27 Juli 2011

Mengapa Harus Menunggu?

Liburan panjang pekan lalu, saya isi dengan kegiatan yang berbeda dari biasa. Tidak dengan berlibur bersama keluarga, atau melaksanakan hobi tetapi menyempatkan diri untuk menjadi pelayan masyarakat. Selama dua hari, saya 'nyambi' jadi pengemudi mobil jenazah.

Selain aktif di Institut Kemandirian, saya juga ikut membantu beberapa sahabat dalam mengelola mobil-mobil jenazah yang digratiskan bagi masyarakat Jakarta yang membutuhkan. Untuk penggunaan di dalam kota Jakarta, mobil itu betul-betul bisa dipakai tanpa bea sedikit pun. Pengguna tidak perlu membayar sewa mobil, upah sopir dan kernet serta membeli bahan bakar. Semuanya gratis. Untuk penggunaan ke luar kota, pengguna dikenakan biaya yang tarifnya jauh lebih murah dibanding rate normal.

Selama ini, tugas kami sebagai pengelola hanya lah mengatur rute perjalanan sepuluh unit mobil yang ada. Telunjuk dan mulut kami lah yang lebih banyak bekerja. Selebihnya, tugas-tugas pelayanan dilaksanakan oleh masing-masing petugas. Nah, mumpung libur, saya cetuskan ide pergantian tugas itu. Kami-kami di manajemen akan melaksanakan tugas yang biasa dilakukan oleh para sopir dan kernet.

Siang itu, saya jadi sopir. Yang hari itu 'giliran' dipanggil menghadapNya adalah seorang ibu yang memiliki 2 orang anak, yang masih kecil-kecil. Usianya baru 35 tahun. Kecuali memang umur beliau sudah sampai, sepertinya tidak ada penyebab lain. Ibu ini tidak punya riwayat penyakit yang mengkhawatirkan. Malamnya masih ngobrol dengan sang suami menjelang tidur, tetapi pagi harinya, ketika mau dibangunkan menjelang Shubuh, beliau sudah meninggal.

Menunggu jenazah dimandikan, jumlah pelayat bertambah banyak. Saya duduk di sebuah tempat yang menyatu dengan pelayat lainnya. Karena nyaris tanpa teman, saya hanya jadi pendengar yang baik. Mendengar para pelayat bercerita tentang pengalaman hidup dan interaksi mereka dengan almarhumah.

Selain aktivitas pekerjaan sebagai guru di sebuah sekolah dasar, almarhumah juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan seperti pengajian, posyandu dan sebagainya. Banyak prestasi dan penghargaan diukir almarhumah di berbagai kegiatan itu, baik sendiri maupun berkelompok.

Dan, siang itu, saya mendengar begitu banyak pujian untuk almarhumah. Pujian soal sikap almarhumah, prestasi serta jasa-jasa beliau ketika masih hidup. Saya membayangkan, sangat boleh jadi, seandainya almarhumah mendengar cerita positif atau pujian tentang dirinya, ia akan merasa seanng sekali. Tidak ada seorang pun yang tidak senang dipuji. Sayangnya, kini almarhumah sudah terbujur kaku dan tidak bisa mendengar cerita-cerita itu.

So, mengapa harus menunggu seseorang meninggal dunia untuk bercerita soal kebaikannya? Lakukan itu sekarang, pada orang-orang tercinta anda! Jangan menunggu sampai mereka semua dipangggilNya.

(Sudah dimuat di Harian Semarang, Rubrik Inspirasi, Jum'at 10 Juni 2011/wi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar