27 Juli 2011

Teruslah Bergerak

Guru Fisika ketika saya SMA, punya cara sederhana untuk menerangkan hukum Newton pertama, atau lebih dikenal sebagai hukum kelembaman.

Pak Andi, kami menyebutnya demikian, meletakkan sebutir kelereng di atas selembar kertas, kemudian menariknya dengan kecepatan tinggi. Ternyata, kelereng tetap berada pada posisi tidak bergerak.

Pak Andi kemudian kembali meletakkan kelereng di atas kertas, kemudian mendorong kelereng ke satu arah. Kelereng pun bergerak, dan cenderung tetap bergerak. Praktek sederhana menerangkan secara mudah teori fisika yang biasanya rumit, di mana sebuah benda yang berada pada posisi diam akan cenderung untuk tetap diam dan benda yang bergerak akan terus cenderung untuk tetap bergerak.

Teori ini pun seperti mendapatkan pembenaran ketika saya melakukan flashback ke masa lalu, ketika masih kuliah. Di semester awal, secara umum para mahasiswa terbiasa menumpuk tugas sampai menjelang deadline. Dan inipun berdampak, ketika mau ujian mereka baru belajar dengan sistem SKS. Sistem Kebut Semalam.

Hasilnya? Mana ada tugas yang diselesaikan secara terburu-buru hasilnya baik. Pelajaran yang dibaca semalam, paginya sudah menguap. Bertolak dari teori dan pengalaman di atas, saya punya teori soal orang malas dan orang rajin. Secara umum, sangat sulit mengubah perilaku orang malas menjadi rajin.

Mengapa? Karena orang-orang yang kesehariannya malas akan cenderung akan tetap malas. Dia akan memilih diam daripada bergerak, kecuali terpaksa! Karena itulah, setelah meniti karir cukup lama di dunia profesional, dan sempat pula duduk di kursi yang cukup tinggi di perusahaan, saya menggunakan jurus paksa ini kepada hampir semua bawahan yang punya kecenderungan malas.

Akibatnya, mereka yang berkeinginan berubah, sedikit demi sedikit mulai rajin. Lama-kelamaan, jika tidak bergerak, ada perasaan tidak enak dalam diri mereka. Tak jarang, mereka pun mengambil inisiatif untuk menolong kawan-kawannya yang terlihat sibuk. Sebaliknya, mereka yang enggan berubah, merasa tidak nyaman berada di antara kawan-kawannya yang sudah berubah. Tanpa diminta, akhirnya ia mengundurkan diri secara sukarela.

Terus lah bergerak, karena itu satu-satunya cara untuk berubah. Diam di tempat, hanya akan membuat anda tersingkir dari persaingan. Cepat atau lambat!

(Sudah dimuat di Harian Semarang, Sabtu 26 Maret 2011, Rubrik Inspirasi/wi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar