27 Juli 2011

Manusia Arang, Manusia Intan

Mereka yang mendalami ilmu kimia, tahu persis bahwa karbon (dilambangkan dengan huruf C) memiliki dua bentuk allotrop, yaitu intan dan arang. Keduanya, memiliki struktur yang sama, tetapi konfigurasinya berbeda.

Pada arang, satu atom C berikatan dengan 3 atom C lainnya, membentuk ikatan yang rapuh. Berbeda dengan intan, dimana satu atom C membentuk ikatan yang rapi dan kuat bersama 4 atom C lainnya.

Perbedaan konfigurasi itu membawa konsekuensi pada sifat keduanya. Intan bertekstur padat, kuat, indah dan harganya mahal sekali. Arang sebaliknya. Teksturnya rapuh, mudah hancur, tidak menarik dan harganya murah.

Mengapa perbedaan yang saling bertolak-belakang itu bisa terjadi?

Arang, dibuat dalam proses yang relatif singkat. Cukup kumpulkan potongan-potongan kayu ataupun batok kelapa, kemudian dibakar di dalam sebuah tungku selama beberapa jam. Jadilah arang, yang dijual kiloan dengan harga murah.

Bagaimana dengan intan? Para ahli memperkirakan bahwa proses pembuatan intan sejak dari bahan dasar berupa sisa-sisa tanaman di zaman dahulu, membutuhkan waktu yang cukup lama. Minimal ratusan tahun. Bahan-bahan itu pun harus melalui proses pemanasan dan pendinginan yang berlangsung pada suhu ekstrim.

Dari dua sifat benda ini, saya sering menganalogikan manusia dengan intan dan arang. Manusia arang, adalah manusia cengeng, yang tidak tahan banting. Dapat hambatan atau kesulitan sedikit saja, diamengeluh dan menghindar. Baru mencoba satu dua kali, sudah menyerah. Bertemu dengan atasan yang agak galak, lantas mengorganisir kawan sekerja untuk demo mogok kerja. Suasana kerja tidak terlalu nyaman, minta berhenti dan pindah ke perusahaan lain. Pendeknya, nggak mau susah. Nggak mau masalah. Mau tahu hasil akhirnya? Mereka yang selalu menghindari kesulitan di masa mudanya, akan dihadapkan pada kesulitan yang semakin sulit dihindari ketika ia sudah tua.

Bagaimana dengan manusia intan? Inilah manusia yang mendidik dirinya dengan aneka kesulitan. Tidak mudah stres ketika berada di bawah cekaman. Tak pernah berhenti mencoba sebelum berhasil. Dia begitu yakin, aneka kesulitan dihadirkan Tuhan untuk menjadikan dirinya kuat, dan berharga 'mahal'. Ketika aneka kesulitan berhasil ia lewati, sisa hidupnya bisa digunakan untuk menikmati hasilnya.

So, anda mau jadi manusia arang, atau manusia intan?

(Sudah dimuat di Harian Semarang, Sabtu 9 April 2011, rubrik Inspirasi/wi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar