27 Juli 2011

W A K T U

Bayangkan, setiap hari Tuhan melakukan transfer sejumlah 86.400 ke dalam rekening kita masing-masing untuk bisa kita gunakan, semau kita. Kita boleh memakainya untuk keperluan apa saja. Bahkan, kita boleh juga tidak menggunakannya.

Dan setiap hari, digunakan atau tidak, Tuhan akan terus melakukan transfer itu, sampai akhir hayat kita.

Sebenarnya, kita tidak perlu membayangkan hal di atas. Setiap hari Tuhan memberikan sejumlah 86.400 ke dalam rekening pribadi kita. Sayangnya, rekening itu bukan rekening bank, tapi rekening waktu. Dan 86.400 itu bukan dalam satuan rupiah atau dollar, melainkan detik. Jadi, waktu senilai itu itu bukan untuk membeli barang.

Dalam hampir setiap kali tampil sebagai pembicara, saya sering menanyakan kepada para audiens, mana yang lebih penting, uang atau waktu?

Sebagian kecil menjawab, uang lebih penting. Tapi sebagian besar audiens tahu persis, bahwa waktu lebih penting dari uang. Mengapa?

Uang yang kita miliki, yang kita peroleh dengan susah payah, membanting tulang, memeras keringat, yang kemudian digunakan untuk belanja, atau hilang karena tercecer maupun diambil pencopet, masih mungkin kita cari dan dapatkan kembali. Bagaimana dengan waktu?

Mungkin karena setiap hari Tuhan berikan waktu itu kepada kita, akhirnya kita kurang peduli terhadap pentingnya waktu. Kehilangan uang, kehilangan handphone, lebih sering membuat kita sulit tidur. Tapi hampir tidak ada satu orang pun yang tidak bisa tidur karena kehilangan atau telah menyia-nyiakan waktu.

Padahal, sekali lagi, waktu jauh lebih penting daripada uang. Waktu, tidak bisa ditabung seperti uang. Jika waktu disia-siakan, ia akan menguap dan hilang. Kita tidak bisa menariknya kembali.

Dan penting untuk diingat. Cara setiap orang menggunakan waktunya, akan menjadikannya miliarder atau gelandangan. Mereka yang membelanjakan waktu dengan baik, akan mampu membeli apa saja yang ia mau. Tapi mereka yang menyia-nyiakan waktunya, tak akan pernah mampu membeli sesuatu, yang paling murah sekalipun.

(Sudah dimuat di Harian Semarang, rubrik Inspirasi, Sabtu 22 Januari 2011/wi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar