27 Juli 2011

CERMIN

Hari ini jalan-jalan di Jakarta macet lumayan parah. Maklum, kondisinya ideal sekali. Jum'at sore, saatnya orang-orang pulang kantor, dikombinasi dengan hujan yang agak deras. Kendaraan roda empat berjalan bagai merayap.

Bahkan kendaraan roda dua pun jalannya agak tersendat. Mungkin karena pengemudinya ingin lebih berhati-hati, atau genangan air di beberapa tempat menghambatnya untuk lari lebih kencang. Belum lagi jika ada pohon tumbang atau ada mobil yang mogok di badan jalan,.

Pergerakan menjadi lebih lambat, bahkan nyaris berhenti ketika melintasi halte biskota atau pintu perlintasan kereta api. Dari jalur kanan, beberapa kendaraan umum seperti bus, angkot, taksi dan bahkan bajaj langsung memotong ke jalur kiri begitu ada celah. Bukan hanya berhenti sekedar untuk menaik-turunkan penumpang, tetapi berlama-lama mangkal menunggu penumpang naik

Acap kali angkutan umum itu berhenti dalam posisi yang melintang di jalan. Para sopir seakan ingin melaksanakan perintah pepatah, sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sambil menaikkan penumpang, mereka juga bisa menghalangi dan tidak dilewati angkutan umum lain. Sudah menaikkan penumpang pun, mobil masih berjalan perlahan, karena masih berharap masih ada penumpang yang mau naik.Tak heran, bunyi klakson bersahut-sahutan di sini.

Berbagai moda angkutan umum itu, saling berebut penumpang. Mereka saling potong jalur, menghambat pergerakan kendaraan lain dan berhenti semaunya sendiri. Nyaris seperti kawasan tanpa aturan. Tanpa ada satu pun petugas. Semrawut. Tak heran apabila ada lelucon, bahwa hanya ada dua pihak yang tahu persis kapan angkutan kota di Jakarta, berhenti. Yang pertama Tuhan dan yang kedua sopirnya sendiri.

Alasannya mungkin hanya satu : kejar setoran.

Hari ini, saya tersenyum. Melihat kesemrawutan lalu lintas di depan mata, saya seperti sedang melihat diri saya sendiri di dalam cermin.

Atas nama target, pribadi maupun perusahaan, seringkali saya harus berebut konsumen dengan orang lain. Bahkan kadang-kadang dengan kawan sendiri. Potong kompas, saling sikut, tawarkan harga lebih murah, melanggar aturan, mempersetankan etika, dan kalau perlu menjelek-jelekkan produk dan atau orang lain.

Apa bedanya dengan angkutan-angkutan umum tadi?

Sudah dimuat di Harian Semarang edisi Sabtu, 19 Februari 2011 rubrik Inspirasi.

Buat Opa Harmanto, terima kasih atas inspirasinya/wi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar