27 Juli 2011

F O K U S

Kawan saya seorang tukang daging di sebuah pasar tradisional. Kiosnya tidak terlalu besar, tetapi cukup ramai dikunjungi pembeli. Ia cukup ramah, dan konsumen cukup datang ke kios itu 3 - 4 kali, untuk dikenali. Setelah itu, kawan saya akan menyapa dengan sopan setiap kali si konsumen datang.

Salah satu konsumen yang agak unik, adalah seorang anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun. Setiap kali datang ke kiosnya, anak kecil ini sudah membawa keranjang yang penuh dengan aneka belanjaan.

Uniknya, anak kecil ini mampu memilih daging yang berkualitas. Ia mampu membedakan daging-daging yang cenderung alot dari daging yang empuk. Dan, ia serta-merta akan bergegas mengembalikan apabila daging yang alot lah yang diberikan kepadanya.

Siang itu, anak kecil yang dianggapnya cerdas dan tangkas datang ke kiosnya. Seperti biasa, ia membeli daging. Kawan saya menimbang daging dan memberikannya kepada si anak kecil, yang langsung membayar harganya.

Karena hari sudah siang, dan jumlah dagangan juga sudah tidak terlalu banyak lagi, kawan saya berniat untuk mengikuti si anak kecil yang cukup tangkas ini. Siapakah gerangan dia? Siapa orang tuanya? Dimana ia tinggal, dan sejumlah pertanyaan lain yang selama ini hanya tersimpan di kepalanya.

Kawan saya memerintahkan karyawannya untuk melanjutkan berdagang, dan ia pun bergegas mengikuti langkah anak kecil itu. Tidak terlalu dekat, tetapi dengan menjaga jarak. Tidak disangka, anak kecil itu ternyata harus naik angkot. Dan kawan saya dengan sigap mencoba mengikuti angkot itu dengan menumpang sebuah motor ojek.

Angkot pun berjalan. Setelah beberapa kali berhenti untuk mengambil atau menurunkan penumpang, si anak kecil ini pun turun dari angkot pertama. Ternyata ia menunggu angkot jurusan lain. Kawan saya yang semula minta stop kepada pengemudi ojek dan akan membayarnya, jadi mengurungkan niatnya. Ia meminta pengemudi ojek mengikuti angkot kedua yang ditumpangi anak kecil tadi.

Setelah berpindah 3 angkot berbeda, sampailah anak kecil ini di muka rumahnya. Ia berjalan ke arah pintu pagar, meletakkan seluruh barang-barang belanjaan dan memeriksa seluruh saku celana dan bajunya. Sepertinya, ia sedang mencari sesuatu.

Setelah agak lama dan yang dicari tidak ditemukan, ia pun mengetuk pintu pagar berkali-kali. Kemudian, keluarlah seorang perempuan setengah tua dengan wajah agak marah. Ia membawa sekumpulan kunci, dan membuka pintu pagar.

Begitu pintu pagar terbuka, anak kecil langsung masuk. Pintu pagar kembali ditutup, dan perempuan setengah tua itu pun bicara dengan suara agak keras, seperti sedang menumpahkan amarah.

'Ini kali ketiga kamu lupa membawa kunci pagar!"

Kita yang mengikuti kisah di atas sejak awal pasti akan menyalahkan tindakan perempuan setengah tua yang menghardik si anak kecil. Dengan segala kepandaian dan kemampuannya, ia melakukan tugas-tugas yang seharusnya tidak dia kerjakan. Tapi semua tugas yang sudah begitu baik ia lakukan, melalui perjalanan panjang dari satu angkot ke angkot lain, sama sekali tidak ada penghargaannya. Hanya karena satu sebab, lupa bawa kunci.

Tapi mari kita berkaca. Betapa seringnya kita berbuat tidak adil kepada orang lain, baik kepada anak, istri, suami atau karyawan, seperti perempuan setengah tua di atas memperlakukan anak kecil. Jasa-jasanya tidak terlalu kita perhatikan. Curahan tenaganya kita abaikan. Jerih-payahnya tidak kita hargai. Dan kita hanya fokus pada kesalahannya saja!

Zainal Abidin
Ketua tim Pendirian Akademi Kemandirian
www.zainalabidin.net

Sudah dimuat di Harian Semarang, Rubrik Inspirasi, Jum'at, 3 Juni 2011/ wi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar