27 Juli 2011

Pembenaran

Saya punya seorang kawan yang unik. Sejak kecil ia bercita-cita jadi jenderal polisi. Betapa senangnya ia, ketika dibelikan seragam mirip polisi ketika masih duduk di bangku SD. Hampir setiap hari, pakaian itu dipakainya, sampai badannya terlalu besar untuk ukuran seragam itu.

Sampai lulus SMA, ia masih terus konsisten dengan cita-citanya. Ia pun mendaftar ke AKPOL. Beberapa tes bisa dilalui, sampai ia diundang ikut tes di 'markas' AKPOL di Semarang, Sayangnya, ia tidak diterima. Dan hal ini membuatnya berpikir ulang soal cita-citanya.

Sebenarnya ia masih punya kesempatan untuk mendaftar kembali di AKPOL tahun berikutnya. Tapi itu tidak dilakukannya. Baginya, penantian selama setahun sungguh merupakan waktu yang lama. Apalagi selama itu ia harus mengisinya dengan kegiatan mempersiapkan diri, baik dengan belajar maupun latihan fisik.

Ia pun memilih untuk mendaftar jadi anggota polisi di Secaba (Sekolah Calon Bintara). Beberapa tes berhasil dilalui, sekaligus menyisihkan ratusan pendaftar lainnya. Nasib belum berpihak padanya. Ia gagal melanjutkan proses seleksi menjadi siswa Sekolah Calon Bintara. Ia tersingkir di saat-saat terakhir.

Ia kembali dihadapkan oleh pilihan, menunggu pendaftaran menjadi bintara polisi tahun berikutnya, atau kembali menurunkan target. Dan ia memilih pilihan kedua. Alasannya masih sama. Satu tahun menunggu terlalu lama. Ia kembali menurunkan target, dan mendaftar ke Secatam (Sekolah Calon Tamtama).

Untuk ke sekian kalinya ia mengikuti bermacam-macam tes. Dan ternyata ujungnya sama. Ia ditolak. Dan ketika itulah ia menyadari bahwa ia tidak mungkin mengenakan seragam polisi secara resmi. Hingga saat ini, ia masih setia menjalani profesi sebagai petugas keamanan swasta.

Dalam kehidupan sehari-hari, saya berjumpa dengan banyak orang yang punya cita-cita tinggi. Sayangnya, berbagai kondisi-kondisi personal membuat mereka berhenti berusaha dan kemudian 'menyerah' pada keadaan. Mereka bercita-cita jadi pilot, tetapi mereka berhenti dan cukup puas menjadi sopir. Mereka bercita-cita jadi dokter, tetapi pasrah pada keadaan dan menjadi mantri.

Mohon maaf. Saya tidak hendak menyatakan bahwa satu profesi lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan profesi lainnya, walaupun persepsi itu tidak bisa dihindari sepenuhnya. Bung Karno menyatakan, gantungkan cita-citamu setinggi langit. Banyak orang melakukannya. Cita-citanya tinggi sekali. Sayangnya, kesulitan-kesulitan hidup, godaan dan hambatan yang dihadapinya, membuat mereka menyerah dan menurunkan cita-citanya, berulang-ulang.

Pada akhirnya, mereka menemukan dirinya hanya bertambah bilangan umur dan jumlah uban. Level kehidupannya tidak berubah. Hal ini, biasanya dimulai dari berbagai alasan yang dijadikan pembenaran. Padahal, seringkali terjadi, sekali saja kita memberi alasan pembenaran atas ketidak-berdayaan kita, akan ada banyak kesempatan untuk kembali mengulanginya.

Zainal Abidin
Ketua Tim Pendirian Akademi Kemandirian
Www.zainalabidin.net

(Sudah dimuat di Harian Semarang, Jumat 17 Juni 2011, rubrik Inspirasi/wi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar