalani karena mencari ridho Allah SWT", ungkap Ustad Lihan.

Tahun 1998, sepuluh tahun lalu Ustadz Lihan hanya perantara pedagang sepeda motor dan tidak dapat bertahan lama dikarenakan permintaan sepeda motor yang terus menurun pada waktu itu. Setahun berikutnya Ustadz Lihan memulai bisnis menjual Intan dengan menggunakan modal orang lain. Dan inipun tidak berlangsung lama, pada tahun 2001 Ustadz Lihan mulai menggunakan modal sendiri, dan dari sinilah "petualangan" Ustadz Lihan dimulai.

"Tegar, kerja keras dan menjalaninya dengan Lillahi Ta'ala"

Kata itulah yang Ustadz Lihan tegaskan jika ingin menjadi seorang Entrepreneur. Pada blognya, Lihan.net, beliau banyak menceritakan kesehariannya, tentang renungan dan pengalaman mendapatkan investasi untuk menjalankan perusahaannya, bahkan pengalaman membuat NSP kreasi Ustadz Lihan-pun ceritakan.

Di benak sebagian orang masih tertanam kuat satu persepsi, bahwa dunia ustadz itu hanya berputar-putar di sekitar masjid, mushola, dan mimbar, dengan mengaji, dzikir, memutar tasbih, dan ceramah sebagai aktivitas yang selalu menemaninya setiap hari. Dengan persepsi ini, tidak sedikit orang yang kemudian menduga (bahkan berkeyakinan) bahwa seorang ustadz tidak becus menjalakan usaha, apalagi sampai menggapai keberhasilan. Realitas yang berkembang di masyarakat tanpa disadari memang menggiring seseorang untuk cepat berkesimpulan seeperti kesimpulan di atas.

Namun persepsi dan kesimpulan di atas ternyata salah besar. Sukses dalam menekuni dunia usaha itu ternyata bukan semata milik orang-orang berpendidikan, orang-orang yang dibesarkan dengan kakayaan dan kecukupan modal, ataupun orang-orang yang memiliki dukungan dan networking yang luas, tapi milik siapa saja yang memiliki niat yang kuat dan kemauan yang keras untuk menggapai kesuksesan. Tidak terkecuali seorang ustadz.

Sukses besar yang diraih lihan "ini yang terpenting" dimulai dari titik nol, dari banyak ketiadaan; ketiadaan modal, minimnya pendidikan, dan minimnya dukungan. Tapi ketiadaan dan segudang kekurangan yang menghimpitnya tidak pernah membuatnya patah arang dan semangat. Lihan bisa mengatasi segala keterbatasan dan kekurangan yang melingkupinya dengan tekun, sabar dan tidak pernah berputus asa. Kita pun bertanya-tanya, bagaimana Sang Ustadz memulai dan menjalankan bisnisnya sehingga bisa menggapai kesuksesan yang sangat fantastis?

Melalui wawancara dan investigasi mendalam, Ahmad Bahar dalam buku ini menjelasakan, bahwa rahasia kesuksesan yang dicapai Lihan dalam segenap usaha yang dijalaninya, sebagaimana dijelaskan sendiri oleh Sang Ustadz, adalah karena ia tidak pernah melupakan shodaqoh. Inilah rahasia utama yang menjadikan bisnisnya terus jaya dan berkembang dari waktu ke waktu. Prinsip berbagi dengan orang lain itu tidak hanya dilakukan saat usahanya mendulang keuntungan besar, tapi juga dilakukan saat usahanya dalam posisi merugi.

Kemudian, yang kedua, ia tidak selalu menjadikan keuntungan sebagai faktor utama dalam menjalankan bisnisnya. Sebab, baginya keuntungan pasti didapatkan ketika kita mencoba berbagi dengan orang lain. Ia mengistilahkan, bahwa pergerakan roda bisnisnya lebih dikendalikan oleh hati dan nurani, yang lebih mementingkan unsur kemanusiaan dengan prinsip membantu orang lain. Dengan prinsip yang tidak biasa inilah sang ustadz meraup keuntungan yang sangat banyak dan berlimpah. (fn/ic/kb) www.suaramedia.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar