27 Juli 2011

WYSIWYG

Orang-orang yang dalam keseharian bekerja dengan komputer, sedikit-banyak pernah mendengar kata WYSIWYG. Secara awam, kata ini adalah akronim dari What You See Is What You Get. Apa yang terlihat (di layar monitor atau media input) adalah apa yang akan anda dapatkan (printer atau media output lainnya).

Sederhananya, kata ini menjelaskan suatu sistem di dalam teknologi pemrograman komputer, yang akan memberikan hasil (output) yang hampir sama persis dengan apa yang terlihat pada input. Sebagai contoh, apa yang kita atur pada program pengolah kata (tipe huruf, ukuran huruf, jarak spasi dan sebagainya), yang kemudian tampil di layar monitor, akan nyaris sama persis ketika kita mengubahnya dalam format cetakan di atas kertas.

Ternyata WYSIWYG tidak hanya berfungsi dalam bentuk huruf sederhana seperti dalam program pengolah kata. Bahkan dalam program grafis, WYSIWYG mampu berfungsi nyaris sempurna. Efek-efek titik dan garis, tebal-tipisnya serta kombinasi warna yang rumit, bisa ditampilkan hampir sama persis antara di layar monitor dan media output. Foto dan gambar bisa tampil sama indahnya.

Apa artinya? WYSIWYG menunjukkan sebuah pelajaran bagi kita soal konsistensi. Sebuah pelajaran yang sudah sama-sama kita tahu, tetapi sangat sulit untuk dilaksanakan.

Komputer adalah karya manusia yang sarat dengan nilai-nilai idealisme. Dan WYSIWYG adalah bagian dari idealisme itu. Sejak awal penemuan teknologi komputer, para teknolog berkeinginan untuk terus menyempurnakannya.

Pada awalnya, antara apa yang tampak di layar monitor dengan output dari printer, seringkali bias. Apa yang dihasilkan printer, seringkali tidak seindah warna aslinya. Lama-kelamaan penyimpangan output itu mampu diperkecil. Dan kini, sudah nyaris sempurna!

Bagaimana dengan konsistensi manusia, yang notabene adalah pencipta teknologi komputer? Ternyata menjaga konsistensi merupakan hal yang mudah diterapkan pada komputer, tetapi sulit diaplikasikan pada manusia. Selalu ada alasan untuk tidak konsisten.

Contoh sederhana. Kalau di antara kita ditanya, mana yang lebih penting, uang atau waktu? Jawabannya pasti waktu. Karena waktu yang tidak kita gunakan kemarin, tidak bisa kita simpan untuk digunakan hari ini. Tapi uang yang tidak kita gunakan kemarin, bisa kita simpan untuk kita gunakan saat ini, atau di masa depan.

Tapi seketika pendapat itu berbalik ketika ada pertanyaan seperti ini : apa yang paling mungkin membuat anda tidak bisa tidur, kehilangan waktu karena menyia-nyiakan hari kemarin, atau kehilangan dompet berisi uang? Aha. Jawabannya, kehilangan dompet. Setidaknya, itulah fakta yang saya temukan di berbagai tempat.

Dan itu contoh sederhana. Masih banyak contoh lain yang lebih 'nendang'. Dari kita yang cuma rakyat biasa, sampai pada para pemimpin kita yang berkantor di istana maupun gedung megah DPR. Betapa kita semua sulit konsisten. Satu kata dan perbuatan. Inilah yang memunculkan sekaligus semakin menguatkan integritas seseorang.

(Sudah dimuat di Harian Semarang, Sabtu, 7 Mei 2011, Rubrik Inspirasi/wi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar