27 Juli 2011

A B C D

Tahun 1973, kedua orang tua saya memilihkan TK Sumbangsih sebagai tempat saya bersekolah. Padahal semua kakak saya, tidak ada satupun yang masuk TK. Mereka semua langsung masuk jenjang SD.

Satu tahun di TK, orang tua saya kembali memilihkan SD Sumbangsih sebagai jenjang berikutnya. Untuk memperkuat basis keagamaan, beliau juga sekolahkan di Madrasah Tanwiirul Quluub. Dua-duanya saya jalani, dan hasilnya tidak terlalu buruk.

Lulus dari SD, kedua orang tua saya, memberikan kebebasan penuh kepada saya untuk memilih, apapun sekolah yang saya inginkan. Dan saya memilih SMPN 33 di Jakarta. Setelah melalui proses seleksi, saya pun bersekolah di sana sampai lulus.

3 tahun kemudian saya memilih untuk melanjutkan sekolah ke SMAN 3 Jakarta, juga melalui tes, dan lulus. Di kelas dua, saya memilih jurusan Biologi. Mengingat syarat-syarat untuk masuk di jurusan itu bisa saya penuhi, maka saya pun melenggang di jurusan itu, bahkan sampai saya lulus SMA.

Lulus SMA, saya seperti berada di persimpangan jalan. Saya harus memilih satu jalan yang akan saya lalui, yang tidak memberi kemungkinan untuk kembali. Saya ikut tes penerimaan di beberapa Akademi yang menjanjikan ikatan dinas setelah lulus kuliah. Selain itu, saya juga ikut Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru). Saat itu ada dua tujuan. Pertama, Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman. Kedua, fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat.

Pada saat pengumuman hasil Sipenmaru, saya temukan nama saya tercantum dalam daftar yang diterima di Fakultas Peternakan Unsoed. Saat itu, saya punya beberapa pilihan. Dua akademi berikatan dinas sudah pula menerima saya. Dan ketika itu, dengan beberapa pertimbangan, saya memilih kuliah di Purwokerto.

Inilah hukum ABCD. Alive, starts from Birth to Death. Between them, there are various of Choices. Hidup dimulai sejak lahir hingga meninggal. Di antara keduanya, dihiasi oleh aneka pilihan!

Hari ini, saya yakin sekali, bahwa saya berada pada posisi seperti sekarang ini, adalah akibat dari pilihan-pilihan yang saya ambil sendiri, atau melalui orang lain. Semua pilihan itu adalah gabungan mata rantai, yang membentuk kehidupan saya sejak lahir hingga saat ini, dan masih akan berlanjut sampai saya menutup mata.

Satu saja mata rantai di atas hilang atau terputus, bisa jadi saya akan tiba di posisi lain. So, di satu sisi, hati-hati memilih. Sisi yang lain, memilih jauh lebih baik, sekalipun pilihan yang salah. Memilih, yang juga berarti memutuskan, akan membuat hidup kita bergerak.

Zainal Abidin

Ketua Tim Pendirian Akademi Kemandirian

www.zainalabidin.net / wi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar