27 Juli 2011

Kendaraan

Salah satu aktivitas keseharian yang selalu saya syukuri adalah kesempatan untuk berbagi dengan para kepala sekolah, guru dan juga siswa SMK, serta masyarakat umum. Aktivitas ini membawa saya berkeliling ke banyak tempat di tanah air. Dari Sabang sampai Merauke. Dari P. Miangas sampai P. Rote. He he ... Seperti kampanye SBY ya ...

Dalam penerbangan Vampire Flight (terbang sebelum matahari terbit) dari Kupang tujuan Jakarta via Surabaya, saya melihat peristiwa sederhana, yang maknanya cukup dalam. Beberapa ekor nyamuk, ikut dalam Vampire Flight itu. Mungkin juga binatang kecil lain seperti semut.

Beberapa penumpang merasa kurang nyaman dengan penumpang gelap ini. Tapi saya mencoba untuk mengambil pelajaran dari keberadaan para nyamuk dan juga semut di dalam pesawat.

Bila saja para semut dan nyamuk bisa selamat dari tepukan tangan penumpang, atau dari semprotan racun serangga, mereka bisa jalan-jalan sampai ke Surabaya dan bahkan Jakarta. Atau kembali ke Kupang di sore harinya.

Seekor nyamuk, dengan kemampuan terbang yang terbatas, ternyata bisa pelesir ke Surabaya, Jakarta dan kembali ke Kupang di hari yang sama! Semut, yang juga punya keterbatasan, juga bisa sampai ke tempat-tempat yang jauh. Syaratnya, ia harus memilih kendaraan yang tepat.

Begitu juga seharusnya manusia. Setiap orang punya kemampuan yang terbatas. Tetapi dengan memilih kendaraan yang tepat, ia bisa berkelana kemanapun ia suka. Itu dalam artian harfiahnya. Dengan berjalan kaki, ia bisa menempuh jarak 20 km/jam. Dengan sepeda, ia bisa menempuh jarak di atas 60 km/jam, tetapi dengan mobil, pesawat terbang, apalagi pesawat supersonik, ia bisa menempuh perjalanan jauh lebih cepat.

Paralel dengan perjalanan fisik, perjalanan karir pun demikian. Dalam hal ini, yang disebut sebagai 'kendaraan' adalah orang hebat yang mengenal kita, dan atau organisasi tempat kita bernaung.

Sejarah mencatat, banyak orang yang diangkat jadi menteri bukan karena kompetensi yang sangat luar biasa, tetapi karena kedekatan dengan pemimpin negara, atau aktivitasnya di partai tertentu. Analog dengan itu, kulit kambing bisa alami nasib berbeda karena salah memilih kawan. Berkawan dengan batang pohon, jadilah ia kulit beduk yang dipukul setiap masuk waktu shalat. Berkawan dengan kitab suci, ia jadi tas yang diberi parfum dan diciumi setiap waktu.

Pertanyaannya, siapa kawan anda, dan apa organisasi yang jadi kendaraan anda?

(Sudah dimuat di Harian Semarang, 5 Febriari 2011, Rubrik Inspirasi/wi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar