27 Juli 2011

Bejana Berhubungan

Ada data menarik, walaupun didapatkan dari survei kecil-kecilan. 80 - 90 persen kasus yang ditangani oleh Pengadilan adalah kasus perdata. 80 - 90 persen dari angka itu, ternyata adalah kasus gugatan perceraian.

Pengalaman seorang teman, menyebutkan bahwa ada kenaikan signifikan terhadap jumlah kasus perceraian yang ditangani dari tahun ke tahun. Dan buat saya, dari sisi perilaku manusia, hal ini menarik untuk dikaji.

Saya ingin mengkajinya dari sudut-pandang ilmu fisika. Lebih fokus lagi pada Hukum Bejana Berhubungan. Hukum ini menyebutkan, apabila sebuah bejana berhubungan diisi dengan zat cair yang sama, maka pada keadaan kesetimbangan permukaan zat cair dalam bejana berada dalam satu bidang datar. Pasangan suami istri dalam sebuah mahligai rumah tangga, adalah sebuah bejana berhubungan, yang harus terus-menerus menjaga kesetimbangan.

Ketika seorang laki-laki dan seorang perempuan memutuskan untuk menikah, mengarungi bahtera rumah tangga bersama, secara umum keduanya memulai kebersamaan dalam posisi yang setimbang hampir di semua hal, misalnya pendidikan, usia, tingkat pemikiran, dan sebagainya.

Sepanjang berjalannya waktu, perkembangan setiap individu mungkin berbeda. Misalnya, suami meniti karir sampai pada posisi cukup tinggi di kantor, mengikuti berbagai pelatihan di dalam dan luar negeri, bergaul dengan banyak orang berpendidikan tinggi tetapi istrinya masih tetap hanya mengurus rumah tangga, bergelimang asap dan minyak goreng, bergaul hanya dengan kalangan terbatas dan dididik oleh aneka sinetron televisi.

Atau sebaliknya. Saat ini, tak bisa dibantah, kesempatan berkarir di dunia profesional lebih besar pada kaum perempuan daripada laki-laki. Istri berkarir tinggi di kantor, berdiskusi dengan para profesional dari berbagai belahan dunia, dan memiliki puluhan atau bahkan ratusan anak buah. Di sisi lain, suami jadi korban Pemutusan Hubungan Kerja. Sudah melamar kemana-mana, tapi sulit dapat kerja kembali.

Kondisi yang seperti ini, memosisikan satu pihak berada di atas pihak lain. Kesetimbangan kehidupan rumah tangga terganggu. Suami berjas berdasi, istrinya hanya pakai daster lusuh. Atau sebaliknya. Istri berpakaian perlente, suami terkurung di rumah mengasuh anak-anak. Komunikasi antar keduanya nggak nyambung. Penampilan keduanya bagai bumi dan langit.

Level berpikir yang berbeda, membuat sumbatan-sumbatan komunikasi makin sering terjadi dan menyisakan kekesalan di kedua belah pihak. Pertengkaran akibat salah paham bisa jadi akan lebih sering terjadi. Jika tidak segera ditanggulangi, rumah tangga bisa berujung pada perceraian.

Bagaimana agar bahtera rumah tangga bisa terus melaju? Salah satunya adalah dengan tetap menjaga kesetimbangan di antara suami istri. Jangan biarkan pasangan anda berkembang sendirian! 

(Sudah dimuat di Harian Semarang, Rubrik Inspirasi, Sabtu, 12 Februari 2011/wi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar